Love In Siren

Love In Siren
Teror


__ADS_3

Audrina menatap layar laptopnya sambil memperhatikan kelas daring yang saat ini sedang ia lakukan. Sesekali ia juga terlihat menulis beberapa poin-poin penting ke dalam buku catatannya. Tidak banyak yang masuk ke dalam ruang kelas daring ini, hanya terdiri dari sekitar 15 orang murid terhitung pengajar.


Kelas daring ini khusus di adakan untuk murid berprestasi dan yang sedang mengikuti lomba tertentu, murid pertukaran pelajar ke luar negeri, serta murid seperti Audrina yang harus pergi ke suatu tempat untuk menyelesaikan objek utama dari portofolio sesuai keinginan pihak sekolah dan tutor mereka.


Keunikan sekolah Audrina ini sangat membantu murid berbakat seperti mereka agar dapat berkembang dan mengeksplorasi diri lebih dalam lagi. Namun, semuanya juga harus memiliki sesuatu sebagai timbal balik yang sepadan untuk diberikan kepad sekolah mereka. Tidak heran kalau sekolah Audrina ini menjadi sekolah seni favorit dan nomor satu disana.


"Audrina, kamu sepertinya belum absen ya?" tanya guru yang sedang mengecek absensin online murid-muridnya.


"Sepertinya saya lupa tadi bu. Maaf, akan saya absen sekarang," jawab Audrina dengan sedikit mengerutu pada dirinya sendiri yang dengan ceroboh sampai lupa melakukan absensi. Kalau tidak diingatkan mungkin dia akan dikira tidak hadir pada pertemuan hari ini.


"Baik. Untuk materi hari ini cukup sampai disini. Jangan lupa kerjakan tugas kliping kalian, saya kira waktu dua minggu sudah cukup untuk menyelesaikannya, "ucap guru perempuan itu seraya mengakhiri sesi kelas daring mereka hari ini.


Audrina merenggangkan tubuhnya. "Hah.. Akhirnya selesai semua pelajaran. Udah encok banget daritadi duduk terus," sengutnya kesal sekaligus bersyukur, karena finally ia bisa istirahat saat ini.


Audrina beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil jus di kulkas yang sudah dibuatnya tadi pagi, sebelum kelas pagi di mulai tentunya. Sesekali terdengar suara senandungan kecil yang keluar dari mulutnya, mengikuti suasana hatinya yang bisa dikatakan happy mood.


Saat ia membalikan badannya, betapa terkejutnya Audrina saat melihat Aoi yang ternyata sudah duduk diatas kitchen set-nya. Dengan raut wajah lugu yang biasa wajahnya pancarkan selama ini, innocent.


"Oh my god, Aoi." Audrina memejamkan matanya sambil meletakkan tangannya ke dadanya saking terkejut membuat jantungnya berdegup tidak karuan.


Aoi yang tidak merasa bersalah sedikitpun hanya membalas sikap Audrina dengan tertawa kecil sambil menggoyangkan telinga lancipnya itu. Ia merasa Audrina sangat menggemaskan saat terkejut.


"Maaf ya," ucap Aoi seadanya, tidak benar-benar minta maaf sebenarnya karena ia begitu menikmati keusilannya itu.


"Kamu memang beneran gak ada baju ya, Aoi?" tanya Audrina heran melihat Aoi tidak pernah memakai baju atasanya jika menemui Audrina.


Aoi menaikkan bahunya acuh, " tidak ada," jawabnya santai sambil memegang perut six pack-nya yang sangat keras itu.


Audrina mengerutkan dahinya," terus celana itu darimana? Kenapa ada celana tapi ngga ada baju?" tanyanya karena merasa aneh sendiri.


"Emang udah ada dari lahir. Pas aku merubah ekor jadi kaki, celana ini langsung merekat di kulitku. Aku saja tidak bisa melepas celana ini," terang Aoi sambil menarik-narik celananya.


Audrina menghela napasnya pendek lalu duduk di kursi meja makan dengan pasrah, "jangan duduk disitu, sini duduk dikursi." Perintahnya sambil membuat gestur yang memanggil Aoi dengan tangannya.


Aoi yang melihat itu hanya menurut, ia turun dari kitchen set lalu duduk di kursi sebelah Audrina. Ia melihat Audrina meminum sesuatu bewarna merah dan berserat. Aoi tampak penasaran sekaligus geli sendiri.


"Apa itu?" tanya Aoi dengan wajah penasaran.


Audrina melirik arah pandang Aoi yang melihat isi gelasnya, "ini? Jus wortel campur tomat. Mau?" tawarnya.


Aoi bergidik geli, "ih nggak, menjijikkan sekali!" tolak Aoi mentah-mentah. Sorot matanya kini berubah seakan ia baru saja melihat sesuatu yang membuatnya mual seketika.


"Kamu ngga makan sayur sama buah gitu disana?" selidik Audrina saat mendapat respon tolakan dari Aoi.


"Walaupun kami tidak makan manusia, kami tetap karnivora. Bukan vegetarian seperti kalian," sergah Aoi langsung.

__ADS_1


Audrina menghabiskan jus di gelasnya. "Terus kalian makan apa?" tanyanya lagi tanpa memperdulikan wajah Aoi yang mengerut jijik saat gelas di tangan Audrina yang sudah kosong.


"Ikan," Aoi tampak berpikir, "kadang juga makan hewan darat seperti kelinci atau kalau kami lagi beruntung kami bisa makan sapi," terang Aoi sambil sesekali tersenyum.


Sepertinya makanan keseharian siren adalah ikan dan sejenisnya. Sama seperti manusia yang memiliki makanan mewah, hewan darat menjadi makanan mewah bagi kaum siren. Terbesit dipikiran Audrina untuk membuat steak agar Aoi bisa merasakannya. Siapa tau dia suka.


Sedang asyik bercerita, mendadak mereka dikejutkan dengan lemparan sesuatu hingga terdengar suara pecahan kaca dari depan rumah Audrina. Mereka berdua langsung mendatangi arah sumber suara.


Audrina tampak membulatkan matanya terkejut melihat sebuah batu bata merah telah pecah berserakan di lantai rumahnya, sepertinya benda itu yang berhasil menghancurkan kaca jendelanya. Serpihan kaca yang pecah akibat lemparan batu bata itu berserakan dilantai.


Audrina yang berniat mendekati batu bata itu langsung dengan cepat dicegat oleh Aoi. Bagaimana tidak? Ia tidak memakai alas kaki saat ini, kalau ia tetap nekat untuk mendekat ke arah batu bata itu bisa saja serpihan kaca yang berserakan di lantai itu melukai kakinya.


"Yang benar saja, Ody. Kamu tidak pakai alas kaki," kesal Aoi tertahan melihat kenekatan Audrina.


Audrina melirik kakinya, "oh iya, hehehe. Aku pakai sendal dulu," ucapnya nyengir sambil berlari kecil menuju dapur.


Aoi menatap batu bata dan serpihan kaca yang pecah itu dengan perasaan campur aduk dominan penasaran. Siapa yang dengan santainya melempar batu bata kerumah orang seperti itu? Pikirnya.


Aoi berjalan memutar untuk menghindari serpihan kaca yang ada dilantai. Ia mendekati jendela yang pecah akibat lemparan batu bata itu, berusaha mengintip keluar jendela untuk memastikan apakah orang yang melempar batu bata itu masih ada atau tidak.


"Aoi, ini sendal kamu." Audrina menyodorkan sendal rumah yang lumayan tebal bewarna hijau kepada Aoi.


"Terima kasih," sambut Aoi sambil memakai sendal itu ke kakinya.


Audrina kembali lagi ke dapur untuk mengambil sapu dan serokan untuk membersihkan serpihan kaca. Aoi sesekali membantu memegang serokan agar tidak bergerak-gerak.


Aoi tidak menanggapinya. Ia juga tidak tau siapa yang telah menganggu ketenangan Audrina. Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya.


"Aoi, tolong ambil plastik di sebelah kulkas. Tau plastik kan?" tanya Audrina memastikan.


Aoi mengangguk, "iya, tunggu sebentar ya." Lanjutnya.


Audrina lanjut menyapu serpihan yang ada di lantai. Ia sedikit bersyukur tidak ada karpet disana, sehingga pekerjaannya tidak begitu berat karena hanya harus membersihkan lantai.


Aoi kembali dengan membawa plastik hitam dan memberikannya kepada Audrina. Audrina membuka plastik itu dan menaruhnya disebelahnya kemudian beralih ke sapunya lagi.


"Aoi pegang serokannya," perintah Audrina.


Aoi mendekatkan serokan kearaha Audrina, "seperti ini?" tanyanya memastikan dan di jawab dengan anggukan oleh Audrina.


Mereka pun akhirnya bekerja sama membersihkan semua sampai benar-benar bersih. Aoi meraba-raba lantai untuk memastikan tidak ada serpihan kaca yang tertinggal. Setelah yakin bersih, Audrina menyuruh Aoi untuk mengikat plastik itu dan membuangnya diikuti Audrina yang membawa sapu dan serokan ke dapur.


"Terus kacanya gimana?" tanya Aoi setelah membuang plastik berisi serpihan kaca itu.


Audrina menghela napas, "harus bilang ke papa sama pak Karni." Pasrahnya.

__ADS_1


sring...


sring...


Suara dentingan halus itu membuat Aoi dan Audrina melirik satu sama lain. Semenjak Aoi membuka tanda Darías di tengkuk Audrina, ia jadi bisa mendengar hal yang sama seperti Aoi.


Suara dentingan halus itu adalah suara dari bawah danau untuk memanggil siren biru kembali ke dasar danau. Ada keterbasan waktu untuk siren berada di daratan. Hal itu berhubungan dengan siren yang merupakan makhluk air dan ia tidak bisa berlama-lama di daratan.


"Nanti malam aku kesini lagi," ucap Aoi sambil mengusap pelan rambut Audrina. Bisa dilihat wajah Audrina yang cemberut setiap kali Aoi harus kembali ke danau.


Audrina mengangguk, "baiklah." Pasrahnya beriringan dengan Aoi yang keluar dari pintu rumahnya.


"Sendiri lagi deh," helaan napas yang keluar dari mulusnya terdengar sedih mengigat Aoi harus kembali ke danau untuk menetralisir kulitnya.


Mau tidak mau, Audrina harus memakluminya.


Malam pun tiba. Audrina masih berkutat dengan tugasnya yang menumpuk. Ia sedang memotong beberapa bagian yang baru saja di print untuk ditempel di klipingnya. Audrina tampak sangat fokus dan sepertinya ia telah melupakan kejadian tadi siang dirumahnya.


Setelah Aoi kembali ke danau, Audrina langsung menghubungi ayah dan pak Karni untuk mengadukan masalah jendela rumahnya itu. Mendengar hal itu ayah Audrina terlihat cemas dan menanyakan keadaan anak perempuannya itu.


Memang agak sulit membuat ayahnya tenang sampai akhirnya pak Karni datang dan menjelaskan kondisi Audrina dan memperbaiki sementara jendela itu. Setidaknya ayahnya tau Audrina benar-benar dalam kondisi baik dan tanpa terluka sedikitpun. Audrina tampak mengucapkan terimakasih kepada pak Karni yang membantunya.


Setelah itu, Audrina diamanahkan untuk tetap fokus studi dan berdoa semoga tidak ada hal buruk lagi yang akan terjadi oleh ayahnya.


"Yah, kertasnya habis."


Audrina yang sedang mengunting kertas untuk klipingnya berhenti saat menyadari ia kekurangan kertas. Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil kertas tambahan diruang kerja ayahnya yang berada di ruangan sebelah.


Setelah mengambil cukup kertas, ia kembali lagi ke kamarnya. Sesampainya di kamar, ia memantung. Tiba-tiba kejadian yang sangat menakutkan kembali terjadi dan kali ini dikamarnya.


Terdapat tulisan bewarna hitam dan sangat amis tertulis di jendela kamarnya. Cairan yang dituliskan ke jendela itu berbau amis seperti darah pada umumnya, hanya saja lebih menyengat hingga Audrina harus menutup hidungnya.


...Nekrós!!!...


...(Mati!!)...


Audrina menatap ngeri kearah cairan hitam itu. Saat dia mencoba untuk mendekati jendela, ia merasa telah menginjak sesuatu yang kental.


"Aaa..." Teriak Audrina dengan sangat nyaring sekali. Perasaan takut mulai menghantuinya. Ia sampai tersungkur ke lantai karena terkejut dengan apa yang baru saja ia injak.


"A-apa apaan ini?" Audrina membulatkan matanya panik saat menyadari telah menginjak cairan kental dan kali ini bewarna merah darah.


Dengan perasaan takut ia mencoba untuk mencari asal dari darah ini. Betapa terkejutnya saat ia melihat bukan seekor, bahkan tiga ekor kelinci putih telah mati dengan isi perut yang keluar.


Tubuh Audrina begetar melihat itu. Ia merasa ada yang tidak beres. Sepertinya lemparan batu bata tadi siang, tulisan di jendela dan kelinci mati ini adalah sebuah teror.

__ADS_1


Audrina dalam bahaya.


...---...


__ADS_2