Love In Siren

Love In Siren
Mantra Pertama : Unlocked


__ADS_3

Keesokan paginya saat mereka sudah berkumpul di ruang makan, Aoi dan Thania langsung memulai berbincang mengenai pembelajaran bahasa baru untuk kedua dariás ini. Tentu saja hal itu membuat Audrina dan Zayn bertanya-tanya tentang kemustahilan belajar bahasa asing dalam waktu kurang dari seminggu itu.


"Ha? Bahasa apa?" tanya Audrina karena merasa asing dengan ucapan Aoi dan Thania yang tiba-tiba saja menyuruh mereka belajar bahasa asing.


"Ellinikà, bahasa ibu kamu," jelas Thania dengan sabar.


Audrina mengernyitkan dahinya, "bahasa yang kalian bicara itu? Mana bisa kalau cuma tiga hari langsung paham. Mustahil," sergahnya tidak percaya, menurutnya hal itu sama sekali tidak logis. Bukan dirinya saja yang berpikiran seperti itu, Zayn juga, mungkin manusia lain juga akan berpikiran hal yang sama.


"Benar kata Audrina. Mustahil dalam 3 hari langsung paham bahasa baru," sahut Zayn menyetujui ucapan Audrina.


Thania menghela napasnya wajar, seperti tau akan reaksi mereka berdua. Ia pun melirik ke arah Aoi yang sejak tadi hanya diam saja di kursinya. Merasa risih, Aoi menatap balik manik mata Thania yang memberi isyarat untuk segera memberitahukan pembahasan mereka semalam.


Aoi mengalah, "tentu saja, kami juga berpikir demikian," imbuhnya.


"Lah, terus?" tanya Zayn bingung sendiri.


"Karena itu, kami sepakat memberikan jalur alternatif kepada kalian agar kalian bisa menguasai bahasa itu dalam kurun waktu 3 hari," seru Aoi sambil melipatkan tangannya di depan dadanya.


Audrina dan Zayn yang tidak paham maksud dari ucapan Aoi hanya bisa saling memandang satu sama lain, lalu terdiam termangu sambil mencoba memahami maksud ucapan Aoi.


Seperti mengerti dengan kebingungan mereka, Aoi beranjak dari duduknya dan menarik kedua orang itu untuk mengikutinya ke halaman belakang villa mereka yang sedikit tertutup dari dunia luar. Di susul Thania yang membawa sebuah kristal berukuran sedikit lebih kecil dari bola voli didekapannya.


Audrina dan Zayn tidak banyak bertanya akan hal itu, mereka hanya mengikuti kehendak Aoi tanpa ragu karena yakin akan ada penjelasan dibaliknya nanti.


"Kalian duduk di rumput itu, saling berhadapan," titah Aoi yang langsung dilakukan oleh mereka berdua sesuai arahannya.


Saat mereka sudah duduk berhadapan, Thania meletakkan bola kristal tadi di tengah-tengah mereka berdua lalu menuntun kedua tangan mereka untuk menyentuh bola kristal itu dengan lembut.


Selanjutnya, Aoi dan Thania berdiri di belakang mereka berdua untuk mengayomi ritual singkat yang akan mereka lakukan selepas ini.

__ADS_1


"Kita mau ngapain sih?" tanya Zayn yang sudah gatal ingin bertanya maksud dan tujuan Aoi dan Thania sejak tadi.


Thania tersenyum tipis, "kalian akan melakukan ritual manipulasi gen. Karena orang tua Zayn bukan dariás, maka kamu juga akan mengikuti rangkaian ritual sesuai dengan gen Kena selaku ibunya Audrina," terangnya.


Manipulasi gen? Sebenarnya apa yang ingin mereka lakukan?


Manipulasi gen adalah hal lumrah yang biasa dilakukan dariás terdahulu untuk mengenang leluhur mereka. Bukan hanya itu, hal itu dilakukan untuk mengingat kembali budaya mereka, kekuatan mereka dan bahasa yang melekat ditubuh mereka lewat gen atau DNA yang diwariskan secara turun temurun. Karena tidak sedikit yang sekedar lupa atau kesulitan mengingat itu semua, sangat dianjurkan untuk mereka melewati ritual ini. Di mana ritual ini sudah masuk sebagai adat istiadat dariás secara turun-temurun.


Sesuai cerita dan teori yang diajarkan, hal ini tidak sulit untuk dilakukan apalagi oleh awam seperti Thania dan Aoi yang hanya mengetahui ini dari cerita mulut ke mulut sedari mereka kecil.


Zayn menoleh ke arah Thania, "kalian pernah melakukannya?" tanyanya.


Thania menggeleng, "ini pertama kalinya untuk dariás,"


"Apa kalian yakin akan berhasil?" tanya Audrina.


"Tentu saja," sahut Aoi yakin, "kalau tidak yakin kami tidak akan mengajukan hal ini kepada kalian."


Setelah pembicaraan yang cukup panjang, Aoi memerintahkan mereka untuk berada diposisi mereka sementara Thania membacakan mantra pembuka manipulasi gen dengan tangan yang menyentuh bola kristal itu, bedanya ia menggunakan bahasa albania.


"Hape kujtesën e vjetër, hap kujtimin e kaluar," (Bukalah ingatan terdahulu, bukalah ingatan masa lalu).


Sesaat setelah Thania membaca mantra itu, cahaya putih terang keluar dari bola kristal itu di mana cahaya mulai menjalar ke dari tangan mereka berdua hingga ke ubun-ubun dan akhirnya ke seluruh tubuh mereka.


Dengan cepat, kilas balik masa-masa sebelumnya muncul seperti putaran scene film yang biasa mereka tonton. Semua kenangan masa lampau juga masuk menanamkan ingatan ke memori mereka berdua, seperti hal yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Tanpa sadar, mereka seperti pernah hidup di kehidupan selanjutnya bedanya saat ini mereka kembali melanjutkan kenangan itu yang akan diturunkan ke anak cucu mereka nantinya.


Dengan mata terpejam, Audrina mulai berusaha menyesuaikan semua kilasan balik yang secara bertubi-tubi memenuhi pikirannya. Begitu pula dengan Zayn, yang seperti menikmati hal itu terlihat jelas dari kekehannya yang tiada henti keluar dari mulutnya.


Cahaya yang semula terang perlahan meredup beriringan dengan mata Audrina dan Zayn yang terbuka, itu pertanda bahwa ritual ini berhasil mereka lakukan.

__ADS_1


Thania mengambil bola kristal itu, lalu Aoi mengantikannya dengan membuka buku Wilona pada halaman mantra level pertama. Untuk membuka pertahanan level pertama, siapapun yang ingin mempelajarinya harus bisa membaca tulisan yang berada dihalaman awalnya.


Tanpa bantuan siapapun.


"Baca tulisan di halaman itu," titah Aoi kepada mereka berdua.


Audrina memandang halaman yang terdapat tulisan asing yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya. Namun, entah mengapa ia seperti tau cara mengucapkan kalimat itu tanpa ia sadari. Zayn melirik Audrina, memberi isyarat untuk membaca tulisan pada halaman itu secara bersamaan.


"An thélete na eíste asfaleís, kryfteíte. an théleis na epivióseis kryfteís. To na krývesai den simaínei óti cháneis, allá elachistopoieís tin apotychía chorís na skéftesai," ucap mereka berbarengan dengan arti (Jika kamu ingin aman, sembunyilah. Jika kamu ingin bertahan, sembunyilah. Bersembunyi bukan berarti kalah, tapi kamu meminimalisir kegagalan tanpa pikir panjang).


Setelah kalimat pembuka itu di ucapkan, halaman awal mantra pertama buku Wilona tentang persembunyian akhirnya terbuka dan bisa dipelajari sesuai arahan pelatih yang ditunjuk oleh Amber dan sesepuh lainnya, yaitu Thania dan Aoi.


Ada rasa tidak percaya di benak Audrina dan Zayn, saat menyadari mereka bisa dengan mudah berbicara bahasa yang sangat tidak mungkin di kuasai dalam beberapa menit saja. Ini sangat jauh dari kata ketidaksegajaan saja, ini benar-benar sangat luar biasa.


Untuk kesekian kalinya mereka berdua takjub dengan keajaiban yang ditunjukkan siren ini.


Audrina menatap manik mata kehijauan Aoi dengan bahagia, begitu pula Zayn yang mengajak Thania untuk hi five atau bertos ria.


"Kita berhasil!" teriak Zayn dengan bangga.


Thania tertawa pelan, "iya, akhirnya kami bisa mengajari kalian tentang level awal mantra buku Wilona," sahutnya.


"Jangan senang dulu, kalian baru bisa membacanya. Tapi, kalian belum bisa berbicara lancar. Untuk hal itu kalian harus belajar selama 3 hari ini, bersamaan dengan pembelajaran mantra," tukas Aoi dengan nada serius.


"Benar kata Aoi. Nanti selama pembelajaran, kami akan menggunakan bahasa Elliniká dan kalian harus membiasakan diri," seru Thania seraya menutup buku Wilona dan memberikannya kepada Aoi.


Audrina mengangguk, "baiklah. Kami akan berusaha," mantapnya sambil menggepalkan tangannya, yakin.


"Benar. Namun untuk saat ini, kita memang sudah berhasil," ucap Zayn dengan nada bangga dan tertawa bahagia.

__ADS_1


Mereka berhasil. Mantra pertama : Unlocked.


...-----...


__ADS_2