Love In Siren

Love In Siren
Kecurigaan Jhonson


__ADS_3

Suara gelak tawa mulai memenuhi dek inti bersamaan dengan lelucon kecil yang mereka lemparkan satu sama lain. Seakan mereka sudah bersahabat karib lama sekali, padahal mereka yang berada di dek inti ini bertemu baru bersama dalam satu kapal sekitar tiga bulan yang lalu. Saat mereka harus bersama sesuai perintah kerja atasan dan kapten kapal yang memilih mereka karena telaten dan kepiawaian mereka dalam bekerja sama.


Walaupun Jhonson termasuk yang muda dari rekan yang lain, kinerjanya selama ini bisa dikatakan sangat bagus. Ia juga bisa beradaptasi dengan mereka yang lebih tua hingga hampir tiga puluh tahun darinya sekalipun.


Suasana makan siang yang sangat meriah seperti biasa sedang berlangsung didalam dek inti. Ada 27 orang disana ditambah 3 orang yang berada di dek kemudi yaitu kapten dan 2 orang asisten kapal, jadi total awak kapal ada 30 orang.


Wajah gembira mereka menyambut makanan yang disajikan oleh koki masak mereka yang bernama Arnold mulai terlihat, kecuali Jhonson yang masih memikirkan kejadian di luar dek tadi.


"Hei, Jhonson. Apa kau tidak menyukai makananku?" tanya Arnold yang tampak terganggu dengan wajah masam Jhonson.


"Ah.. Bukan begitu," elaknya dengan suara tidak enak. Sepertinya ia telah menyinggung perasaan Arnold si koki karena merasa tidak tertarik terhadap makan yang disajikan.


"Ada apa denganmu, Jhon? Biasanya kau paling lahap jika sudah waktunya makan," seru Bian yang merupakan pemuda madura, terdengar jelas dari logatnya yang begitu kental.


Jhonson menggelengkan kepalanya, "aku tidak apa-apa."


"Hei anak muda, apa yang kau pikirkan? Aku rasa kau belum menikah, tidak mungkin kau memikirkan istrimu, kan?" goda salah satu awak kapal bernama Roni, ia lebih tua 7 tahun dari Jhonson.


"Mungkin ia sedang mikir pacarnya disana. Bukan begitu, Jhon?" timpal Soni sambil sesekali menyuap makanan kemulutnya.


Wajah Jhonson terlihat memerah menahan malu saat digoda oleh rekannya itu. Sebenarnya bukan itu yang ia pikirkan, tapi karena digoda dengan hal itu tanpa sadar ia jadi kepikiran kekasihnya yang berada didarat sana. Suara tawa kembali terdengar setelah mereka melihat perubahan wajah Jhonson yang semakin memerah. Kulitnya yang lumayan putih itu membuat wajahnya yang merah terlihat lebih jelas, beda sekali dengan kulit pelaut pada umumnya yang bewarna sawo matang atau lebih kecoklatan.


"Sudahlah, berhenti menganggunya," bela Arnold berusaha membantu Jhonson. Padahal tadi tawanya sendiri merupakan yang paling keras.


Jhonson akhirnya mulai memakan hidangan karena laparnya kini sudah tidak tertahan lagi, terlebih lagi ia sudah berjanji dengan kapten untuk mengantikan tugasnya setelah ia selesai makan. Ia mempercepat makannya, pasti kaptennya juga sudah kelaparan sekarang.


Setelah selesai makan, Jhonson mencuci piringnya sendiri lalu meletakkannya diatas meja. Hal yang menjadi peraturan dasar disana untuk membersihkan alat makanan sendiri. Sangat teratur dan para awak kapal dengan senang hati melakukan peraturan itu.


"Bang Arnold, terimakasih makanannya. Aku akan kembali memanggil kapten untuk makan," ucap Jhonson sambil menyikut pelan Arnold yang berdiri disebelahnya saat ini.


Arnold mengangguk, "sama-sama. Ajak si Daniel bersama mu biar kau tidak sendiri disana."


Daniel yang merasa terpanggil menoleh kearah Arnold dan Jhonson bergantian, "kemana?"


"Dek kemudi. Kapten menyuruhku mengantikannya sampai ia selesai makan," jawab Jhonson.

__ADS_1


"Wahh, aku ikut!" teriak Daniel dengan bersemangat. Wajahnya terlihat berbinar seakan itu merupakan hal yang menarik dan sangat dinantikannya.


Melihat respon Daniel yang seperti itu membuat Jhonson tertawa pelan lalu merangkulnya sembari berjalan keluar dari dek inti. Tangan mereka berusaha meraup apapun yang ada disekitar untuk sekedar berpeganggan menahan keseimbangan diri dari goyangan kapal.


Ombak laut terasa semakin bergulung, padahal biasanya juga kalau siang seperti ini keadaan laut lebih tenang. Jhonson dan Daniel mempercepat langkahnya menuju dek kemudi, menaiki tangga demi tangga dan masuk keruangan kapten.


Betapa terkejutnya mereka saat melihat pemandangan yang sangat membuat traumatis. Terlihat kapten dan dua rekannya yang lain sudah tergeletak bersimbah darah dengan kepala yang terbalik sepenuhnya kebelakang.


Beda halnya dengan dua rekannya yang lain, kondisi kapten sungguh sangat mengenaskan. Terlihat mulutnya menganga dan penuh dengan tanaman rambat hingga tembus ke telinganya, penampakan yang sangat memualkan. Terlebih lagi, Jhonson dan Daniel yang baru selesai makan tentu saja membuat perut mereka berdisco merasa ngeri sekaligus jijik hingga isi perut mereka hampir keluar.


"Uweekk..." Daniel berhasil memuntahkan isi perutnya, ia benar-benar tidak tahan melihat pemandangan yang mengerikan seperti itu.


Jhonson yang awalnya bisa menahan diri ikutan memuntahkan isi perutnya karena melihat dan mendengar Daniel yang sudah hampir mengeluarkan semua isi perut yang baru saja masuk. Mereka menyandarkan diri di balik tembok dek yang terbuat dari aluminium itu, tidak sanggup melihat ke dalam dek.


Mereka berdua hanya saling pandang tanpa mengatakan apapun karena terlalu syok dengan apa yang baru saja mereka lihat.


"J-Jhon, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Daniel dengan suara paraunya dengan napas yang memburu.


"A-aku juga tidak tau," sahut Jhonson sambil membasuh air mukanya dengan kedua tangannya kasar.


Tiba-tiba Jhonson teringat dengan kepala yang terapung dilautan tadi. Sepertinya kecurigaannya benar, ada yang tidak beres dengan kepala itu. Ia yakin sekali ada hubungan antara kematian kapten beserta 2 awak kapal lainnya dengan kepala yang ia lihat tadi.


Dengan kaki yang bergetar, Jhonson berusaha menompang tubuhnya yang masih lemas. Ia juga mencoba membantu Danieal untuk berdiri, mereka harus segera pergi dari sini. Tujuan mereka saat ini ada masuk dan mengunci diri mereka ke dalam dek inti sebelum terlambat.


"Ayo Danieal, kita harus segera ke dek inti. Aku memiliki firasat buruk," ucapnya dengan napas yang sedikit tercekat menahan tubuhnya yang sangat tidak bisa diajak berkompromi.


Daniel memegang pagar lalu menarik tubuhnga keatas dibantu dengan Jhonson, "kita harus segera memberitahukan mereka."


Mata Daniel berdelik melirik kedalam dek kemudi, ia berencana untuk menekan tombol darurat namun ia harus masuk kedalam dek kemudi.


Sial!


Daniel mengumpat dalam hati. Jika ingin menekan tombol darurat, ia harus melihat pemandangan mengerikan itu sekali lagi. Daniel memukul-mukul kakinya yang masih gemetar, berusaha menguatkan tompangan tubuhnya. Ia memastikan dimana letak tombol darurat lalu dengan napas yang memburu ia kembali masuk kedalam dek kemudi sambil menutup matanya.


"Daniel, apa yang kau lakukan?" teriak Jhonson panik.

__ADS_1


Daniel dengan cepat menekan tombol darurat dan suara sirine mulai berbunyi kencang ke seluruh kapal. Jhonson akhirnya mengerti.


Tennn...Tenn..Tenn...


Suara sirine dan lampu merah mulai berkedip didalam dek inti membuat semua yang berada disana langsung bersiaga sambil bertanya-tanya. Keadaan dek inti sudah riuh dan kacau, mereka mulai berlarian mencari posisi aman sesuai latihan yang sudah mereka lakukan dan menunggu instrusi lanjutan.


Setelah menekan tombol darurat, Daniel berlari gontai keluar dari dek kemudi mengikuti Jhonson yang sudah lebih dulu turun dari tangga. Mereka berlari dengan sangat cepat menuju dek inti, rekan mereka harus tau apa yang sedang terjadi saat ini.


DUAM..KRIEK...


Jhonson dan Daniel berhasil masuk kedalam dek inti dan mengunci pintu dari dalam. Mereka menompang tangan mereka dilutut dengan napas yang terengah-engah sambil menatap pintu yang baru saja mereka lewati.


Soni yang melihat Jhonson dan Daniel yang berlari panik kedalam dek inti mulai mendekati mereka dengan penasaran.


"Apa yang terjadi?" tanya Soni sambil menepuk pelan pundak Jhonson.


Jhonson sedikit tersentak, "astaga, kau mengagetkan ku!" tangan Jhonson sontak memegang dadanya.


"Maafkan aku," seru Soni merasa tidak enak, "kenapa kalian terlihat panik seperti itu?" tanyanya lagi.


Jhonson menoleh kearah Daniel yang bergeming, tidak kuasa melaporkan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, mereka harus melaporkan kondisi saat ini agar situasi dapat dikendalikan.


"Ceritakan perlahan, sepertinya ada hal buruk yang terjadi," timpal Arnold saat melihat raut wajah Jhonson yang menegang.


Jhonson menghela napasnya, "k-kapten, Dimas dan Fajri sudah meninggal," ucapnya lirih.


Hening.


Semua yang ada disana mematung, mereka sedang memproses kalimat yang disampaikan Jhonson. Wajah mereka menegang, mata mereka terbelalak seakan tidak percaya dengan apa yang disampaikan barusan.


Salah satu diantara mereka berjalan perlahan mendekati Jhonson. "A-apa maksudmu, Jhon? Bicara dengan jelas!" teriaknya parau.


Jhonson tidak bergeming, ia juga tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia dan Daniel hanya melihat tubuh kapten, Dimas dan Fajri sudah tidak bernyawa. Suasana didalam dek inti berubah menjadi sendu semuanya tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


Satu pertanyaan mereka, apa yang sebenarnya sedang terjadi?

__ADS_1


...-----...


__ADS_2