
Duak...
"Eh kamu dengar gak, Na?" tanya Zayn sambil menoleh kearah lantai dua.
"Dengar apa? Perasaan kamu aja kalik." Audrina berusaha mengalihkan pembicaraan, sambil terus memakan pasta di depannya. Aoi pasti sedang melakukan sesuatu di kamarnya, mungkin saja dia sedang kesal karena ditinggal sendirian oleh Audrina begitu saja.
Zayn tampak mengerutkan alisnya penasaran namun ia berusaha berpikiran positif. Mungkin saja dia salah dengar atau semacamnya. Tanganya terus bergerak memutarkan pasta lalu melahapnya dan sesekali ia melirik ke arah Audrina yang tampak sangat menikmati masakannya.
Raut muka bangga akan masakannya itu terlihat jelas diwajah Zayn saat ini. Untuk kesekian kalinya, Audrina selalu menyukai masakan Zayn. Walaupun masakannya tidak terlalu mewah, namun rempah-rempahnya begitu terasa membuat siapa saja yang makan pasti akan suka. Apalagi disantap saat lagi panas-panasnya, nikmatnya tiada duanya.
"Mau tambah lagi, Na?" tanya Zayn saat melihat piring Audrina sudah hampir kosong.
Audrina mengangguk mantap, "mau lagi dong." Sahutnya antusias karena masakan yang Zayn buat itu benar-benar sesuai seleranya. Pasti ia akan nambah terus sampai perutnya tidak muat lagi. Prinsip Audrina, makanan yang lezat seperti ini sangat tidak boleh di sia-siakan, walau perut hampir meledak sekalipun.
Melihat respon Audrina yanh seperti itu, tentu saja Zayn dengan senang hati mengambilkan makanan yang sengaja ia buat lebih karena tau Audrina akan meminta lebih. Antisipasinya tidak sia-sia, Zayn patut diacungi jempol. Dengan cekatan Zayn mulai mengambil pasta dan meletakkannya diatas piring Audrina dengan elegan.
Audrina melihat Zayn yang sedang mengambilkan makanan untuknya, wajah antusiasnya memang tidak bisa disembunyikan. Sudut bibir manisnya senantiasa terangkat menggambarkan kegembiraan menunggu santapan untuk kedua kalinya.
"Saosnya yang banyak, Zayn." Timpal Audrina mengingatkan Zayn.
"Iyaa, siap bos." Sahut Zayn dengan tawa kecilnya yang khas hingga matanya menyipit dan berhasil pula menampilkan gigi atasnya.
Zayn memberikan kembali piring Audrina yang langsung diterima dengan senang hati. Tentu saja pemandangan itu membuat Zayn senang bukan main, melihat Audrina tersenyum karena dirinya dan makanannya.
Audrina makan dengan lahap sekali, sampai lupa kalau tadi ia sedang sakit. Mungkin masakan Zayn emang seenak itu ditambah lagi ia memang belum makan apapun selain bubur yang disuguhkan Zayn pagi tadi.
Duakk...
Lagi-lagi suara aneh itu kembali terdengar ditelinga Zayn. Sorot matanya kembali menoleh kearah tangga menyelinapkan rasa bingungnya. Selain itu, rasa penasaran yang semakin dalam pun mulai merasukinya, ia merasa harus mengecek lantai atas takutnya ada hewan pengerat yang masuk. Zayn kembali melirik ke arah Audrina yang masih asik makan. Tidak ingin menganggu Audrina, ia akhirnya berjalan perlahan kearah tangga.
Duakk...
Suara aneh itu semakin kuat seiring dengan semakin dekatnya Zayn ke arah tangga hingga langkahnya terhenti di depan tangga. Rasa penasaran kian mengangti menjadi perasaan ragu yang mulai muncul menyentuh benak Zayn. Keyakinan bahwa itu adalah hewan pengerat semakin sirna. Zayn menelan salivanya.
"Zayn?" Panggil Audrina sambil mencari keberadaan Zayn yang menghilang begitu saja dari dapur. Ia terlalu fokus makan sampai tidak melihat kepergian Zayn dari sana.
"I-iya?" Baru saja Zayn menginjakkan satu kakinya di anak tangga pertama, langkahnya lantas terhenti karena panggilan Audrina.
Audrina mendatangi arah suara Zayn, "kamu mau kemana?" Audrina menyipitkan matanya menandakan netra yang penuh selidik.
"Ah.." Zayn menunjukkan senyumnya, berusaha bersikap biasa saja. "A-aku mau ke ruang lukis, iyaa.. Ruang lukis." Sambungnya sambil memegang leher belakangnya salah tingkah.
__ADS_1
Audrina mangut-mangut. "Kita beresin dulu, nanti aku temenin ke sana ya." Imbuh Audrina sambil menarik tangan Zayn membawanya kembali menuju dapur.
Huft, aku kira udah ketemu Aoi tadi. Batin Audrina sedikit lega.
Setelah selesai mencuci piring dan membersihkan meja makan, Audrina dan Zayn meutuskan untuk naik ke lantai dua menuju ke ruangan kerja tempat Audrina melukis atau biasa disebut dengan Ruang lukis oleh mereka. Ruang kerja yang khusus dibuat oleh ayahnya agar Audrina bisa berkarya dan menuangkan semua ide - ide kreatifnya dengan leluasa disana.
Dinding ruangan itu penuh dengan canvas yang tercoret oleh tangan gemulai Audrina yang berbakat. Sudah lama Zayn tidak melihat ruang kerja Audrina ini, terakhir kali mungkin sebelum ia pindah bersama orang tuanya ke kota lain.
Zayn mendekati satu lukisan yang menarik perhatiannya sejak tadi. Itu adalah lukisan Villa daisy, tempat mereka berpijak saat ini. Ia heran, kenapa lukisan ini masih tersandar di easel dan bukan di dinding. Bukankah lukisan ini sudah selesai?
"Audrina, kenapa lukisan ini masih di easel ? Bukankah sudah selesai?" Tanya Zayn yang penasaran. Dari pengalaman yang ia ketahui selama mengenal Audrina, ia tidak pernah meletakkan lukisan yang sudah selesai di easel. Sedangkan menurut penglihatan Zayn, lukisan Villa ini seharusnya sudah selesai.
Audrina menghela napasnya pelan ketika mendengar ucapan Zayn yang berpikiran sama dengam dirinya. Jika dilihat sekilas oleh orang awam, siapapun pasti mengatakan hal yang sama seperti Zayn saat ini. Namun, lukisan itulah yang membawa Audrina ke Villa ini.
Menurut professornya, lukisan ini belum sempurna seutuhnya dan harus diberikan sentuhan akhir yang melengkapi detail kuncinya. Mendengar itu pula, Audrina merasa ia memang harus banyak belajar lagi tentang sentuhan akhir dari sebuah hasil lukisan seni agar menghasilkan karya yang menakjubkan nantinya.
"Masih ada yang kurang, begitu sih kata professor." Tukas Audrina pelan.
Zayn menatap Audrina bingung, "benarkah? Apa yang kurang?" sorot mata penasaran kembali terpancar dari netra hitamnya, berusaha meniti setiap detail di lukisan itu.
"Entahlah. Aku juga lagi mencari hal penting yang hilang disana. Tapi pikiran dan ideku sepertinya belum terbuka." Sambung Audrina sambil mengelus pelan lukisan itu.
"Hmm, begitu ya."
Duakk..
Zayn menoleh kearah Audrina lagi, "aku tidak akan percaya kalau kamu sampai bilang tidak mendengar suara itu, Audrina. Suara itu terlalu jelas untuk dielak dari pendengaran," kekeh Zayn sambil menatap Audrina penuh rasa penasaran.
Audrina menghela napasnya kasar. Ia tidak bisa mengelak lagi kali ini. Aoi benar-benar membuat Audrina harus berpikir keras untuk memberikan alasan bagus kepada Zayn yang sangat penasaran.
"Biar aku cek." Zayn berjalan mendekati pintu berniat untuk mengecek suara itu, namun dengan langkah gontai dicegat oleh Audrina.
"Aku saja!" Audrina menawarkan diri dengan cepat berusaha menghentikan Zayn yang sudah sangat penasaran itu.
Zayn memandang Audrina dengan curiga, "apa ada yang kamu sembunyikan dari aku, Na?" tanya Zayn penuh selidik melihat gelagat Audrina yang aneh.
Audrina tercekat, ia menelan salivanya gugup. Zayn sepertinya sudah curiga padanya dan ia harus melakukan sesuatu untuk membuat Zayn tidak bertemu dengan Aoi.
Wajah kesal Zayn semakin jelas saat Audrina bukannya menjawab pertanyaannya malah diam saja seperti orang kebingungan. Ada sesuatu yang disembunyikan Audrina dirumah ini, pikirnya.
Duak...
__ADS_1
"Audrina!" panggil Zayn lagi sedikit kesal.
"O-oke oke!" Audrina pasrah. Ia tidak bisa berbohong apalagi menutupi sesuatu seperti ini. Menurutnya itu adalah hal yang sangat sulit dilakulan, ia sempat heran dengan orang-orang yang secara santai bisa berbohong kepada orang lain. Mereka bisa berdalih dan membuat siapapun percaya padanya.
Zayn masih menunggu jawaban Audrina yang masih berdiri sambil sesekali mengigit bibirnya. Terlihat sekali wajah gugup dan ketakutan dari ekspresi wajah Audrina. Zayn mengusap pelan wajahnya lalu mendekati Audrina berusaha menenangkannya.
Zayn memegang kedua pundak Audrina, "hei, jangan takut. Aku tidak akan memberitahu siapa-siapa asalkan kamu jujur sama aku." Suara lembut Zayn itu sedikit membuat Audrina merasa tenang walaupun ia sebenarnya masih ada keraguan disana.
"Zayn, sepertinya kamu tidak perlu tau." Ucap Audrina berusaha menghentikan rasa penasaran Zayn yang ia tau sebenarnya sia-sia saja. Zayn tidak akan menyerah sebelum mengetahui kebenarannya.
"Kenapa?" Zayn tampak tidak terima dengan perkataan Audrina barusan.
Audrina menundukkan kepalanya. "Aku takut kamu juga dalam bahaya."
"Apa maksud kamu dengan 'juga' dalam bahaya? Apa kamu dalam bahaya?" Nada panik mulai terdengar dari suara Zayn.
Audrina mengigit bibirnya lagi, ia sepertinya salah bicara. Bukan membuat Zayn percaya malah menambah rasa khawatir pada dirinya. Audrina mengutuk dirinya yang merasa sangat tidak bisa diandalkan itu.
"Audrina, kamu gak percaya sama aku?" Kali ini suara Zayn terdengar lirih. Audrina menaikkan kepalanya dan menatap Zayn yang terlihat memelas, perasaan tidak tega muncul didalam dirinya.
Audrina menghela napasnya pelan ia sudah kalah telak dari Zayn. "Promise me, kamu gak bakal cerita ke siapapun itu! Terutama papa."
Zayn yang mendengar kalimat kepercayaan yang akhirnya muncul dari Audrina itu dengan yakin dan mantap mengangguk setuju. "Janji!"
"Baiklah, kamu ikut aku. Tapi jangan teriak, okey." Peringat Audrina kepada Zayn. Zayn mengangguk paham dan mengikuti Audrina yang memimpin didepannya.
Duakk...
Suara itu kembali terdengar semakin keras seiring dengan mendekatnya mereka berdua dari kamar Audrina. Audrina memegang gagang pintu kamarnya dan setelah menghembuskan napasnya perlahan ia membuka pintu kamarnya.
Duakk...
Terlihat Aoi yang sedang duduk dikursi belajar Audrina. Ia dengan sengaja melempar buku-buku yang ada dimeja belajar satu per satu ke lantai dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menompang dagunya diatas meja.
"Aoi, apa yang kamu lakukan?" tanya Audrina saat melihat buku-buku dilantai yang sudah berserakan karena ulah Aoi.
"Oh, ada ándras baru disini." Aoi tersenyum licik sambil menggoda Zayn dengan menampakkan taringnya yang membuat Zayn merinding ngeri.
Zayn tampak mematung tidak bisa berkata-kata. Darahnya berdesir dengan kencang dan tubuhnya seakan menolak untu bergerak melihat sosok Aoi yang memiliki rupa yang berbeda dari manusia pada umumnya.
Gigi taring, kuku tajam, tangan berselaput, sisik yang berada disekujur tubuhnya, mata hijau yang melihatnya dengan tajam, telinga runcingnya dan yang paling menonjol adalah sisik dipunggung Aoi yang terlihat menegang seperti ingin menusuknya.
__ADS_1
Zayn tidak tau harus bereaksi seperti apa saat ini.
...-----...