Love In Siren

Love In Siren
Nightashade Gloria


__ADS_3

Kókkino paláti adalah sebuah istana merah di dasar laut tenggara tempat para siren merah hidup dan berkembang biak, bisa disebut sebagi lembar siren merah. Tempat itu berada di tengah laut yang hampir tidak pernah dilewati kapal manusia, mengingat mitos yang sering beredar tentang binatang pemakan daging manusia.


Selain itu, ombak dan cuaca yang selalu buruk disana membuat kapal berpikir dua kali untuk melewati jalur diatas laut tenggara itu.


Terdengar suara gemuruh dan hembusan angin yang sangat dahsyat. Bahkan hempasan ombaknya bisa membalikkan kapal yang beratnya sampai berton-ton.


Didalam lautan yang gelap itu, terdengar suara jeritan nyaring menakutkan yang sangat memekakkan telinga. Suara itu seakan bersautan-sautan antara satu sama lain. Suara-suara itu seperti menunjukkam kemarahan dan kekecewaan yang sangat mendalam.


"Skáse! " teriak salah satu siren merah yang memiliki rambut yang paling panjang dan bewarna putih dengan taring panjang sampai dagunya. Ia berdiri diatas batu merah jamrud seperti singgasana.


Teriakan itu berhasil membuat siren lainnya terdiam. Sepertinya ia adalah pemimpin kaum ini.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Gloria?" tanya salah satu siren yang berada tepat disamping perempuan siren merah yang ternyata bernama Gloria.


Glori menatap lelaki yang berbicara disampingnya dengan tajam. "Diamlah, Arios! Biarkan aku berpikir sejenak," tukas Gloria dengan ketus.


"Kamu terlalu lama berpikir, Gloria. Apa kamu sudah lupa saudara kita sudah diakhiri oleh siren danau sialan itu?!" teriak geram salah satu siren yang berada di bawah singgasana.


Gloria yang marah langsung mengibaskan ekornya dengan cepat menuju kearah siren itu sambil mencekik lehernya. "Kamu pikir aku lupa, Kasies?! Aku mengingatnya dengan jelas!"


Lelaki bernama Kasies itu berusaha melepaskan cengkeraman Gloria yang hampir melubangi lehernya karena kuku tajam perempuan itu menancap di leher Kasies. "G-gloria," ucap Kasies tertahan.


Kekuatan Kasies tidak bisa menandingi Gloria saat ini. Bisa dilihat perbedaan besar dari kekuatan yang dimiliki mereka. Melihat adegan itu siren lain hanya bisa melihat saja, tidak ingin ada yang berniat untuk ikut campur dan membuat Gloria lebih marah lagi. Jika itu terjadi, Gloria tidak akan segan memakan jantung dan mencabik-cabik mereka hidup-hidup.


Tatapan kemarahan semakin terlihat jelas dimata Gloria, hingga membuat Kasies takut dengan tatapannya. Melihat hal itu, dengan perasaan kalut Gloria akhirnya melepaskan cengkeramannya dari leher Kasies. Kasies meringis ketakutan sambil memegangi lehernya yang mengeluarkan darah bewarna hitam pekat seperti tar.


Gloria masih memandang Kasies dengan penuh intimidasi. Sesaat Kasies mulai menegakkan kepalanya, dengan cepat Gloria mencakar wajahnya hingga Kasies terpental jauh ke belakang meninggalkan luka cakaran yang cukup dalam di wajahnya.


Gloria membalikkan badannya dan menatap setiap siren yang ada disana. "Apa dari kalian ada yang mau berbicara lagi?! Ha?!" tanya Gloria dengan amarahnya.


Semua siren yang ada disana menundukkan kepalanya berusaha menghindari tatapan kemarahan Gloria. Tidak ada jawaban. Gloria yang merasa sedikit puas karena ditakuti oleh kaumnya bergerak mendekati singgasananya.


Gloria tampak sedang berpikir. Selang beberapa menit kemudian, terdengar suara bel ringan yang berdering yang menandakan seseorang sedang menuju ke kastil.


Gloria menegakkan tubuhnya sampai membuat sisiknya bersinar dan sirip dipunggungnya menegang. "Apa yang kalian dapatkan?" tanya Gloria saat terdapat dua siren yang sedang mendekatinya.


"Yang mulia," kedua siren itu tampak menbungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada Gloria.


"Cleo dan saya membawa informasi penting dari danau, " jelas salah satu siren yang memiliki rambut pendek sebahu, "berkaitan dengan jòias, Yang Mulia."


Gloria yang mendengar itu langsung mengerutkan dahinya. "Apa itu? Katakanlah cepat," desaknya.


"Saat kami mencoba mengintai danau, kami melihat ada cahaya yang sangat terang sekali. Kami yakin, itu adalah salah satu jantung jóias," jelas siren lelaki yang bernama Cleo itu.


Semua tampak terkejut, begitu pula Arios dan Gloria. "Apa benar seperti itu, Kiesa?" tanya Arios pada perempuan disebelah Cleo.


Dengan yakin Kiesa mengangguk, "benar," imbuhnya, "hanya saja ada masalah yang harus kita hadapi saat ini." Wajah Kiesa tampak lebih serius.


Gloria yang melihat itu merasa curiga sekaligus penasaran. "Masalah apa?"


Cleo mengeluarkan sebuah pecahan batu kristal yang membuat Gloria panik setengah mati. "Bagaimana bisa?"


Cleo dan Kiesa tampak menelan ludahnya sambil mengepalkan tangannya. Berusaha untuk tetap tenang dan bersiap diri apabila Gloria marah dan murka kepada mereka.


"Apa yang terjadi?" Arios tampak mendekati Cleo dengan marah.


Kiesa menghadap tubuhnya di depan Cleo dengan ragu-ragu. "D-darías," ucapnya pelan.


Siren lain yang mendengar ucapan itu langsung balik bertanya, "Apa maksudmu, Kiesa? Dariás itu sudah kita bunuh belasan tahun yang lalu."


Kiesa menggeleng cepat, "bukan dia. Aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri. Ada Darías lain."


"Tidak mungkin!"


"Jangan bercanda!"


"Yang benar saja!"

__ADS_1


"Sepertinya kamu mengada-ngada, Kiesa."


"Leluconmu tidak lucu sama sekali!"


Sautan demi sautan siren lain yang merasa bingung dan tidak percaya mulai terdengar dan seakan memojokkan Kiesa dan Cleo sebagai informan. Gloria yang mendengar keributan itu perlahan mengangkat tangan, memberikan isyarat untuk diam. Seketika hening.


Gloria mengibaskan ekornya perlahan mendekati Kiesa. Ia mendorong sedikit tubuh Arios untuk bergeser kearah kanan sehingga ia bisa bertatapan langsung sengan Kiesa.


Kiesa menatap takut kearah Gloria yang mulai menghendus tubuhnya. "Kiesa, kamu tau kalau berbohong itu adalah perbuatan yang sangat aku benci." Seru Gloria sambil tersenyum penuh arti.


Kiesa menelan salivanya. "S-saya tidak berbohong, Yang Mulia," imbuhnya lagi.


Pandangannya beralih kearahh Cleo yang berada tepat dibelakang Kiesa, "Cleo?" panggilnya.


Cleo yang dipanggil mulai gemetar, ia bersusah payah untuk menelan salivanya. "B-benar Yang Mulia. Kami bahkan melihat siren danau pembunuh Eden disana."


Gloria terdiam. "Maksudmu Aoihan putra Aeyes?"


Cleo dan Kiesa mengangguk bersamaan. Jawaban itu berhasil membuat darah Gloria seakan mendidih saat mendengar nama itu kembali. Lengkingan mulai keluar dari mulutnya, ia merasa sangat murka saat ini dan suasana kembali mencekam.


Gloria bergerak kearah singgasananya dan menghancurkan pilar besar yang berada disana dengan ekornya. "Bagaimana mungkin masih ada Dariás? Bukankah kalian sudah memusnahkannya semua? Apa yang kalian lakukan? Sialan!"


Arios mulai mendekati Kiesa dan Cleo. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya menyelidik.


Kiesa menoleh, "ia adalah keturunan perempuan bernama Kena itu."


Arios melotot tak percaya. "Bukankah kita sudah menyelidi apakah anaknya itu memiliki darah keturunannya atau tidak? Bagaimana mungkin?"


"Sepertinya anak itu dilindungi oleh mantra pelindung wujud dari Kena, sehingga kita tidak bisa mencium aromanya." jelas Cleo yakin.


Arios mengeraskan rahangnya menahan emosi.


Buakk...


Buakk...


Arios melengkingkan suaranya untuk menarik perhatian Gloria. Gloria yang mendengar itu langsung berdesis menampilkan taringnya yang tajam hendak menyerang Arios.


"Itu anaknya!" teriak Arios.


Gloria terdiam.


Melihat reaksi itu, Arios mendekatinya perlahan sambil berusaha menenangkan amukan Gloria. "Kena, perempuan yang kita akhiri dengan racunmu. Anak perempuan itu ternyata memiliki darahnya. Kita harus menangkapnya." ucap Arios lagi.


"Bunuh!" teriak Gloria.


Cleo menggeleng cepat, "jangan! Jika kita menginginkan jóias, kita tidak bisa mengakhirinya. Perempuan itu adalah kunci untuk menemukan jóias lain."


"Benar. Saat perempuan itu menyentuh jóias Aoihan, anak jóias lain mulai mengeluarkan cahaya karena terpanggil oleh jantungnya," lanjut Kiesa menimpali.


Arios tampak setuju, "benar, Gloria."


Informasi yang sangat penting itu, berhasil membuat Gloria menyeringai. "Kita harus mendapatkan Darías itu."


Terdengar lengkingan semangat dan bahagia dari semua siren yang ada disana, termasuk Arios, Cleo dan Kiesa. Merasa bahwa mereka menemukan berita yang sangat menguntungkan untuk mereka saat ini dan memojokkan siren danau.


Gloria menyeringai, "Tunggu saja, Aoi." Gumamnya.


...****************...


Gloria memasuki sebuah goa yang lembab bersama dengan Arios. Tempat itu dipenuhi dengan batu berkilau yang dapat menghasilkan cahaya remang-remang sehingga goa itu tampak lebih jelas. Gloria dan Arios akhirnya berjalan menggunakan kakinya memasuki goa itu lebih dalam sehingga mengarahkan mereka ke tempat kering.


Goa itu berada disalah satu pulau kecil yang tidak berpenghuni dan akhirnya di klaim Gloria untuk menjadi bagian dari kepemilikan kaumnya. Hal itu dilihat dari letak pulau yang sangat tidak mungkin dikunjungi manusia.


Gloria duduk disalah batu besar sambil menegangkan sisik belakangnya. Salah satu siren yang sejak tadi sudah ada disana saat mereka berdua datang mengambil kerang yang cukup besar lalu memotong ujung sirip belakang Gloria hingga ia meringis.


"Akh!"

__ADS_1


Cairan hitam yang sangat kental keluar dari siripnya. Setelah mengumpulkan cairan itu kedalam beberapa wadah dan dirasa cukup, siren yang memotong sirip Gloria memberikan arahan untuk menutup luka itu.


Gloria seperti sudah terbiasa hanya bisa meringis dan memejamkan matanya hingga Arios selesai menutup luka di siripnya.


Cairan hitam kental itu adalah darah Gloria yang sangat beracun. Apabila darahnya itu terkena ke kulit secara langsung, maka mereka akan mati dua jam kemudian apabila tidak diberi penawarnya. Gloria adalah penerus darah beracun dari kaum siren merah dan satu-satunya siren yang memilikinya.


Itu menjadi salah satu alasan ia diangkat menjadi pemimpin disana. Selain kekuatan dan kelicikan yang dimilikinya.


"Bagaimana dengan tanaman itu, Gladius?" tanya Gloria pada siren yang tadi mengambil darahnya.


Gladius mengambil sebuah toples kaca berisi tanaman yang memiliki buah hitam keunguan seperti bluberry didalamnya. "Aku sudah menyuruh anak buahku memanennya. Atropa Belladona."


Gloria tampak senang lalu mengambil toples itu. "Aku tidak sabar untuk mengakhiri hidup anakmu juga Darías sialan." Ucap Gloria sambil menatap lekat kearah tanaman itu.


"Sepertinya kamu sangat bahagia, Gloria." Ucap Gladius.


Gloria sedikit tertawa, "Tentu saja. Tidak akan ada yang selamat dengan racun ciptaan ku ini. Semua akan tau kekuatanku! Deadly Nightshade Gloria," ucapnya bangga lalu memberikan toples itu kembali kepada Gladius.


Gloria berjalan kesebuah kerang besar yang berada di atas batu sebelah Arios berdiri. Ia mengambil batu kristal bewarna merah yang sangat pekat. Glori mengelus permukaan kristal itu, "Sepertinya kita perlu bernostalgia."


Flashback on


Arios berjalan mendekati rumah Kena sambil membawa kotak coklat dan kertas kecil diatasnya. Sesampainya di depan pintu rumah Kena, ia mengintip sedikit kedalam rumah untuk melihat suasana disana.


Saat dirasa cukup aman, karena Kena dan keluarganya sedang asik membuat biskuit Arios meletakkan kotak coklat itu didepan pintu.


"Anhetanal, " Arios mengucap mantra penghalang sehingga Kena tidak menyadari keberadaannya disana.


Setelah itu, Arios menekan bel sebanyak dua kali. Suara bel yang itu membuat Kena segera membuka pintu. Sesampainya disana, ia mendapati satu kotak coklat tanpa dan membawanya masuk kedalam rumah.


Sebelum Kena menutup pintu, Arios dengan cepat mulai menyusup masuk kedalam rumahnya tanpa disadari Kena.


Ia mulai mengikuti Kena hingga akhirnya Kena membuka kotak coklat tadi dan mengeluarkan parfum.


Arios tanpa menyeringai saat Kena berusaha untuk menciuminya bau dari parfum itu. Sampai akhirnya Kena menyemprotkan ke atas tangannya dan mencium aroma parfum itu.


Kena tampak kehilangan keseimbangannya.


"Akh!" Suara teriakan itu berhasil membuat Key berlari panik kearah Kena.


"Ada apa, Ken?"


"Ih, buang itu! Bau banget!" Perintah Kena sambil menunjuk ke kotak coklat yang ada di atas meja.


"Apa ni?" Key hendak menyentuh botol yang dikira parfum itu, namun di pukul oleh Kena. "Aw!"


"Jangan dipegang, buang sana itu." Ucap Kena lagi sedikit ngeyel.


"Iya, iya.." Key akhirnya menuruti Kena lalu membuang kotak beserta isinya ke tempat sampah diluar.


Audrina menghampiri ibunya yang sedang mencuci tangannya dengan sabun di wastafel. "Mama gapapa?" Tanya Audrina kecil itu.


Arios tampak memperhatikan interaksi kedua orang itu sambil tersenyum penuh kemenangan. Beberapa menit lagi Kena akan mati dan misi dia berhasil untuk menyingkirkan Kena, Darías terakhir.


Kena tampak mencuci tangannya untuk menghilangkan bau menyengat yang memualkan itu. Melihat itu, Arios tampak tertawa lepas.


"Percuma sama, kamu tetap akan mati." Ucapnya kepada Kena walau tidak bisa terdengar olehnya.


Selang beberapa detik dari ucapan Arios, Kena akhirnya jatuh tak sadarkan diri.


Flashback off


Gloria tersenyum bangga dengan racun yang dihasilkannya. Selain itu ia juga bangga dengan Arios yang menjalankan misinya dengan baik.


Peristiwa yang ditampilkan di kristal itu adalah ingatan Arios yang sudah dipindahkan. Memori itu akan selalu ada didalam kristal itu dan terus diputar ulang oleh Gloria untuk sekedar membanggakan dirinya.


Semoga saja Aoi dan Audrina bisa menyiapkan dirinya dari kejamnya Gloria dan siren merah dari laut tenggara.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2