Love In Siren

Love In Siren
Membuka Portal Hutan Pinus


__ADS_3

"Eit!" potong Thania sambil menaikkan tangannya ke udara, "Chorís anthrópini glóssa," (tidak boleh bahasa manusia).


Zayn menutup mulutnya sambil berpikir, "entáxei," (baiklah).


"Min xecháseis! Óla gia tin isorropía", (Jangan lupa! Semua tentang keseimbangan) peringat Aoi lagi hingga beberapa detik kemudian kedua siren itu menghilang di hadapan Audrina dan Zayn yang seperti belum siap dengan apa yang terjadi barusan.


"M-mereka hilang?" gumam Audrina yang sudah terduduk lemas di lantai.


"A-aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat barusan," gumam Zayn membeku.


Kedua dariás itu syok, tidak pernah menyangka akan melihat hal yang diluar batas kewajaran lagi untuk kesekian kalinya. Zayn membantu Audrina berdiri, memapahnya untuk duduk di salah satu kursi kayu yang berada di ruangan itu.


Aoi dan Thania yang semula menghilang kembali muncul di tempat yang sama dengan cahaya yang menyilaukan mata keluar dari sisik mereka. Zayn dan Audrina harus sedikit menyipitkan mata mereka saat kemunculan mereka kembali hadir di ruangan itu.


Terlihat wajah tegang mereka yang menjadi perhatian kedua siren itu, sudah menyangka akan raut wajah yang akan mereka lihat nantinya dari kedua dariás itu. Aoi dan Thania berjalan mendekati Audrina dan Zayn yang berada di ujung ruangan.


Aoi menghela napasnya, "apa kalian terkejut?" ucapnya masih dengan bahasa Elliniká, karena sesuai kesepakatan mereka sebelumnya bahwa mereka tidak akan lagi berbicara bahasa manusia dalam waktu dekat ini. Hal ini dilakukan agar Audrina dan Zayn semakin terbiasa.


Audrina mengangguk kaku, "sedikit," jawabnya dengan bahasa yang sama. Namun, kekakuan pengucapan masih terasa di lidahnya.


"Wajar kok, kalian belum terbiasa akan hal ini," imbuh Thania.


"Benar," sahut Zayn, "tapi, nanti kami juga akan terbiasa. Soalnya ini adalah hal pertama yang harus kami kuasai. Bukankah begitu?" tanya Zayn masih dengan penuturan yang asal jadi, tidak peduli grammar benar atau salah yang penting ia tidak menggunakan bahasa manusia.


Thania terkekeh pelan, "bahasa yang kamu ucapkan masih asal-asalan sekali, Zayn," ejeknya.


Zayn memincingkan matanya, "namanya juga masih belajar. Huh, jangan mengejekku!" kesalnya.


"Baiklah baiklah. Maafkan aku ya," bujuk Thania sambil menepuk pelan pundak Zayn.

__ADS_1


Zayn hanya menggerutu sambil memanyunkan bibir sebagai jawabannya. Thania tertawa kecil melihat hal itu, begitu pula Audrina yang akhirnya bisa menetralkan kondisi pikirannya saat ini.


Memang terlihat sangat mudah untuk menguasai teori tentang pelajaran pertama mereka. Tentang kegunaan atau fungsi menguasai mantra itu, tentang hal yang harus dan tidak boleh dilakukan saat menggunakan mantra itu, dan masih banyak hal lainnya. Tapi, itu hanya teori-teori belaka. Prakteknya tidak semudah pemaparan teorinya, bahkan kekurangan detail sedikit saja bisa gagal langsung.


Sebelum masuk ke inti latihan mereka, terlebih dahulu mereka diajarkan untuk membuka portal menuju hutan pinus yang berada di sekitaran danau. Mereka harus membukanya dengan menggunakan air di ember yang disiapkan Thania tadi.


"Aku akan menunjukkan caranya. Perhatikan baik-baik," titah Aoi tegas.


Audrina dan Zayn menganggukkan kepala mereka berbarengan. Netra mereka pun difokuskan kepada Aoi yang tengah berdiri di dalam ember yang berisi air danau itu.


Tangan Aoi mulai bergerak meraup udara dengan mengarahkan tangannya ke atas, lalu mengusap perlahan dari kepala hingga torso. Netranya perlahan tertutup, bersamaan dengan mantra yang terucap lancar dari bibirnya.


"Kúba Talpor Ińca."


Bersamaan dengan mantra yang diucapkan, Aoi meluruskan tangannya ke depan dan mengusap udara seperti mengambarkan huruf u terbalik. Hingga muncul sebuah portal seperti ruang dimensi waktu yang berkabut dan terpaan angin dingin dengan suara desiran halus seperti sentihan dedaunan yang tertiup angin.


Audrina dan Zayn tentu kembali takjub. Mata mereka berbinar seakan kilauannya bisa sampai terlihat dengan mata telanjang sekalipun.


"Sekarang giliran kalian," ucap Thania sambil tersenyum tipis, "siapa yang mau duluan?"


Audrina dan Zayn saling pandang satu sama lain. Kemudian Audrina mengangguk ke arah Zayn, memberikan jawaban dalam telepati yang sepertinya mereka semua tau jawabannya.


"Aku saja," ucap Audrina, walau nada suaranya tidak yakin tapi ia kembali memantapkan hatinya untuk melangkah terlebih dahulu.


Thania mengangguk, "baiklah. Silahkan berdiri di sebelah Aoi. Ingat, jangan sampai melewatkan detail yang sudah kami ajarkan," peringat Thania.


Audrina mengangguk, pikirannya kembali mengulang semua detail pembelajaran yang sudah diajarkan. Perlahan ia kembali mengucapkan urutan-urutan itu dalam pikirannya, seperti kalian waktu kecil disuruh untuk berbelanja dan menghapalkan daftar belanjaan di kepala dan mulut kalian agar tidak lupa.


Kaki Audrina perlahan masuk ke dalam ember. Ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba saja merinding bersamaan dengan sentuhan kakinya dengan air itu. Ada sensasi aneh yang menjalar ke tubuhnya saat ini.

__ADS_1


Audrina menoleh ke arah Aoi, "ingat, Ody. Jangan lupa atur napas dan kosongkan pikiran kamu, fokus ke tujuan akhir kamu!" ucap Aoi mengingatkan Audrina yang sedang menatapnya itu.


"Baik," jawab Audrina.


Audrina kembali meluruskan pandangannya ke depan. Ia menarik napasnya dalam-dalam, berusaha menenangkan pikirannga.


Dengan perlahan, ia mengikuti semua rangkaian gerakan yang dilakukan Aoi tadi. Namun, saat gerakan terakhir saat ia harus mengusap udara dan menggambarkan huruf u terbalik akan ia lakukan, malah membuat percikan seperti api mulai keluar di hadapannya hingga ia terpental ke belakang.


"Argh.." teriaknya tertahan.


Aoi dengan sigap langsung menangkap tubuh Audrina yang hampir menabrak tembok di belakangnya. Percobaan pertamanya gagal.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aoi.


Audrina mengangguk, "aku tidak apa-apa. Pikiran aku sempat tidak fokus sehingga gambaran portalnya tidak sempurna," akunya dengan wajah menyesal.


"Coba lagi. Kamu terlalu gugup dan khawatir makanya pikiran kamu tidak fokus. Kamu harus memfokuskan pikiran kamu, Audrina. Percikan api itu terjadi karena ada benturan antara portal yang kamu buat dengan psikis kamu yang belum siap. Coba lagi," ucap Thania sambil memapah tubuh Audrina.


Audrina melirik Thania, "baik," jawabnya dengan yakin.


"Semangat Audrina!" ucap Zayn menyemangati. Ia sangat yakin bahwa Audrina akan berhasil.


Audrina kembali berjalan mendekati ember itu. Ia kembali masuk dan menggerakkan semua rentetan sesuai urutannya. Dengan aturan napasnya yang mulai stabil, sebelum masuk ke dalam gerakan inti ia menutup perlahan matanya untuk memusatkan fokus pikirannya.


"Fokus Audrina," gumamnya pada diri sendiri.


Bersamaan dengan gerakan terakhir, Audrina membuka matanya dan menggambarkan portal udara dengan gerakan tangannya yang gemulai. Tidak lupa diikuti dengan ucapan mantranya, "Kúba Talpor Ińca."


Cahaya portal akhirnya berhasil muncul dan terbuka. Audrina berhasil membuka portal menuju hutan pinus seperti perintah Aoi dan Thania.

__ADS_1


"Aku berhasil," ucapnya sumringah dengan wajah yang tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.


...-----...


__ADS_2