
Zayn masih terduduk di ujung tempat tidur Audrina dengan perasaan gundah gelana, berusaha mencerna semua cerita yang baru saja dijelaskan oleh Audrina kepadanya. Dari pertemuan awal saat Audrina tenggelam, racun yang membunuh ibunya, teror yang menimpa Audrina karena dirinya ternyata adalah keturunan setengah siren, semua itu sangat tidak bisa diterima oleh akal sehatnya saat ini.
Audrina juga menceritakan kepadanya tentang jóias yang harus didapatkan untuk menjaga kehidupan kaum siren danau dan salah satu penyebab Audrina dalam bahaya. Terlalu banyak informasi yang diterima Zayn secara bersamaan membuat otaknya tidak bekerja dengan maksimal saat ini.
Audrina terpaksa harus menceritakan semua itu, selain agar Zayn tidak panik setelah melihat Aoi dan juga untuk menjelaskan situasi yang dialami Audrina saat ini. Namun, bukannya membuat Zayn mengerti dan memaklumi, hal itu malah semakin membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Pikirannya sudah kemana-mana.
"Jadi selama ini mama kamu itu keturunan siren?" tanya Zayn lagi dan lagi berusaha untuk mensinkronkan telinga dan otaknya dari apa yang disampaikan oleh Audrina.
"Iya, Zayn. Aku juga baru tau akhir-akhir ini," Audrina menyingkap rambutnya untuk menunjukkan tanda di tengkuknya kepada Zayn.
Tanda itu jelas membuat Zayn sedikit percaya, karena selama ini tanda itu tidak pernah ia lihat sebelumnya. Hembusan napas kasar mulai terdengar dari Zayn yang masih mencerna semua informasi yang begitu banyak ia terima hari ini. Otaknya sudah penat.
Audrina berjalan mendekati Aoi dan berdiri disampingnya untuk mengatakan sesuatu. Mungkin karena masih dengan kondisi panik sekaligus ketakutan yang luar biasa, Zayn dengan cepat langsung menarik Audrina agar menjauh dari Aoi. Aoi yang melihat itu tentu sangat kesal hingga membuatnya bangkit dari duduknya.
"Apa yang kau lakukan? Jangan menarik Ody sembarangan seperti itu!" ketus Aoi yang merasa tersinggung dan kesal melihat Zayn dengan asal menyentuh Audrina. Dalam benaknya, Audrina adalah miliknya dan hanya dirinya yang boleh menyentuhnya.
Zayn tidak menggubris Aoi dan malah menyembunyikan Audrina di belakangnya, "tentu saja untuk menjauhkan Audrina dari makhluk sepertimu," sergah Zayn tidak kalah kesal. Ia masih belum terbiasa melihat Audrina bersama dengan Aoi yang menurutnya sangat berbahaya itu.
Napas Aoi terdengar lebih berat dari biasanya. Sisik di tubuh Aoi tampak lebih bersinar, tanda ia siap menyerang kapanpun ia mau
"L-lihat! Dengan amarahmu yang seperti itu, bagaimana mungkin Audrina bisa aman di dekatmu!" Zayn menyudutkan Aoi. "Jangan dekati Audrina!" teriaknya lagi dengan oktaf suara yang meninggi, getaran nada yang takut terdengar dari suaranya itu.
Emosi Aoi justru semakin naik dan membuat kuku jarinya meruncing merasa kesal terus menerus di sudutkan oleh Zayn. Rasa was-was mulai muncul dari diri Zayn dan kembali menyembunyikan Audrina lebih dekat denganya lagi. Netra mereka bertubrukan, berusaha mengintimidasi satu sama lain dan mengambil hak atas Audrina yang masih diam saja melihat pertengkaran mereka berdua.
"Jangan sentuh Ody!" teriak Aoi kesal. Iris matanya kembali melebar membuat mata hijaunya terlihat penuh.
"Harusnya aku yang bilang seperti itu!" sahut Zayn tidak mau kalah.
Aoi dan Zayn saling beradu tatapan, tidak henti-henti berusaha untuk mengintimidasi satu sama lain. Audrina yang semula diam semakin jenuh melihat itu, tentu ia tidak bisa terus diam saja dan harus menghentikan kegilaan mereka atau akan ada yang terluka nantinya. Audrina melepas tangan Zayn dan berlari diantara kedua laki-laki itu, menghadang mereka untuk berhenti seraya mengkondusifkan suasana yang sudah sangat tegang ini.
"Cukup! Kalian jangan seperti ini lagi," tukas Audrina memandang kedua laki-laki itu secara bergantian.
"Bilang itu ke dia, Na." Zayn berusaha mendapatkan pembelaan Audrina.
Aoi tidak merespon, ia hanya memandang Audrina yang menatapnya. Tatapan Audrina seperti mengatakan kepada Aoi untuk tenang dan jangan melakukan hal yang menyakiti atau menakuti orang lain. Seakan mengerti, Aoi akhirnya menurunkan sisik dan menetralkan emosinya secara perlahan. Untung saja ada Audrina, kalau tidak Aoi tidak akan bisa menahan diri lagi.
Zayn terlihat bernapas lega saat melihat Aoi yang sudah mulai bersikap lebih tenang dari sebelumnya. Ototnya yang semua menegang akhirnya kembali rileks.
"Belum kenal aja udah berantem," seru Audrina, "jangan nanti kalian malahan sampai benci jadi cinta," ledek Audrina menggoda mereka.
Zayn menggeleng cepat sampai bulu kuduknya merinding mendengar pernyataan Audrina, "ih apan, amit-amit banget," sanggahnya.
"Tidak Ody, aku cintanya sama Ody aja," sahut Aoi sambil tersenyum lembut ke arah Audrina, seperti melupakan kehadiran Zayn di sana.
Bugh...
Wajah Aoi tiba-tiba dilempar bantal oleh Zayn yang kesal mendengar jawabannya itu. Aoi menghela napasnya kasar dan memincingkan matanya kearah Zayn yang bersiap untuk menerjangnya kapan saja. Merasa terintimidasi kembali, Zayn bersembunyi di belakang Audrina.
__ADS_1
Benar-benar lelaki satu ini, sudah ia yang memancing keributan dirinya pula yang mencari perlindungan.
"Apa?!" Zayn mengancam Aoi dengan bantal lain yang sudah dipegangnya, sambil bersembunyi di belakang Audrina.
"Aoi sabar," Audrina menaik turunkan tangannya memberi isyarat sabar kepada Aoi. "Zayn apa-apaan sih!" kesal Audrina.
Zayn mengerutkan dahinya, "kok aku? Dia tuh asal ngomong sembarangan aja. Pake acara ngomong cinta cintaan segala."
"Bukan salah aku kalo kamu hari ini ketemu malaikat ya," ucap Aoi sengit.
"Aoi jangan!" bujuk Audrina.
Aoi mengambil bantal yang tadi dilempar ke wajahnya, sedikit meregangkannya dan memposisikan tangannya untuk membalas balik.
Bugh...
Audrina mematung dengan mulut mengangga kaget. Lemparan Aoi tepat sekali mengenai wajah Zayn. Namun parahnya lagi bukan hanya wajahnya yang mendapat serangan intens itu, tubuh Zayn juga sampai sedikit terlempar dan jatuh telentang saking kuatnya lemparan yang diberikan oleh Aoi.
Melihat kondisi yang seperti ini, otomatis Zayn kalah telak.
"Huh, rasain. Untung cuma pake seperempat tenaga aja," ejek Aoi sambil menepuk-nepuk tangannya seperti membersihkan debu, lalu ia berjalan dan duduk kembali di kursi melihat Zayn yang meringis memegang pingangnya yang sakit.
Audrina membantu Zayn yang kesulitan untuk duduk karena sakit dipingangnya yang belum mereda. Sambil meringis Zayn berusaha untuk mendudukkan dirinya bersandar ditembok ruangan. Aoi yang melihat itu hanya memutarkan matanya jengah melihat kedekatan Audrina dan Zayn.
"Masih sakit banget, Zayn?" tanya Audrina khawatir.
"Gak usah manja, ya. Walaupun kamu menyebalkan aku tidak pernah menyakiti ándras lemah seperti kamu." Bantah Aoi saat Zayn mencoba untuk mengeluh.
"Hah? Siapa ándras?" tanya Zayn sedikit nyolot.
"Kalian lah, para manusia," jawab Aoi datar.
Zayn mengalihkan pandangannya dari Aoi. "Na, kenapa gak kamu usir aja dia sih?"
"Harusnya kamu yang diusir!" Sahut Aoi tidak terima.
Zayn membulatkan matanya kesal. "Eh, apaan deh. Siapa kamu mau usir-usir aku?!"
"Kamu tuh yang siapa?! Aku lebih dulu kenal Ody ya daripada kamu."
"Kenapa jadi kesana? Gak ada hubungannya!"
"Jelas ada dong!"
"Sudahlah, makhluk berbahaya seperti kamu tidak baik dekat-dekat Audrina!"
"Justru cuma aku yang bisa jaga Ody!"
__ADS_1
"Kamu-"
"BERHENTI!!" Teriak Audrina kesal dengan perdebatan kedua laki-laki yang masih saja bertengkar tidak jelas seperti mereka ini. "Kalo masih berantem aku usir kalian berdua!" Ancam Audrina.
Mendengar ancaman Audrina itu spontan membuat Aoi dan Zayn mendengus kesal lalu memalingkan wajahnya satu sama lain. Tidak ada perdebatan lagi setelah itu. Daripada nantinya malah diusir oleh Audrina, mereka lebih memilih mengutuk satu sama lain didalam hati mereka masing-masing.
Saat suasana sudah hening, tiba-tiba terdengar suara nyaring yang memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.
Wuingg.....wuinggg...
Mereka bertiga langsung dengan cepat menutup telinga kuat-kuat, berusaha menahan gelombang suara yang sangat tinggi itu. Kepala mereka yang mendengar suara itu berdengung hingga ke saraf, membuat mereka menutup mata keras karena sakit akibat dengungan menyebar ke mata mereka.
"Akh!" Audrina menutup telinganya hingga ia meringkuk di lantai.
Zayn menekan tangannya ke telinga namun masih saja menyakitkan untuk didengar. "Sial!" umpatnya kesal.
Aoi menyipitkan matanya berusaha mengintip keadaan Zayn dan Audrina yang sudah sangat kesakitan itu. Tangannya dengan cepat tergerak untuk mengambil sebuah benda bewarna hijau dari saku celananya.
Itu adalah alat menyumbat telinga yang terbuat dari anak batu jóias yang dibuat oleh leluhur mereka dulu. Aoi memasang penyumbat itu terlebih dahulu ke telinganya lalu memasangkannya juga ke telinga Audrina dan Zayn.
Audrina dan Zayn sudah terlihat lemas sekali walau penyumbat itu sudah terpasang. Telat sedikit saja, mereka bisa kehilangan pendengaran dan penglihatan mereka.
Napas Aoi terdengar letih, jantungnya berdebar sangat kencang setelah mendengar suara nyaring itu.
Samar-samar suara itu mulai menghilang namun Aoi memberikan isyarat untuk jangan melepaskan penyumbat telinga mereka terlebih dahulu. Zayn dan Audrina hanya menurut saja dan tidak berani menyentuh penyumbat yang ada ditelinga mereka.
Aoi berjalan mendekati jendela kamar Audrina untuk mengintip keluar. Di danau terlihat ada percikan hempasan air seakan baru saja ada yang jatuh kedalamnya.
Setelah dirasa aman, Aoi membuka penyumbat telinganya diikuti Zayn dan Audrina.
"S-suara apa itu?" tanya Zayn gemetar.
"Sepertinya itu Kiesa, pelolong siren merah." Jawab Aoi dengan wajah serius, "kalian simpanlah alat penyumbat itu. Untuk mengantisipasi jika kalian mendengar hal seperti ini lagi." Tukas Aoi.
Audrina tampak menyatukan alat penyumbat itu dan digenggamnya erat. "Kalau bukan karena alat ini, sepertinya pendengaran dan penglihatan kita bisa rusak." Imbuhnya pelan.
Zayn mengangguk setuju. "Kepalaku seakan ingin meledak ," timpalnya.
"Ody, kamu sudah menjadi incaran mereka. Kamu benar-benar dalam bahaya sekarang. Kita tidak bisa lengah." Aoi menatap lekat Audrina yang masih terduduk di lantai.
"Bagaimana ini, Aoi? Kita tidak tau apa yang akan dilakukan mereka kedepannya."
"Untuk itu serahkan padaku." Ucap Aoi.
Mereka harus benar-benar memikirkan cara apapun untuk melindungi Audrina dari serangan siren merah. Kali ini, Zayn ikut menjadi bagian didalamnya.
...-----...
__ADS_1