Love In Siren

Love In Siren
Persiapan Kembali ke Daratan


__ADS_3

Audrina dan Zayn sedikit terkejut saat tiba-tiba saja Aoi dan Thania masuk ke ruangan tempat mereka berdua ditinggal tadi. Mungkin karena terlalu asik berbincang dan juga belum terbiasa dengan suasana bawah air yang masih asing menurut mereka. Desiran air dan hempasan gelembung halus yang diciptakan oleh sapuan tipis ekor mereka masih terdengar samar bahkan tidak terdeteksi sama sekali di runggu Audrina dan Zayn yang terbiasa mendengar hentakan kaki ditanah.


"Kenapa kalian begitu terkejut?" tanya Thania disertai kekehan kecil yang melihat tingkah kedua manusia setengah siren itu.


Zayn memegang dadanya yang berdegup, "kalian datang tiba-tiba. Siapa yang tidak terkejut coba?" ucapnya jemu sembari menautkan alisnya.


"Lebih seram kami apa hantu?" celetuk Aoi tiba-tiba.


"Karena aku belum pernah lihat hantu untuk saat ini kalian yang paling seram sih, " jawab Zayn santai.


Audrina tertawa pelan mendengar jawaban Zayn yang seketika membuat Aoi mendelik kesal. Merasa tidak terima dibilang lebih seram daripada hantu, karena dari yang pernah didengarnya hantu kaum manusia itu sangat jelek dan menyeramkam. Bahkan dari mereka banyak yang pendendam, tentu saja Aoi sedikit tersinggung dengan ungkapan Zayn padahal dirinya sendiri yang memancing.


Aoi berbalik mengibaskan rambutnya tepat dihadapan Zayn hingga mengenai wajahnya. Sambaran rambut Aoi yang tiba-tiba itu membuat Zayn reflek memejamkan matanya sambil menyapu wajahnya dengan tangannya risih.


"Aoi! Apa yang kamu lakukan? Kurang ajar!" umpat Zayn kesal mendapati hempasan rambut panjang Aoi itu.


"Rasain," ejek Aoi sambil tertawa keras sekali.


Tawanya yang menggelegar menggambarkan rasa puas atas tindakannya terhadap Zayn, ditambah lagi respon Zayn yang membuat Aoi tambah puas. Kedua makhluk ini jika sudah bertemu, pasti akan selalu mengusili satu sama lain.


Tidak ada habisnya.


Thania dan Audrina hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua. Terkadang tingkah konyol mereka membuat Thania dan Audrina juga tertawa hingga perut mereka sakit. Hiburan tersendiri walau kadang banyak ngeselinnya.


"Untung saja rambutku masih pendek, kalau panjang udah aku bales! Kali ini kamu beruntung Aoi," geram Zayn.


Aoi hanya menunjukkan seringaiannya dengan menampilkan sedikit taringnya namun tidak terlihat oleh netra Zayn karena saat itu raga Aoi berbalik membelakanginya. Aoi berhadapan langsung dengan Audrina yang masih cekikikan melihat tingkah mereka.


Thania yang semula berada dibelakang Audrina kini beralih mendekati Zayn yang masih tersengut kesal. Wajahnya yang mengkerut membuat mimiknya tampak sangat menggemaskan menurut Thania.

__ADS_1


"Sepertinya ekspresi cemberut sangat cocok untuk wajahmu, Zayn." Goda Thania yang mendapati tatapan kesal dari Zayn pula.


Zayn berdecak, "kamu juga ikut-ikutan menggodaku Thania? Padahal biasanya kamu berada dipihakku," keluhnya.


Thania tertawa pelan, "aku sejak awal tidak mendukung siapapun. Aku tim netral," sahut Thania memperlihatkan tawa manis dengan taringnya yang terpampang jelas.


Zayn lagi-lagi hanya bisa mendengus kesal. Sepertinya ia sangat mudah digoda oleh siapapun, karena responnya sangat menjiwai sekali. Maksudnya, responnya tidak pernah mengecewakan. Selalu saja membuat orang disekitarnya terhibur.


Setelah berkutat lama diruangan itu, akhirnya Aoi mulai memberikan perintah kepada mereka bertiga mengigat saat ini pemimpin strategi kedua adalah dirinya yang ditunjuk langsung oleh Amber dan dipercaya oleh Vivian beserta sesepuh lain. Seharusnya Vivian juga masuk kedalam kelompok kecil ini, tetapi peran yang dipikulnya membuatnya harus batal menjadi salah satu diantara mereka.


Tugas Vivian bahkan jauh lebih berat atau bisa dikatakan sebanding dengan tugas Aoi dan Thania saat ini. Namun, dilihat dari sudut manapun semua tugas mereka tidak ada yang main-main. Semuanya mempertaruhkan nyawa individu maupun kelompok.


Sebelum masuk ke rencana mereka, Aoi dan Thania terlebih dahulu kembali ke kediaman mereka masing-masing untuk mengambil semua keperluan dan perlengkapan mereka selama di darat. Selain itu, mereka juga berpamitan kepada setiap sesepuh yang memberikan mereka bekal pengetahuan dan benda penting yang mungkin dibutuhkan nanti. Seperti senjata, bola kristal, buku turunan, beberapa serbuk bunga langka dan masih banyak lagi.


Sampai tiba ditempat terakhir yaitu kediaman Aziel. Aoi dan Thania sengaja singgah kesana paling akhir karena harus mengambil dan menyediakan beberapa barang ritual untuk pembelajaran buku Wilona yang akan diturunkan kepada Audrina dan Zayn selaku dariás.


"Jangan lupa ambil stok bunga Middlemist Camelia dan Chocolate Cosmos di gudang penyimpananku. Kamu tau kan dimana, Thania?" tanya Aziel yang diberi anggukan oleh Thania. Bersamaan dengan kibasan ekor yang membawanya menuju gudang penyimpanan dibelakang rak buku yang berjajar.



Setelah selesai menata toples dan isiannya dengan rapi, Aoi memindahkan tatakan itu ke ujung ruangan agar memudahkan Aziel untuk bergerak. Thania terlihat sudah kembali dari gudang penyimpanan dengan membawa setoples bunga Middlemist Camilia dan Chocolate Cosmos yang sangat langka.


Kedua bunga itu adalah bukti perjalan Aziel yang tidak main-main. Saksi bisu jatuh bangun petualangan Aziel untuk mendapat koleksi terpenting dari ritual Wilona ini membuatnya hampir kehilangan nyawa karena harus menahan diri lebih dari 16 jam tanpa terkena air sedikitpun. Kalau siren biasa, mereka pasti akan mati mengering saat 8 jam pertama tanpa air.


"Ini bunganya Aziel, aku letakkan dimana?" tanya Thania sambil mengangkat kedua toples ditangannya.


Aziel menunjuk kearah tatakan toples disebelah Aoi, "letakkan saja diatas tatakan itu, agar tidak kececer."


Thania mengangguk, "apa masih ada lagi yang harus dipersiapkan?" tanya Thania sambil merapihkan toples diatas tatakan.

__ADS_1


Aziel tampak berpikir, "jangan lupa minta minyak kasturi Alana yang bewarna jingga itu."


"Sudah aku ambil tadi," celetuk Aoi sambil menunjukkan botol kaca kecil yang ia kalungkan dilehernya dan satunya dileher Thania.


"Kalau begitu berarti sudah lengkap. Kalian bisa segera bersiap-siap untuk pergi. Masih ada 24 jam lagi sebelum siren merah sampai di danau," ucap Aziel dengan sorot mata serius.


Aoi dan Thania yang mengerti dengan cepat pamit undur diri dari kediaman Aziel dengan membawa barang penting itu dengan hati-hati. Mereka membawa semua tatakan di kedua tangan mereka tanpa kesulitan sedikitpun. Sepertinya tumpukan tatakan yang mereka bawa itu tidak ada apa-apanya bagi mereka.


Audrina dan Zayn sudah bersiap saat Aoi dan Thania datang dengan banyak barang itu. Tetapi, mengingat perbedaan fisik yang sangat signifikan tentu saja mereka tidak membebankan kepada kedua dariás itu. Mereka langsung meletakkan tumpukan barang itu disebelah mereka sembari mereka menangkup tubuh mereka untuk menaiki punggung mereka yang penuh sirip itu.


"Kita mau kemana?" tanya Audrina saat melihat gerak-gerik Aoi yang menariknya untuk menaiki tubuhnya.


Aoi tersenyum, "kita akan kembali ke Villa."


"Villa daisy ?" ulang Audrina memastikan.


Aoi mengangguk, "iya, Villa kamu. Kita akan kembali dan kami juga akan menetap disana dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan."


"Kenapa?" kali ini Zayn yang bertanya dengan penasaran.


Aoi menghela napas pelan, "untuk saat ini aku hanya akan mengatakan itu. Selebihnya akan aku jelaskan di Villa," jawab Aoi.


"Baiklah," sahut Audrina dan Zayn bersamaan.


"Sirip ini bisa membunuh kalian dalam sekejap, jadi berhati-hatilah saat menempel disana."


Audrina dan Zayn yang mendengar peringatan Aoi tampak was-was saat menaiki punggung mereka berdua. Ada rasa ngeri sekaligus takut mati tertusuk sirip yang mencuat keluar saat mereka bergerak sedikit saja.


"Semoga aku masih hidup saat sampai di daratan," gumam Audrina pelan, kegugupannya terlihat jelas terukir diwajahnya.

__ADS_1


Saatnya mereka kembali ke Villa. Semoga mereka selamat sampai tujuan.


...-----...


__ADS_2