Love In Siren

Love In Siren
Balance


__ADS_3

Audrina dan Zayn terus berusaha melatih lidah kaku mereka untuk menguasai bahasa baru yang akan mereka ucapkan kedepannya. Mereka harus bersungguh-sungguh karena hal ini sangat menyangkut kepada masa depan mereka sebagai dariás ke depannya. Tapi sebelum mereka melanjutkan itu, mereka terlebih dahulu harus masuk ke kelas daring mereka di sekolah mereka saat ini. Beruntung Zayn diizinkan untuk masuk sesi daring setelah banyaknya pertimbangan yang dilakukan oleh pihak sekolah. Kalau tidak, ia tidak mungkin bisa menetap lebih lama di Villa ini.


Ayahnya Audrina yang mendengar hal itu dengan senang hati memperbolehkan Zayn untuk tinggal di sana, sekedar belajar dan menemani Audrina agar tidak merasa kesepian selama ayahnya bekerja di luar negeri.


Selama sesi pembelajaran daring mereka berlangsung, Aoi dan Thania justru mempersiapkan segala hal untuk pembelajaran mantra level pertama yang akan diterima kedua dariás itu setelah kelas daring mereka selesai. Karena itu mereka jadi memiliki kesibukkan masing-masing.


Aoi dan Thania menata ruang kosong di lantai 3 Villa, membawa beberapa wadah air seperti baskom yang sudah berisi air danau.


"Ini wadah terakhir, apa sudah cukup?" tanya Thania kepada Aoi yang sedang menyusun buku Wilona dan bola kristal di atas meja.


Aoi menoleh sejenak, "sudah cukup untuk sekarang. Untuk membuat portal ke hutan tidak dibutuhkan banyak air danau. Jadi untuk saat ini sudah cukup," jawab Aoi diselingi gerakan telinga lancipnya ke belakang, membuat rambut yang terselip di belakang telinganya jatuh ke depan.


"Apa mereka akan berhasil dipercobaan pertama?" tanya Thania penasara.


Aoi mengangkat bahunya, "entahlah. Selama mereka belum menguasai bahasa dasar Elliniká, bisa dipastikan mereka akan gagal sih," jawabnya.


Thania mengangguk paham. Semua kunci keberhasilan mereka adalah dengan menguasai bahasa Elliniká tanpa pengucapan kaku dan kelu. Ia yakin mereka akan berhasil, walau kemungkinannya sangat kecil untuk berhasil pada percobaan pertama, setidaknya ada percobaan kedua dan seterusnya. Selama terus mencoba, yakinlah bahwa pasti akan berhasil nantinya.


Kedua siren itu masih menata ruang kosong di atas, sedangkan dua dariás masih senantiasa nengikuti kelas dengan saksama. Tidak ada interaksi diantara mereka, karena keduanya fokus memperhatikan materi pembelajaran.


Mereka mencatat dan mengikuti pembelajaran dengan baik dan khidmat sampai kelas selesai.


"Huft, selesai juga," ucap Zayn sambil membuang napasnya lega.


Audrina meregangkan tubuhnya, "buat kentang goreng yuk!" ajaknya kepada Zayn.


"Yuk!" terlihat wajah sumringah Zayn dengan anggukan kepala yang antusias, "bentar, kita rapiin meja ini dulu."


"Oh ya," sahut Audrina, mengikuti Zayn yang beranjak dari duduknya.


Setelah selesai, mereka pun turun ke lantai bawah menuju dapur. Tidak terlihat keberadaan Aoi maupun Thania di sana, membuat mereka berdua saling melihat dengan pandangan yang bertanya-tanya.


Namun, keduanya yang tidak tau hanya mengangkat bahu mereka bersamaan. Mereka sama-sama tidak tau keberadaan kedua siren itu saat ini.


Tanpa mikir panjang, mereka mendekati dapur dan membuka kulkas untuk mengeluarkan segala macam bahan yang ingin mereka masak termasuk kentang dan beberapa telur.


Zayn dengan tegas melarang Audrina untuk mendekati kompor, ia hanya diperbolehkan membantu memotong-motong bahan atau sekedar mencuci bahan makanan saja. Motonya adalah tidak akan membiarkan Audrina memasak untuknya, harus dia yang memasak.

__ADS_1


Lelaki idaman sekali bukan?


"Kamu cuci kentanganya aja," titah Zayn.


Audrina hanya menurut saja, karena kalau ia besikeras ingin memasak nanti Zayn yang keras kepala itu malah akan mengomel dan memarahinya dengan sejuta ceramahnya. Lebih baik dia cari aman saja dengan mengikuti kemauan Zayn.


Bau makanan segera menyebar ke sekitar rumah, membuat siapapun yang mencium akan lapar seketika. Layaknya dua siren yang turun dari tangga menuju dapur dengan rasa lapar mereka yang tiba-tiba muncul.


Benarkan?


"Hmm, kalian masak apa?" tanya Thania antusias.


Audrina menoleh ke sumber suara, "ah, Thania. Kalian darimana saja?"


"Dari ruang kosong di lantai 3. Apa kamu lupa?" ucap Thania seperti mengingatkan sesuatu.


"Oh, ya benar," seru Audrina yang seakan tersadar bahwa tadi sebelum kelas mereka sempat berbincang tentang ruangan yang bisa digunakan untuk pembelajaran mereka. Dengan gamblang, Audrina memberikan kunci pintu lantai 3 yang kosong untuk digunakan.


Zayn menata makanan di atas piring, "kami masak kentang goreng dan fish and chips. Kalian tidak suka makanan yang terlalu nabati kan?"


"Cih," cibir Aoi.


Zayn menatap Aoi kesal, "apa? Iri ya ngga bisa masak?"


"Iri? Sama kamu?" tanya Aoi dengan nada tidak percaya, "yang benar saja."


"Itu buktinya malah nyibir aku," ucap Zayn kembali menyudutkan Aoi.


Aoi menurunkan tangannya, dengan kaki yang melangkah maju ke arah bar dapur. "Siapa? Jangan kepedean, ya!"


"Kepedean? Ka—"


"Sudah! Cukup ih, jangan berantem. Sakit kepala ni," ucap Audrina menghentikan pertengkaran yang hampir membara itu.


Thania menghela napas, "mending makan dulu yuk. Habis itu kita belajar matra pertama," ajaknya tanpa dibantah oleh siapapun lagi.


Setelah selesai makan, sesuai dengan rencana sebelumnya mereka pun menuju ruang kosong di lantai 3 untuk memulai pembelajaran awal matra level pertama pada buku sakral Wilona. Pembelajaran ini tentu akan sangat sulit, apalagi sehabis tahapan ini untuk masuk ke tahap level selanjutnya tidak semudah itu.

__ADS_1


Lupakan yang akan datang, mari fokus pada yang saat ini terlebih dahulu.


Sesampainya mereka diruangan itu, hal yang pertama yang dilakukan Aoi ada memeriksa pertumbuhan fisik dari kedua dariás itu. Apakah ada bertambahan atau berhenti sampai pertumbuhan terakhir.


Hal ini dilakukan untuk memastikan ramuan Amber memang bekerja sesuai dengan harapan mereka. Di bantu Thania, mereka mengecek inci demi inci bagian tubuh Audrina dan Zayn. Dimulai dari taring, sisik atau sirip yang mungkin tumbuh, telinga bahlan rambut mereka.


Tidak ada perubahan lanjutan dari terakhir kali, hanya rambut mereka saja yang beberapa helai terlihat berubah warna menjadi biru kehijauan. Perubahan yang tidak terlalu dikhawatirkan.


"Zayn, buka bajumu," titah Thania.


Zayn awalnya hanya diam saja, masih mencerna ucapan Thania yang membuatnya sedikit canggung. Audrina yang melihat itu langsung menyikut Zayn untuk menyadarkannya, hingga tangan Zayn bergerak untuk membuka bajunya.


Terlihat sedikit bagian pinggangnya yang dipenuhi sisik, kilauannya sangat antipasi sesuai dengan kondisi ruangan yang lumayan remang.


Audrina dan Zayn berdiri bersebelahan, dengan Aoi dan Thania menghadap mereka dengan sorot mata tegas dan sangat fokus. Bulu kuduk Audrina seakan naik merasakan aura yang berubah berat di ruangan itu.


"Baik, sekarang waktunya fokus," ucap Aoi dengan datar tak berekspresi. Ia masuk ke mode tenang dan fokus saat ini. Bahkan Zayn yang biasanya akan nyolot tidak bisa bersumpah serapah lagi karena terintimidasi dengan aura disekitar kedua siren itu.


"Perhatikan baik-baik, kami akan memperagakan hasil akhir jika kalian sudah mendalami matra level pertama ini. Ini adalah pelajaran sangat dasar, selain itu ini sangat penting untuk keselamatan kalian nantinya," ucap Thania seraya iris matanya yang melebar penuh, bersamaan dengan sisiknya yang bercahaya.


Suara lembut nan merdu berhasil keluar dari mulut siren itu, seakan mengayomi hati dan jiwa untuk mendekat ke arah sumber suara. Alunan nada yang lembu dan lirik yang seakan sendu mengiringi rungu yang mendengar, seakan terhipnotis dalam diam.


Aoi menatap lurus ke depan, "to kleidí eínai i isorropía. Eíte eínai i anapnoí, to myaló kai i kardiá sas. Anoíxte aftó to simeío isorropías, tóte tha kataférete na kataktísete to próto epípedo tou xórki, " (kuncinya adalah keseimbangan. Baik itu pernapasan, pikiran dan hati kalian. Buka titik keseimbangan itu, maka kalian akan berhasil menguasai matra level pertama).


Audrina dan Zayn berusaha mengartikan ucapan Aoi dalam pikiran mereka yang masih belum terbiasa dengan bahasa itu. Walau lambat, setidaknya ada sedikit inti pembicaraan yang mereka pahami dari ucapan Aoi.


Thania menatap Audrina dan Zayn, seakan menunggu adanya pertanyaan dari mereka berdua.


Zayn memiringkan kepalanya , "kenap—"


"Eit!" potong Thania sambil menaikkan tangannya ke udara, "Chorís anthrópini glóssa," (tidak boleh bahasa manusia.


Zayn menutup mulutnya sambil berpikir, "entáxei," (baiklah).


"Min xecháseis! Óla gia tin isorropía", (Jangan lupa! Semua tentang keseimbangan) peringat Aoi lagi hingga beberapa detik kemudian kedua siren itu menghilang di hadapan Audrina dan Zayn yang seperti belum siap dengan apa yang terjadi barusan.


"M-mereka hilang?" gumam Audrina yang sudah terduduk lemas di lantai.

__ADS_1


Siapa yang tidak syok dengan pemandangan seperti itu?


......-----......


__ADS_2