Love In Siren

Love In Siren
Bahasa Elliniká


__ADS_3

"Bagaimana kondisi kamu sekarang, Zayn?" tanya Audrina sambil merapikan gelas yang sudah kosong diatas meja bar.


Zayn tersenyum tipis, "aku baik-baik saja, Na. Jangan khawatir," sahutnya dengan suara khasnya yang dalam.


"Syukurlah," seru Audrina.


Setelah selesai merapikan dapur dan ruang tamu yang sempat mereka gunakan, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat. Terutama untuk Zayn dan Audrina yang pasti merasa penat dengan perjalanan hari ini, apalagi tubuh mereka belum terbiasa menahan tekanan bawah air yang cukup menguras tenaga itu.


Suasana malam hari sudah terlihat jelas menutupi langit terang mengganti matahari dengan bulan yang tidak kalah indah dari hamparan bintang disekitarnya. Kecantikan monotonnya membuatnya lebih unggul daripada kerlipan tipis yang berusahan menyaingi keindahan alaminya.


Dari balik jendela kamarnya, Audrina meniti keindahan bulan yang tampak berbeda dari yang lain. Jiwa insecure pada dirinya mulai keluar, seakan tertarik magnet yang sangat kuat hingga masuk kepikirannya. Ia akhirnya kembali ke fase overthinking.


"Kenapa kamu beda sendiri? Semoga kamu tidak dikucilkan oleh bintang-bintang disekitarmu ya, bulan," monolognya berusaha berbincang kepada bulan penuh yang kini telah bersinar menerangi langit malam yang temaram.


Saking terlalu terhanyut dengan pandangan dan pikiran yang hilir mudik di benaknya, Audrina sampai tidak menyadari keberadaan Aoi yang sudah bersandar dibalik pintu kamarnya. Ia melihat punggung Audrina yang tampak bergerak senada dengan hembusan napasnya, sinkronisasi yang sangat indah dari sang pencipta.


Aoi sempat mendengarkan kicauan pelan Audrina yang bergumam sendiri, namun ia tidak berniat untuk mencampuri. Hanya membiarkannya menyendiri tanpa adanya interaksi.


Netra coklatnya terus berkedip mengagumi langit tanpa bisa mengkritik. Hembusan sepoi angin malam masuk menghampiri Audrina. Menyentuh pelan surai hitam panjangnya hingga tangannya berusaha menjepitkan rambut yang menghalangi pandangannya ke belakang telinganya.


"Dingin," gumam Audrina sambil menggosok pelan lengan atasnya, "tidur ah, besok ada kelas pagi," ucapnya seraya menutup jendela kamarnya dan menguncinya rapat.


Audrina berbaring di atas tempat tidurnya, setelah berdoa ia pun menarik selimutnya dan beberapa menit kemudian sudah masuk ke alam mimpinya. Biasanya akan membutuhkan waktu lama sampai ia tertidur pulas, mungkin karena tubuhnya yang kelelahan membuatnya lebih cepat untuk terlelap.


Tanpa sadar sudut bibir Aoi naik keatas, mengukir lekungan manis yang membuat wajahnya sangat tampan saat ini. Senyuman khusus yang selalu ia tunjukkan kepada Audrina bahkan Amber saja tidak pernah mendapatkan senyuman manis seperti itu saat mereka berbincang.


Dengan langkah yang berhati-hati, Aoi mendekati Audrina. Saat Audrina berbalik badan dari yang semula memunggunginya sekarang sudah menghadap ke atas. Anak-anak rambut yang menghalangi wajah tenang Audrina dengan lembut disingkirkan oleh Aoi.

__ADS_1


Aoi sedikit membungkuk, "mimpi indah, Ody," bisik Aoi pelan sambil mengecup lembut dahi Audrina dengan senyum yang terus terukir di wajanya.


Di sisi lain, Zayn tengah merapikan tempat tidurnya karena ia sangat sulit jika tempat tidur yang akan ia tiduri berantakan dan tidak tertata dengan sempurna. Tidak boleh ada sudut yang berkedut dan posisi bantal yang harus sejajar, ditambah selimut yang harus terlipat rapi di atas kasur.


Tingkat OCD menengah seperti Zayn memang harus dimaklumi.


"Thania, tolong tahan ujung kasur itu ya. Aku akan menarik bagian sebelah sini," ucapnya meminta tolong kepada Thania yang terus mengekornya sejak tadi.


Thania memiringkan kepalanya, "ujung kasur yang mana maksudnya?" nada suara bingungnya menggambarkan segala bentuk kenaifannya dengan jelas.


Zayn terkekeh pelan, "itu yang ada di depan kamu," tuntunnya, masih tidak mengerti dengan apa yang ditertawakannya sendiri.


"Ini?" tanya Thania sambil menyentuh ujung kasur sesuai dengan arahan Zayn.


Zayn mengangguk, "iya benar. Caranya ikutin aku, seperti ini," ujarnya sambil memberi arahan kepada Thania.


Setelah selesai, Zayn akhirnya memutuskan untuk tidur karena badannya sudah sangat kelelahan. Ia sempat menawari Thania untuk tidur di kasur, hanya saja penjelasan Thania bahwa siren tidak tidur akhirnya membuat ia kembali mengambil tahtanya untuk tidur.


"Selamat tidur Zayn, " ucap Thania seraya menutup pintu kamar dan membiarkan Zayn beristirahat.


Thania keluar dari kamar Zayn bersamaan dengan Aoi yang turun dari tangga lantai atas. Mereka berdua berjalan mendekati sofa ruang tamu kemudian melanjutkan untuk berdiskusi mengenai langkah mereka selanjutnya.


Mereka harus segera mengajarkan Audrina dan Zayn yang notabenenya adalah dariás tentang mantra level awal dari buku Wilona untuk menjadi pondasi awal pertahanan diri mereka. Cepat atau lambat mereka akan berhadapan langsung dengan siren merah, setidaknya mereka bisa melindungi diri mereka sendiri misalnya ada yang terjadi dengan Aoi atau Thania nantinya.


Aoi meletakkan buku Wilona di atas meja kaca diruang tamu Villa, cahaya kebiruan mulai menyebar menyinari sekitaran buku yang membuatnya menawan.


Tangan Aoi membuka lembaran halaman pada mantra level pertama, "kita harus mengajarkan mereka matra level pertama, tapi mereka bahkan tidak bisa membaca tulisan di buku ini," keluh Aoi menyadari para dariás yang buta huruf bahasa nenek moyang mereka.

__ADS_1


Thania mangut-mangut, "langkah pertama kita harus mengajari mereka bahasa kita."


"Itu pasti membutuhkan waktu yang lama," sanggah Aoi langsung.


Thania menggelengkan kepalanya, "mereka itu sangat pintar, aku yakin dalam waktu singkat mereka bisa menggunakan bahasa kita, Aoi. Percayalah," bujuknya yakin dengan kemampuan kedua dariás yang memang sangat pandai.


Aoi menghela napasnya, "kalaupun mereka bisa, paling juga satu bulan baru paham. Itu sangat lama dan pasti tidak akan terkejar," sergahnya lagi.


Thania terdiam sejenak, menimang apa yang seharusnya mereka lakukan. Perkataan Aoi ada benarnya juga, sebulan adalah waktu ideal untuk mereka belajar menguasai setidaknya bahasa dasar dari mereka yaitu bahasa Elliniká.


"Sepertinya kita harus memanipulasi gen mereka," ucap Thania tiba-tiba.


Aoi mengernyitkan dahinya, tidak mengerti dengan maksud dari ucapan memanipulasi gen menurut pandangan Thania.


"Maksud kamu?"


Thania menhadapkan tubuhnya ke arah Aoi, "memanipulasi gen mereka, sekaligus pemikiran mereka agar mengingat bahasa yang digunakan nenek moyang mereka tanpa sadar. Aku yakin, keahlian mereka hanya tertutupi dengan sisi manusia mereka. Kita hanya perlu menonjolkan sisi siren mereka, agar seimbang," jelasnya dengan serius. Seperti hal ini pasti berhasil atau bahkan pernah dilakukan sebelumnya.


Aoi tampak setuju dengan Thani, hanya saja bagaimana caranya?


"Bangun sisi bawah sadar mereka, seperti hipnotis. Kamu pernah melakukannya kan?" tanya Thania kepada Aoi.


Aoi mengangguk, "pernah. Semoga saja berhasil."


"Aku yakin pasti berhasil," Thania memantapkan suaranya.


Semoga mereka berhasil memanipulasi gen agar paham dengan bahasa nenek moyang mereka.

__ADS_1


...------...


__ADS_2