Love In Siren

Love In Siren
Laporan Pembawa Berita


__ADS_3

Thania dan Vivian sudah terlebih dahulu menuju aula utama diikuti Amber dan Aoi yang menyusul dibelakang mereka. Masih dengan perasaan tidak rela untuk meninggalkan Audrina, namun ia harus tetap pergi karena keadaan darurat yang membuat Aoi harus menaati peraturan kaumnya.


Hentakan ekor mereka meninggalkan gelembung tipis berbusa yang bergerak mengikuti arah ekor yang naik dan turun, menghiasi lautan remang-remang yang hidup karena pantulan cahaya halus dari sisik mereka. Seperti lampu sorot yang menyinari sekitaran secara menyebar.


Sring...


Suara halus nan lembut lonceng menyentuh gendang rungu semua siren yang sudah berada di aula, kepala mereka menoleh bersamaan beriringan dengan netra mereka yang menatap kedepan. Satu per satu siren mulai sedikit menundukkan tubuh mereka menyambut rombongan Amber, Aoi, Thania dan Vivian yang merupakan keturunan dari para pendiri.


Sesampainya di aula, terlihat Aziel seperti bergerak menuju gundukan batu yang berada lebih tinggi dari tempat siren lain berkumpul. Aziel berhenti tepat didepan gundukan batu yang memanjang kurang lebih 5 meter. Ia meletakkan kedua tangannya diatas batu itu sambil berbisik sesuatu, seperti membaca sebuah mantra.


Sesaat kemudian, Aziel mundur perlahan seraya menengadahkan tangannya kearah atas, seperti mengangkat beban.


Krakk...


Gundukan batu itu mulai bergerak keatas sedikit demi sedikit. Terlihat ada seperti 6 pondasi yang mencuat keatas membentuk sebuah singasana yang sangat tinggi. Aziel menghempaskan ekornya perlahan untuk mundur dan bersejajaran dengan Amber.


"Kerja bagus, Ziel."


Aziel melirik kearah Amber yang menatap lurus kedepan. Ia sedikit mengangguk menjawab ungkapan Amber yang memujinya itu. Sebenarnya, memang tugasnya untuk melakukan hal itu dan tanpa bosan-bosannya Amber selalu memujinya. Sampai seperti itulah seorang Amber menghargai kinerja yang lain.


Amber masih melihat kearah singgasana yang mulai terlihat lebih jelas. Saat singgasana itu berhenti bergerak, langsung saja Amber menghempaskan ekornya bergerak menuju singgasananya yang berada di tengah-tengah. Ia pun duduk disana dan otomatis cahaya biru terang nan lembut mulai muncul dari kursi singgasananya.


Tidak ada satupun yang bersuara saat lagi saat Amber telah sempurna mendudukan kursinya. Itu adalah tanda bahwa rapat darurat akan segera dimulai.


Setelah Amber duduk dengan sempuran, 5 sesepuh lain mulai bergerak mendekati singgasana itu lalu duduk sesuai tempat mereka masing-masing. Urutan duduk dari kiri ke kanan adalah Geo, Rui, Aziel, Amber, Voya dan Alana berhadapan langsung dengan seisi ruangan. Untuk keturuan pendiri seperti Aoi, Thania dan Vivian berdiri disisi kanan tembok aula.



Semua posisi penting telah diisi oleh yang bersangkutan, waktunya rapat darurat dimulai. Aoi menatap Amber dan saat Amber memberikan isyarat, ia mulai membuka suaranya.


"Chairetó adérfia mou. Tha xekinísoume éktakti synedría." (salam saudara-saudaraku. Rapat darurat akan dimulai) terdengar suara Aoi membuka sesi rapat hari ini.


Semua perhatian tiap-tiap siren mulai berfokus pada sesepuh mereka yang duduk diatas singgasana lebih tinggi dari mereka.


"Pembawa berita, silahkan maju kedepan untuk memberikan laporan," lanjut Aoi dengan suara tegasnya.

__ADS_1


Tidak lama setelah ucapan Aoi itu, terdapat dua siren yang maju kedepan sambil memeluk batu kristal yang bewarna kehijauan seperti jamrud. Dengan sigap Thania dan Vivian membawakan meja khusus kristal yang sejak tadi berada dihadapan mereka dan memang akan dipindahkan bersamaan dengan kristal si pembawa berita itu.


Dua pembawa berita itu meletakkan kristal dengan hati-hati. Salah satu diantaranya seperti mengambil sesuatu dari balik rambutnya yang ternyata adalah sebuah botol cairan bening kental. Ia membuka tutup botol itu, lalu mengoleskannya ketangan rekannya yang selanjutnya cairan itu dioleskan keatas permukaan kristal.


"Sesepuh, inilah berita yang kami dapatkan. Sekiranya kami diizinkan menampilkannya?" tanya salah satu pembawa berita sambil menatap lurus kearah Amber.


Amber mengangguk mengiyakan, "silahkan, Khai. Aku harap laporan yang kamu dan Zoi bawakan sedarurat itu," seru Amber kalem.


Lelaki bernama Khai itu mengangguk mantap, "baik."


Khai dan Zoi menyentuh kristal itu dengan kedua tangan mereka sambil memejamkan mata mereka. Tiba-tiba cahaya seperti hologram muncul diatas mereka berdua. Ternyata itu adalah gambaran klise dari keadaan darurat yang mereka katakan.


Scene yang muncul dari pantulan hologram itu sesuai dengan apa yang ada dipikiran mereka berdua. Jika berbohong, maka akan muncul dua scene yang menunjukkan ketidaksinkronan mereka berdua. Namun, saat ini scene yang muncul hanya satu dan selaras. Mereka berdua tidak berbohong.


Disana terekam dengan jelas rombongan siren merah yang dipimpim oleh Arios sedang membajak sebuah kapal box yang berada ditengah laut tenggara yang sangat jauh dengan daratan. Terlihat mereka sedang membuat strategi untuk mengambil alih komando kapal dengan melenyapkan manusia yang berada disana. Sudah ada 3 korban.


Hal itu dilakukan agar mereka bisa bergerak bebas menuju danau tanpa dicurigai manusia lain karena mereka membawa pasukan yang sangat banyak. Mengapa hal itu bisa diketahui? Tentu saja dari kristal itu. Kesaktian kristal itu membuat adegan yang berada disana bukan hanya bisa menampilkan gambar tetapi juga bisa mendengar percakapan yang terjadi pada saat kejadian itu terjadi.


Semua mata berfokus pada hologram itu, mereka hampir tidak berkedip.


Tentu hal itu sangat berbahaya, apalagi saat ini mereka sedang kedatangan Audrina dan Zayn yanh menjadi aset mereka saat ini.


"Bagaimana ini?" bisik Aziel kepada Amber yang sedang fokus melihat laporan hologram Khai dan Zoi.


"Kita harus segera bertindak, setidaknya bergerak untuk melindungi Audrina dan Zayn. Mereka sudah menjadi keluarga sekaligus harta berharga lembah kita saat ini," tegas Amber dengan suara berbisik pula.


Adegan itu mengakhiri laporan yang dibawa oleh Khai dan Zoi. Mereka berdua membuka mata mereka smebari menjauhkan kedua tangam mereka dari bola kristal itu.


"Sekian laporan dari kami, " ucap Zoi dengan suara beratnya, sangat maskulin.


"Terimakasih Khai, Zoi. Kalian sudah bekerja dengan baik," Alana yang merupakan salah satu sesepuh disana bersuara, mewakili sesepuh lain.


Zoi dan Khai membungkuk perlahan sambil bergerak mundur beberapa senti kebelakang.


"Bagaimana sesepuh? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Aoi membuka pertanyaan awal.

__ADS_1


"Kita harus bergerak, setidaknya untuk melindungi Audrina dan Zayn. Mereka satu-satunya harapan kita," Amber bersuara tegas.


Para siren yang berada disana mengangguk setuju. Mereka setuju dengan pendapat Amber, namun namanya juga rapat pasti ada yang pro dan kontra. Rui, yang merupaka salah satu sesepuh tampak tidak setuju dengan pendapat Amber.


"Aku tidak setuju," celetuknya keras.


Semua menoleh kearah Rui. Dikenal sebagai sesepuh yang paling keras dan kolot membuatnya di cap sebagai sesepuh yang paling sulit diajak kerja sama. Mau bagaimanapun, mereka harus mendengar pendapatnya juga.


"Apa yang membuatmu tidak sepemikiran, Rui?" tanya Voya to the point.


Voya bukan tipe yang suka bertele-tele. Ia langsung menanyakan dengan jelas mengenai alasan yang menjadi pondasi kalimat Rui tersebut.


Rui menoleh, "mengapa harus melindungi orang yang baru?"


"Ha? Maksudmu?" Voya tidak mengerti.


"Kedudukannya tidak sepenting itu sampai harus dilindungi," sahut Rui lagi.


Alana mengernyitkan dahinya bingung, "lantas siapa yang menurutmu harus dilindungi kalau bukan kedua makhluk itu?"


"Para kaum siren danau, tentunya. Jangan melupakan keluarga inti kalian sampai harus melindungi makhluk baru itu," cercanya lagi. Pikiran Rui memang sangat sulit dimengerti.


"Hah.. Benar-benar.." Amber menghela napasnya berat lalu bergerak mendekati Rui.


Plak!


Dengan ayunan tangan kanannya, Amber berhasil menampar Rui dengan cukup keras hingga ia terpental kearah belakang. Rui sampai menghempas ekornya keras untuk menahan tubuhnya bergerak terlalu jauh.


"Sialan! Apa maksudmu Amber?" Rui memegang pipinya yang baru saja ditampar. Suara emosinya terdengar begitu mengerikan ditambah desisan dan taring yang spontan ia tunjukan.


Amber menatap Rui datar. "Hentikan pemikiran kolotmu atau aku sendiri yang akan membunuhmu. Tanpa Audrina dan Zayn dirimu juga tidak akan hidup lama tanpa jóias, pikirkan itu," tegas Amber membuat Rui bungkam.


Memang benar, tanpa jóias mereka hanya akan mempercepat kematian mereka. Hanya dariás yang bisa menemukannya. Tetapi, bukan hanya fakta itu yang membuatnya bungkam, tetapi juga kalimat akan 'membunuh' yang disampaikan sehingga membuat Amber terlihat lebih dingin saat ini.


Amber mode dingin dan tegas memang sangat menyeramkan.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2