Love In Siren

Love In Siren
Harapan?


__ADS_3

"Mayday.. Mayday.. 0AS-Ship 5389 need help here ! "


Tio terus menerus berteriak dari balik alat komunikasi radio yang dipegangnya seraya menyetel sinyal channel radio agar dapat menangkap sinyal channel radio lain, baik itu dari pelabuhan ataupun kapal yang berada disekitarnya. Namun, karena lokasi mereka yang masih terlalu jauh dari tower trasmitter terdekat, frekuensi gelombang sinyal yang mereka kirim ke channel radio terdekat masih sering ke halau oleh kuatnya angin laut.


Hingga harapannya mulai kembali melejit saat mendengar ada sinyal radio yang berhasil menangkap sinyal SOS darinya.


"Halo? Apakah kalian mendengar kami?" tanya Tio lagi tanpa rasa putus asa.


Kkkk....kkkkkk....


Suara gelombang frekuensi radio putus-putus terdengar dari radio si penerima, sampai akhirnya sinyal mereka pun terpaut dan berhasil berkomunikasi satu sama lain. Gelombang suara yang dihasilkan radio penerima terdengar berdengung seperti segerombolan lebah, tapi yang paling penting ada yang mendengarnya. Tentu saja, harapan Tio untuk menyelamatkan diri beserta awak kapalnya bertambah.


Tutttt..tuttttt...


"H..halo? O..OAS-Ship 5389?"


Tio tersenyum lebar, "ya! OAS-Ship 5389 disini!" jawab Tio dengan cepat dengan suara baritonnya yang bergema.


"Dimana lokasi kalian, OAS-Ship 5389? Ganti," lempar suara itu kepada Tio yang langsung dibalasnya dengan cepat.


"North Atlantik Ocean, koordinat 32.132007,-42.496511," tukas Tio singkat, untuk mempermudah pencarian kapal mereka, "apakah sudah jelas? Kami sedang butuh bantuan darurat karena serangan makhluk mematikan. Ganti," lanjutnya lagi.


Tio mengernyitkan dahinya bingung saat tidak kunjung mendengar jawaban terakhir dari si penerima sinyal. Hanya ada suara tidak jelas seperti siaran televisi rusak dengan bunyi 'pip' dan 'tut' yang tiada henti-hentinya.


"Halo!" Tio kembali mendekatkan gagang radio ke mulutnya.


"Halo! OAS-Ship 5389 lokasi North Atlantik Ocean, koordinat 32.132007,-42.496511, sinyal SOS! Did you copy that ?" ulang Tio lagi.


Ctakk....


Dengan perasaan emosi yang memuncak, Tio membanting gagang radio. Situasi yang benar-benar tidak menyenangkan kembali terjadi. Secercah harapan yang tadinya muncul telah lenyap kembali, bagai buih yang disapu ombak.


Harapannya untuk meminta bantuan orang lain kini telah sirna, satu-satu cara mereka bertahan hidup adalah dengan mengandalkan diri mereka sendiri. Mereka juga harus memikirkan cara untuk meghadapi makhluk mitologi yang paling dihindari oleh para pelut, siren merah.

__ADS_1


Tio masih diam di tempat, sampai lamunannya di kecohkan oleh tepukan pelan Daniel di bahunya menunjukan dengan jelas raut wajahnya yang menegang ketakutan. Tio memandang raut wajah temaram yang panik sekaligus gelisah itu, sepertinya baru terjadi sesuatu yang buruk terhadap anak itu.


"Ada apa, Daniel? Kau terlihat lebih pucat dari sebelumnya," suara khas bariton Tio terdengar menyentuh rungu Daniel yang kelu.


"Um, itu Jacob.." lidahnya yang kelu pertanda motoriknya seakan tidak bekerja dengan baik saat ini.


Sorot mata bertanya seakan terpancar dari netra kehitaman Tio yang tegas, menandakan ia sedang bingung dengan ucapan Daniel yang tidak tuntas itu. Raganya bergerak mendekati tubuh Daniel yang lebih mungil dari Tio yang semapai dan tegap membuatnya harus menunduk untuk melihat sorot mata Daniel yang hampir kosong.


"Katakanlah dengan benar, Daniel," pungkas Tio tegas membangkitkan kesadaran anak buahnya itu agar lebih fokus, apalagi dalam penyampaian laporan seperti sekarang ini.


Daniel menelan salivanya, "J-Jacob berhasil menangkap salah satu dari siren itu, sir," ucapnya kemudian.


"Benarkah?"


Daniel mengangguk mengiyakan, tidak ada sorot kebohongan dimata dan posturnya yang kaku. Itu merupakan hal baik yang terjadi hari ini dan sebuah kesempatan baik untuk mereka dalam mencoba mencari tahu keinginan siren-siren itu. Namun, bukankah itu salah satu pencapaian yang bagus? Mengapa Daniel seakan ketakutan? Apa ada hal yang menganggunya?


"Bukankah itu hal yang bagus? Lantas apa yang membuatmu begitu takut?" tanya Tio penasaran.


"Kau takut dengan siren itu? Apakah dia sebegitu menakutkan dimata mu?" selidik Tio lagi, seakan tau ketakutan dari sorot mata Daniel.


Daniel terdiam sejenak, "um, sebenarnya aku hanya terkejut saat melihat makhluk seburuk rupa itu, sir. Begitu mengerikan sekaligus menjijikan diwaktu yang bersamaan," jujurnya.


Seperti teringat dengan apa yang tersimpan di memori kepalanya, Daniel kembali bergidik dan merinding seketika saat bayangan wajah siren itu kembali muncul. Kilas balik yang sangat ia hindari untuk kembali muncul diingatannya itu membuatnya hampir mengeluarkan isi perutnya berkali-kali. Ia mual hanya dengan mengingat pemandangan itu.


Ternyata seburuk itu wujud makhluk mematikan itu.


Seakan teringat dengan waktu mudanya dulu, ia menepuk pelan bahu Daniel lalu berjalan mendahuluinya. Terlihat sedikit seringaian tipis dari mulut Tio, ia sepertinya sudah tidak heran dengan respon yang ditunjukkan Daniel. Menurutnya, itu adalah ekspresi wajar saat pertama kali melihat langsung sosok siren mematikan itu.


"Dimana mereka?" tanya Tio saat sudah berada di lorong kapal.


"Ruangan dek R, sir."


Tio menghentikan langkahnya begitu pula dengan Daniel yang berada di belakangnya, "apa yang siren itu lakulan di dek R?"

__ADS_1


"Siren itu sepertinya berupaya mematikan listrik utama, sir."


Ruang dek R adalah jantungnya kapal yang sangat sensitif dan daerah paling di jaga oleh para awak kapal. Mengingat pusat energi dan arus listrik yang dialirkan untuk menjalankan kapal serta alat paling penting untuk keberlangsungam hidup para awak kapal berasal dari sana.


Licik juga mereka, batin Tio.


"Ayo kita segera ke sana!" tegas Tio seraya memanjangkan kakinya menuju dek R.


Sesampainya di dek R, suasana yang terlihat sungguh sangat kacau. Siren yang berhasil ditangkap memang sudah di rantai namun keagresifan insting buasnya tidak bisa dipungkiri. Para awak kapal yang jumlahnya lebih banyak sampai kewalahan menangani siren yang sudah dirantai ini.


Siren itu benar-benar tidak takut apapun saat ini. Desisan ganas terus menerus tercurahkan dari mulutnya dengan taring yang semakin tajam bersamaan dengan iris merahnya yang melebar tanda ia siap menyerang.


"Awas cakarnya, Arnold!" teriak Roni panik saat melihat cakar siren itu mulai berusaha meraih wajah Arnold yang sedang menggembok rantai yang diikat di tangan dan tubuh siren itu.


"Hisssss......" desis siren itu mengancam, "Ase me na fýgo! adýnamo anthrópino themélio," (Lepaskan aku! Dasar manusia lemah) teriak siren itu.


Sebab ruangan dek R yang cukup kecil, suaranya sampai memantul menusuk rungu mereka yang mendengarnya. Suara dengingan mulai menjalar di gendang telinga mereka, terasa sangat menyakitkan hingga menjalar melaui saraf menuju otak.


Oktaf suara siren ini bisa menulikan pendengaran seketika jika tidak berhati-hati. Bisa-bisa mereka yamg berada di kapal kehilangan fungsi pendengaran mereka secara bersamaan.


"Ase me na fýgo! " (lepaskan aku!)


Jhonson menutup kedua telinganya, "dia ngomong apa?" serunya agak berteriak karena halauan tangannya yang membuat pita suaranya meninggi.


"Mana ku tau," jawab Jacob juga dengan tangannya yang menutup telinga.


Tidak ada yang mengerti dengan bahasa yang diucapkan siren itu. Walaupun sudah meraung-raung, mereka hanya melihat siren itu bergerak menggeliat berusaha melepaskan diri.


Sampai akhirnya perhatian mereka semua, termasuk siren itu dan tertuju kepada satu suara yang berasal dari ambang pintu.


"Skáse! Eísai polý thoryvódes plásma! " (Diamlah! Kau sangat berisik!) titah suara itu membuat siren itu seketika terdiam memincing nanar menyoroti pemilik suara itu.


...-----...

__ADS_1


__ADS_2