
"Tenang, Kaesa adalah anak buahku yang sangat handal dalam mengemudikan kapal. Aku sudah melatihnya dengan mengemudikan kapal SS Ourang Medan dulu."
Tio kembali mendidih, mendengar Aríos tidak memiliki rasa bersalah ataupun iba saat kembali mengulik tragedi kapal itu. Namun, ia masih tidak bisa bergerak banyak karena sama seperti sebelumnya, tekanan kekuatan yang diberikan oleh Aríos dengan mudah mengunci pergerakannya.
"Apa kamu tau bahwa banyak konspirasi yang beredar tentang kapal itu?" ucap Aríos dengan wajah antusiasnya, "kenapa andrás seperti kalian suka sekali bergosip? Padahal mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Sungguh memalukan," sarkas Aríos.
Tio menghela napas kasar, dengan wajahnya yang sudah memerah dan tangan yang bergetar ia berusaha mendorong pedangnya ke depan untuk menjauhkan ujung senjata Aríos yang semakin lama semakin mendekati wajahnya.
Beda halnya dengan Tio, justru Aríos tidak merasakan beban dan kesulitan apapun saat menekan senjatanya ke arah Tio.
"Aku sempat geli sendiri mendengar banyak konspirasi aneh yang diyakini oleh kalian. Padahal, semua itu jelas kami yang melakukannya."
"...Cuma yah, biarkan saja mereka berspekulasi. Melihat kebodohan mereka yang menerima mentah-mentah berita hoax itu, sedangkan kami yang mengetahui segalanya sungguh sangat menyenangkan," lanjut Aríos lagi, berhadapan dengan Tio membuatnya lebih banyak bicara daripada biasanya.
Merasa tidak ada perlawanan dan melihat Tio yang kesulitan, Aríos memutarkan senjatanya hingga pedang di tangan Tio terlempar bersamaan dengan itu ia memukul kuat dada Tio hingga tubuhnya terpental ke belakang.
"Argh.."
Tio meringis kesakitan, sekujur tubuhnya langsung sakit menahan serangan Aríos yang sangat kuat itu. Tubuh tegapnya tidak bisa menampung beban seberat itu hingga ia merasa sia-sia saja berlatih keras selama ini. Dengan kekuatannya yang tersisa, Tio berusaha duduk dan menyandarkan tubuhnya ke tembok kapal. Saat ia berhasil duduk, mungkin karena tubuhnya yang tidak kuat menahan serangan Aríos langsung batuk darah.
Aríos berjalan ke bar dek inti, lalu duduk di salah satu kursi di sana.
"Aku kasihan denganmu, padahal kamu bisa saja melanjutkan hidup dengan berbeda profesi yang lebih menaikkan pamor dan kekayaanmu. Tapi, kamu malah mengikuti jejak ayah dan kakekmu yang bahkan gagal dalam bidangnya. Apa kamu memang berencana meneruskan kegagalan mereka makanya kamu memilih menjadi peluat juga?" tanya Aríos denga nada suara yang netral. Tidak ada nada menjengkelkan seperti sebelumnya.
Tio meringis, "jangan menjelek-jelekan keluarga ku, uhukk.."
"Ara.. Ara.. Sebaiknya kamu jangan banyak bicara. Tubuhmu sudah hancur, bisa-bisa kamu mati loh," peringat Aríos seraya menyimpan senjatanya kembali.
Tio kembali batuk darah, bagian dalam tubuhnya seakan remuk dan sangat sakit ketika ia berbicara. Namun, tekadnya untuk mengalahkan Aríos belum runtuh juga. Walaupun dengan kondisi tubuh yang hancur, ia masih berniat untuk mengalahkan Aríos, melindungi krunya serta kehormatan keluarganya.
Dengan sekuat tenaga, Tio berusaha mengambil pedangnya yang berada sejauh 5 meter di dekatnya. Satu-satunya cara agar ia bisa meraih pedangnya dengan tubuh yang seperti itu adalah dengan merangkak tentunya.
Tio menjatuhkan tubuhnya ke samping lalu merangkak dengan menompang semua berat badanya ke tangan kanannya yang terus menarik diri menyeret tubuhnya. Saat Tio berhasil menggenggam kembali pedangnya, Aríos dengan cepat langsung menginjak ujung pedangnya menghalangi Tio untuk menggunakan pedangnya.
"Angkat kakimu dari pedangku!" ucap Tio sambil menengadahkan kepalanya, berusaha meniti langsung sorot mata merah itu.
Aríos hanya balik menatap Tio yang berada di bawah lantai sana dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada rasa kasian dan jijik melihat Tio yang terus saja berusaha sekuat tenaga padahal ia tau kekuatannya tidak sepadan dengan dirinya. Menurut Aríos, mempunyai niat tanpa didasari dengan kesadaran diri adalah sia-sia.
Sangat membuang-buang waktu meladeni orang yang seperti itu, pikirnya.
"Apa yang mau kamu lakukan? Mencoba bertarung dengan tubuh lemah seperti itu? Jangan buat aku ketawa," ucap Aríos datar mengubah auranya menjadi mencekam. Ia sangat benci dengan tipikal orang seperti Tio, karena memiliki kepercayaan diri yang tidak mendasar.
Tio mengeryitkan dahinya, "aku tidak akan menyerah sebelum mengalahkanmu!" seru Tio seraya berusaha menarik pedang itu dari injakan kaki Aríos.
"Mengalahkan aku? Butuh waktu seribu tahun untuk makhluk lemah sepertimu mengalahkan aku," Aríos menarik kakinya lalu mundur beberapa langkah, membiarkan Tio mengambil pedangnya dan melihat apa yang direncanakannya.
Saat pedang sudah berhasil ia dapatkan kembali, ia menancapkan pedangnya ke lantai lalu berdiri dengan menompang berat tubuhnya kepada pedang itu. Dengan kaki yang bergetar, Tio mengancungkan kembali pedangnya ke arah Aríos.
"Aku akan mengalahkanmu!" teriak Tio lagi dengan suara serak hampir tidak terdengar jelas.
Bahkan suaranya sudah hampir mencapai batasnya, mengingat ia sejak tadi terus berteriak saat berhadapan dengan Aríos yang membuat tenaganya terkuras lebih banyak lagi matanya pun sudah berkunang-kunang. Dengan langkah gontai yang membuat tubuhnya goyah ia terus mengayunkan pedang itu ke segala arah, prediksi hunusannya sudah tidak tepat sasaran lagi. Tio hanya menyerang asal-asalan tanpa tau tujuan.
Aríos hanya berdiam saja di tempatnya, tidak berniat bergerak sama sekali. Hingga gerakan asal Tio berujung berhasil mengenai pipi kanan Aríos hingga tergores dan menyebabkan cairan hitam kental itu mengalir di atas pipi kanannya.
__ADS_1
Tio yang melihat serangannya berhasil melukai Aríos tersenyum bangga, sudut bibirnya naik sempurna merasa senang dengan usahanya. Namun, sudut bibir yang semula naik turun secara drastis.
Apa yang terjadi?
Karena sudah muak dan merasa membuang-buang waktunya yang berharga itu, Aríos dengan langkah panjang mulai mendekati Tio. Ia merampas pedang di tangannya dan mengayunkan pedangnya hingga menebas tangan Tio, membuat cairan merah berhasil tumpah dari bagian tangannya yang putus itu.
Semua terjadi begitu cepat. Bahkan Tio belum sempat merespon, ia tiba-tiba saja melihat tangannya sudah terpisah dari tubuhnya dan jatuh di lantai dek inti.
"Arghhhh!" teriaknya parau sambil memegang lengan kirinya yang putus hingga ia bersimpuh di lantai. Rasa sakit yang luar biasa berhasil membuatnya kelimpungan, kepalanya semakin pusing dan mukanya sudah memerah menahan rasa sakit.
Aríos melempar pedangnya itu ke sebelah Tio yang masih meringis kesakitan, memandanginya dengan sorot mata datar tanpa minat sedikitpun. Cepat sekali suasana hatinya berubah, kalau dia manusia biasa mungkin akan menyangkut pautkan mentalnya yang tidak stabil. Seperti bipolar, tapi ia siren tidak mengerti apa itu penyakit mental.
"Bukankah hilangnya sebelah matamu sudah memberikan bukti perbedaan kekuatan antara kaum kalian dan kaum kami?" ucap Aríos penuh penekanan dengan oktaf nada stabil.
"...Entah apa yang membuatmu begitu sombong sampai berpikir bisa mengalahkanku? Kehilangan anggota tubuh lainnya itu semoga dapat menyadarkanmu dari posisimu, jangan terlalu tinggi bermimpi bahkan ego saja tidak bisa kamu kendalikan. Manusia memang penuh dengan rasa sombong, ego dan nafsu. Sangat tidak bisa dipungkiri," lanjutnya lagi.
Masih dengan suara Tio yang menggema berteriak kesakitan dan darah yang terus mengalir dengan deras. Kalau terlalu lama dibiarkan, mungkin dia akan mati kehabisan darah.
...***...
"Bagaimana rencanamu?" tanya Hans langsung to the point.
"Sebelumnya, Dave ada berapa sekoci di kapal ini?" tanya Roni kepada salah satu kru kapal yang memang bertanggung jawab di bagian keselamatan darurat.
Dave yang merasa terpanggil memanjangkan lehernya untuk menatap Roni, "sebenarnya ada 3 sekoci di kapal. 2 sekoci utama dan 1 sekoci cadangan, hanya saja salah satu sekoci utama tidak bisa digunakan karena sedang dalam perbaikan," jelasnya.
"Berapa muatan yang sesuai?" tanya Roni lagi.
"Sekoci utama bisa memiliki muatan 18 orang dewasa, sedangkan sekoci cadangan hanya 3 sampai 4 orang saja," terang Dave.
Dave hanya mengangguk merespon ucapan Roni itu, lalu kembali duduk bersandar menyembunyikan dirinya lagi di balik kerumunan.
"Selanjutnya apa? Dari penjelasan Dave aku rasa kita harus menggunakan kedua sekoci itu dan membaginya menjadi dua kelompok," imbuh Hans.
"Benar," Roni kembali berpikir mengenai pembagian kelompok yang menurutnya sangat sensitif itu.
Ia mengalihkan pandangannya menatap semua kru kapal yang hanya diam saja menunggu instruksi lanjutan. Terdengar suara hembusan napas kasar Roni yang sedikit gundah mengambil keputusan itu, sehingga Hans akhirnya mengambil alih keputusan akhir.
"Baiklah, biar kita undi saja. Bagaimana?" tawar Hans kepada semua yang berada di sana.
Mereka mengangguk ragu takut undian yang mereka dapatkan malah mempengaruhi keselamatan mereka sendiri, namun tidak ada pilihan lain selain melakukan hal itu.
Hans mencari kertas yang mungkin bisa ia gunakan untuk membuat undian kertas. Ia menyuruh Daniel untuk menulis 18 sekoci utama dan 4 sekoci cadangan di atas kertas itu lalu menggulungkan menjadi kecil-kecil. Setelah gulungan kertas itu selesai disiapkan, Daniel menaruh semua gulungan itu ke dalam tangannya lalu mengocoknya agar tercampur dan memberikannya ke dalam tangan Roni.
Roni berdiri di tengah-tengah mereka, "karena jumlah kita sisa 22 terhitung kapten sedangkan sekoci utama hanya muat maksimal 18 jadi sisanya harus naik sekoci cadangan yang bermuatan 4 orang," terangnya seraya menatap semua kru yang tersisa, "aku mulai dari kanan ya."
Roni berjalan ke arah kanannya lalu menyuruh orang paling kanan, yaitu Hans untuk mengambil gulungan kertas pertama begitu seterusnya sampai ke orang paling kiri. Tidak lupa Roni menyisakan satu kertas untuk dirinya sendiri dan sang kapten, namun tidak adil rasanya kalau ia memilih untuk kaptennya sendiri. Jadi, ia menyuruh Hans untuk memilih gulungan mewakili kapten dan meletakkannya ke tengah-tengah mereka.
"Punya kapten kita letakan di tengah ya, nanti kita buka sama-sama," ucap Hans sambil bergerak menaruh gulungan kertas itu ke tengah, lalu kembali duduk di tempatnya seperti semula.
Roni kemudian menyuruh mereka semua untuk membuka gulungan kertas mereka masing-masing secara serentak. Terlihat wajah lega dari mereka setelah membuka gulungan kertas mereka, kecuali dua orang di pojokan yaitu Jacob, Daniel dan salah satu kru kapal.
"Kalian dapat sekoci cadangan?" tanya Arnold saat melihat wajah tegang mereka bertiga.
__ADS_1
Jacob mengangguk. "Ya," jawabnya dengan anggukan patah-patah.
Daniel dan Jacob yang sudah pasrah akhirnya tersenyum miris satu sama lain, entah apa yang akan terjadi nantinya. Beda halnya dengan orang ketiga yang menilak hasil yang menurutnya sangat tidak adil itu.
"A-aku tidak setuju!"
Kalimat yang berhasil mengambil fokus perhatian semua kru kapal lain, menatapnya aneh dan kesal di saat yang bersamaan.
"Apa-apaan kau, Agung!" kesal salah satu kru kapal yang mendapat undian sekoci umum.
Agung menggeleng cepat, "aku mau undi ulang! Ini tidak adil!" tolaknya sambil melempar gulungan kertasnya.
Tentu saja mereka tidak terima. Apalagi kepada mereka yang sudah berhasil mendapat undian sekoci utama. Tidak ada yang tidak adil dalam undian kali ini, Agung saja yang tidak terima kalah.
"Enak saja! Justru kalau di ulang sekali lagi yang tidak adil!" sanggah yang lain.
"Benar!"
"Aku tidak setuju untuk ulang!"
Akhirnya terjadi cekcok di sana, saling menolak satu sama lain dan beradu argumen di saat yang tidak tepat seperti ini. Harusnya mereka saling mengerti dan membantu sama lain tapi ini malah sebaliknya.
"Cukup!" teriak Jhonson.
Semua menoleh ke arah sumber suara, menatap si empu heran dan bertanya-tanya.
Jhonson memberikan undiannya kepada Agung. "Ini, ambil undianku. Biar aku saja yang naik sekoci cadangan."
"Kau serius, Jhon?" tanya Arnold memastikan bahwa keputusan itu benar-benar sudah dipikirkannya karena sungguh sangat beresiko saat ini. Dengan yakin Jhonson menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Kau puas?" sarkas yang lain kepada Agung.
Jhonson mengibaskan tangannya di udara, "sudahlah. Jangan dibahas lagi. Lebih baik kita jemput kapten."
"Tapi kan, kertas kapten belum di buka," ingat Daniel.
"Dengan melihat wajah yang lain, aku yakin tulisan di kertas itu adalah sekoci cadangan," tebak Jhonson.
Daniel mengambil kertas yang ada di tengah lalu membuka kertas itu, dan benar sesuai perkiraan Jhonson. Tanpa berlama-lama, mereka bertiga berpamitan dengan kru kapal lain yang sudah berbondong-bondong masuk ke dalam sekoci utama sebelum di lepas ke permukaan air.
"Kalian yakin kami berangkat lebih dulu?" tanya Roni memastikan. Setelah perbincangan sengit, ternyata keputusan akhirnya adalah kelompok sekoci utama akan lebih dahulu berangkat yang nanti disusul oleh grup sekoci cadangan.
Menurut Jacob, rencana itu sudah yang paling baik untuk keselamatan mereka semua. Begitulah yang ia pikirkan tidak tau kenyataannya akan seperti apa nanti.
Jacob mengangguk. "Ya, pergilah. Kami harus menjemput kapten. Jika kalian sudah sampai ke daratan, segera cari bantuan," peringatnya.
"Baiklah," jawab Roni seraya menutup pintu sekoci.
Setelah memastikan pintu tertutup dengan sempurna, Jacob memerintahkan Daniel untuk menarik tuas untuk menjatuhkan sekoci dengan membuka sebagian kapal. Sekoci itu berhasil jatuh ke permukaan air lalu dengan membalikkan tuas, Daniel kembali menutup bagian kapal itu kembali.
Setelah kapal tertutup, mereka bertiga kemudian mengintip dari kaca yang mengarah langsung ke laut tempat sekoci itu mengapung. Namun yang membuat mereka syok adalah, beberapa menit setelah sekoci itu mengapung. Ada pemandangan yang benar-benar membuat mereka bertiga seketika trauma.
Laut biru itu berubah menjadi lautan merah seketika.
__ADS_1
...-----...