
Pertemuan di aula utama sudah dibubarkan beberapa menit yang lalu. Semua siren telah pergi melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Di aula itu, hanya meinggalkan para sesepuh dan para keturunan pendiri disana yang tampak masih bergulat dengan pikiran mereka masing-masing.
Vivian masih terlihat bermain dengan pikirannya, mencari cara terbaik dan terampuh untuk menyelamatkan kaum siren danau dari serangan siren merah yang bisa datang kapan saja. Sebenarnya, mereka bisa melawan seperti biasa tetapi melihat semakin berkurangnya keefektifan joìas membuat Vivian berpikira dua kali lebih dalam. Salah bergerak saja, ia bisa membuat kaumnya dalam bahaya.
Terlihat jelas rasa gundah dari mimik wajah tegas Vivian membuat Aoi enggan menganggunya. Ia membiarkan si empu bergeming dengan pikiran terbaiknya dan mendapatkan solusi terbaik pula. Ia yakim dengan kemampuan Vivian yang sangat luar biasa dalam mengatur strategi.
"Selama menunggu keputusan Vivian, aku rasa kita bisa membahas bagaimana caramu dan Thania akan melindungi para dariás, Aoi."
Alana yang merupaka salah satu sesepuh yang paling dihormati setelah Amber dan Aziel tampak bersuara. Parasnya yang anggun dan memiliki kesan bak putri ariel membuat netra yang melihatnya tidak sanggup untuk mengalihkan arah pandang mereka. Wajahnya yang simetris dengan warna sisik dan ekor yang keunguan membuat kesan manis terhadapnya. Rambut hitam legamnya membuatnya tampak lebih berwibawa dengan sorot mata tegas berserta pupil keabuan.
Aoi mengalihkan pandangannya, kali ini menatap sosok Alana yang tengah bergerak indah disekitar bangku singgasananya, berderetan dengan sesepuh lain yang menatapnya. Netra mereka bertabrakan, seakan terjatuh kedalamnya.
"Pertama, kita harus membawa mereka kembali ke darat. Ke villa daisy tempat mereka tinggal," jawab Aoi dengan mempertegas kalimantnya menandakan ia sudah yakin dengan rencananya.
Alana mengibaskan sedikit surai kebanggaannya, membuatnya dengan rintikan tajam pandangannya yang jatuh tepat pada netra Aoi tanpa berkedip. Raga Aoi seakan bergetar mendapati intimidasi dari sorot tajam mata Alana yang tampak meniti setiap gerak-geriknya. Bahkan seorang Aoi bisa kewalahan menerima sorotan mata khas siren milik Alana yang mempersona.
Alana menaikkan sedikit kepalanya dengan sorot matanya yang tajam dan tidak ada keraguan disana, "bukankah itu tempat Kena terbunuh? Bagaimana kamu yakin mereka akan aman disana?" tanyanya intens.
Benar apa yang dikatakan Alana. Bagaimana Aoi yakin villa daisy adalah tempat aman bagi Audrina dan Zayn sedangkan villa itu merupakan saksi bisu kejadian pembunuhan Kena yang sangat menyayat hati?
Raut wajah Aoi terlihat tidak berubah, ia sepertinya sudah menyangka akan ditanya seperti itu oleh salah satu sesepuhnya. Dengan yakin, Aoi mempertegas punggungnya menampilkan kesan ia sudah mengetahui resiko lanjutan dari tindakan yang akan dilakukannya. Aoi menatap lamat netra tajam Alana walau dengan raga yang mendelik gugup dengan wajah datar yang berusaha menutupi kegugupannya.
"Aku tau. Tapi, bukankah lebih baik memisahkan mereka dari para siren danau agar kita bisa sama-sama fokus menjaga teritori dan keselamatan mereka juga?" terang Aoi seraya mengibaskan ekornya mendekatkan diri ke depan singgasana sesepuh, "Vivian akan lebih fokus mengayomi pasukan siren sedangkan aku dan Thania akan menjaga Audrina dan Zayn. Selain itu, kami juga akan membantu mereka mempelajari dasar buku Wilona siapa tau mereka bisa sampai ke tahap pemutihan," lanjutnya lagi.
Sorot mata Alana tampak melunak, sepertinya ia setuju dengan pendapat Aoi. Begitu pula Amber dan Aziel yang terlihat menyunggingkan senyum tipis sebagai pendukungnya.
__ADS_1
"Mengapa kamu yakin sekali mereka bisa sampai ke tahap pemutihan? Aku rasa tahap pertama saja mereka tidak akan sanggup."
Suara meremehkan Rui kembali terdengar menyebalkan masuk ke runggu mereka yang berada di aula. Membuat Voya memutar mata jengah mendengar kalimat apatis Rui yang selalu saja menebarkan nuansa negatif kepada orang lain.
"Kalau tidak bisa membantu apapun, lebih baik diam saja. Kata-katamu sangat menyebalkan, Rui." Tukas Voya yang masih duduk disinggasananya.
Rui yang merasa tersindir menjawab ucapan Voya dengan nada kesal, "bukankah kamu yang seharusnya diam, Voya?"
"Berkomentar tanpa tindakan membuatmu tampak memuakkan, Rui. Lebih baik bantu siren lain mengerjakan pekerjaan mereka daripada duduk saja disini. Kedapatan singgasana membuat otakmu lamban dan sulit berpikir rupanya," balas Voya dengan lebih tajam lagi.
"Kamu sudah merasa lebih hebat rupanya?" wajah merah padam Rui terlihat jelas walau dibawah remangan cahaya sisik mereka yang memenuhi aula.
Voya yang ingin melanjutkan aduan lisannya diberhentikan oleh Geo yang menaikkan tangannya memberi isyarat untuk berhenti. Voya yang memang lebih muda darinya tentu dengan sopan mengunci mulutnya mengikuti interupsi Geo. Rui memincingkan pandangannya menatap netra Geo yang tidak ada maksud apapun disana.
"Kalau kamu memang lebih hebat, katakan bagaimana seharusnya mereka mengajarkan para dariás itu untuk mendapati level pemutihan, Rui. Sebenarnya saat ini kamu mendukung siapa? Apakah kaummu dan dariás yang tersisa atau musuhmu kaum siren merah?" tanya Geo telak membuat Rui enggan untuk kembali membantah.
Amber dan Aziel yang sudah paham betul dengan sikap Rui hanya bisa menghela napas saja. Hanya Geo yang berhasil membuat Rui membuka pikirannya. Dari sekian banyak lontaran nasihat dan kalimat, tidak ada yang berhasil lolos menembus kerasnya pondasi Rui yang entah berpegang teguh atas dasar apa. Hanya Geo yang berhasil meruntuhkan segalanya.
"Lanjutkan Aoi, aku rasa itu adalah rencana yang paling aman saat ini," Geo mengakhiri kalimatnya dengan dukungan terhadap Aoi sebelum akhirnya undur diri karena harus menyiapkan persenjataan kaum siren mengigat Geo adalah penanggung jawab dan ahli dibagian persenjataan.
Tersisa 5 sesepuh berserta Aoi, Vivian dan Thania disana. Mereka masih menunggu keputusan Vivian yang sepertinya hampir menemukan jawaban saat akhirnya ia menginterupsi mereka yang tersisa disana.
Vivian mengajak Aoi dan Thania untuk mendekat kearah singgasana, sehingga lebih rapat dengan para sesepuh disana. Dengan perasaan yakin dan hati yang mantap, Vivian memberikan keputusan final dari strateginya.
"Aku memiliki beberapa rencana," tukas Vivian sambil menatap netra para pendengar secara bergantian, "garis besar saja. Kita lakukan pertahan Megalodon dan Neptune untuk sisanya akan aku arahkan saat serangan terjadi, agar lebih efektif."
__ADS_1
Thania tampak tidak percaya dengan apa yang melintas kedalam rungunya itu, "Megalodon? Bukankah itu membutuhkan kerja sama dan ketelitian yang sangat tinggi?"
"Apa kamu yakin, Vivian? Kalau dengan Neptune aku tentu saja setuju, tetapi Megalodon? Bukankah itu terlalu beresiko?" ucap Aziel yang seperti setuju dengan keraguan Thania.
"Hanya itu strategi terbaik kita saat ini, mengingat semakin berkurangnya jantung jóias yang mendukung. Dengan bantuan anak-anak jóias yang ditemukan berkat kehadiran Audrina membuat kita bisa melakulan strategi itu tanpa hambatan," terang Vivian sembari mengeluarkan beberapa buah anak jóias yang sempat ia ambil saat dipemukiman tadi.
Mereka tampak terdiam mendengar jawaban Vivian yang sepertinya sangat beresiko besar. Pikiran mereka seperti bermain dengan kemungkinan yang akan terjadi jika mereka memang menggunakan strategi itu.
"Aku setuju dengan Vivian."
Suara kali ini membuat setiap siren yang berada disana sedikit terkejut. Mengingat suara yang biasa hanya menolak dan mengejek dengan ungkapan negatif, ternyata bisa juga memiliki pemikiran yang sama dengan orang lain. Semua menatap si empu yang berbicara, Rui akhirnya menurunkan egonya kali ini.
Merasa risih diperhatikan, Rui akhirnya membuka suara lagi memberikan alasan logis yang tentu saja membuat mereka sedikit lebih respect kepadanya kali ini.
"Kalian pikir aku tidak ingin melindungi lembah ini? Megalodon adalah salah satu strategi terbaik saat ini, melihat strategi itu akan berjalan bersama dengan Neptune membuat celah kegagalan kita semakin menipis. Jangan khawatir dengan ketelitian dan kerja sama, pasukan kita lebih baik daripada itu," jelas Rui dengan sedikit kesal melihat respon sekitarnya malah seperti meragukannya.
Amber mengangguk, "kira-kira berapa persen strategi ini akan bekerja?" tanya Amber lagi.
"Sepertinya 85 persen," Vivian menjawab pelan.
"Oh, ayolah. Percaya diri sendikit! 90 persen aku yakin akan berhasil," sahut Rui malas.
Amber tampak terkekeh pelan, "baiklah-baiklah. Aku yakinkan kepada kalian berdua, bekerja samalah dengan baik," Amber menatap Rui dan Vivian secara bergantian.
"Baik," tegas Vivian.
__ADS_1
Kali ini mereka sudah mengambil keputusan. Waktunya bersiap mendapati serangan.
......-----......