
Terlihat kerumunan siren yang berkumpul di tengah-tengah pemukiman untuk memberikan ucapan selamat jalan kepada Aoi, Audrina, Zayn dan Thania. Terlihat raut muka mereka yang menekuk melihat keempat sosok penting kaum itu harus kembali menjauhi habitat mereka. Seakan tau desakan yang menekan membuat mereka harus kembali berpisah dengan sekutu yang sangat mereka sayangi pula.
Kilauan cahaya anak jóias kembali terpancar dari balik bak-bak yang berisi anak jóias yang mereka kumpulkan saat pertama Audrina menginjakkan kaki di lembah ini. Rumah kastil mereka pun mengeluarkan cahaya yang cukup terang mengingat ada beberapa bak yang diletakkan di dalam sana.
Dengan kembali bersinarnya baru berlian itu, membuat siren yang tadinya sedang berdiam diri di kastil mereka, berbondong-bondong keluar juga. Sebab itu pertanda bahwa dariás sedang berada di sekitaran mereka.
"Apa kalian sudah harus pergi?" tanya salah satu siren laki-laki dengan kepangan rambut yang menyerupai kuda poni itu.
Thania mengangguk, "benar. Kami harus membawa kembali para darías ke daratan."
"Baiklah, kami harap kalian selamat kembali ke darat," ucap siren itu lagi.
"Terimakasih," kali ini Audrina yang menyauti. Sambil tersenyum menampilkan taringnya yang sedang tumbuh perlahan, entah mengapa membuatnya terlihat manis.
"Kalian dengarnya perintah Vivian, Rui dan para sesepuh lain. Jangan ada yang terpecah belah," tegas Aoi kepada siren yang berada di sana. Lantangnya suara yang diucapkannya sampai masuk ke semua runggu runcing siren.
Para siren mengangguk paham tanpa. Kalimat tegas dan tepat sasaran Aoi sangat mudah untuk dipahami, ditambah ada spirit yang terealisasikan di dalamnya tanpa sadar membuat jantung mereka bergebu-gebu.
Setelah berpamitan dan mempererat posisi, Aoi dan Thania bergegas mengibaskan ekor mereka menjauhi kerumuman. Bersamaan dengan bergeraknya mereka, Audrina dan Zayn tidak lupa melambaikan tangan mereka sebagai bentuk ucapan selamat tinggal. Walau mereka tau lambaian ucapan selamat tinggal ini hanya untuk sementara waktu saja.
Lambaian mereka pun dibalas oleh semua siren yang berada di sana. Tidak sedikit yang berusaha menahan diri agar tidak menangis, mungkin ada rasa tidak rela di hati mereka. Terlebih lagi dengan perginya keempat orang itu, maka sebentar lagi Vivian akan memberi instruksi lanjutan untuk menghadapi musuh yang sangat mereka benci.
"Hm, kira-kira berapa lama efek tanaman Ampélia ini bekerja?" tanya Audrina tiba-tiba saat mereka sudah berada di ujung pemukiman sebelum masuk ke perbatasan lembah.
Aoi mengerjapkan matanya, iris hijaunya tampak terlihat lebih melebar dari sebelumnya. Ia sempat lupa kalau Audrina dan Zayn bukan siren seperti dirinya, mereka bahkan dapat bernapas karena bergantung dengan tanaman itu.
"Selama belum menghirup oksigen di permukaan, efeknya tidak akan memudar."
Aoi menjawab dengan pandangan lurus ke depan. Audrina yang mendengar jawaban itu hanya mangut-mangut seraya ber-'oh' ria. Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi karena Aoi dan Thania yang harus fokus dalam membawa mereka ke permukaan dengan pencahayaan dari sisik mereka. Selain itu, mereka harus menjaga kualitas rungu dan netra untuk menangkap sekaligus menghindari serangan yang mungkin terjadi selama diperjalanan.
Saat sudah sampai perempatan jalan, Aoi dan Thania kini bergerak berdampingan. Tiba-tiba terdengar siulan kecil bersahutan yang sangat halus masuk ke rungu mereka, membuat mereka saling memandang satu sama lain. Ada yang tidak beres.
"Akoús? " (kamu mendengarnya?) Thania sedikit berbisik.
__ADS_1
Aoi mengangguk, "Nai, faínetai óti káti píge stravá." (Ya, sepertinya ada yang tidak beres) ucap Aoi menyamakan nada bicara Thania.
"Ti prépei na kánoume tóra? " (Apa yang harus kita lakukan sekarang?) bisik Thania lagi.
"Prépei na epispéfsoume tin kínisí mas. Tha metríso méchri to tría kai metá tha kinithoúme mazí. Kolympáei o pio grígoros mas, entáxei? " (Kita harus mempercepat gerakan kita. Aku akan menghitung sampai tiga dan kemudian kita akan bergerak bersama. Berenanglah secepat mungkin, oke?) perintah Aoi sambil menatap lekat iris hijau milik Thania yang melebar.
Thania mengangguk paham. Berbeda dengan Audrina dan Zayn yang terlihat cengo dengan percakapan mereka berdua. Tidak ada satu pun kalimat yang mereka pahami sama sekali. Kedua netra yang tidak mengerti maksud percakapan itu bertemu, menebarkan sorot kebingungan di sana.
Aoi dan Thania berhenti bergerak, membuat mereka mengambang di air yang dikelilingi oleh tanaman rambat yang bergerak halus mengikuti arus dalam air. Bisa dilihat dari pantulan cahaya yang mengenai permukaan daun dari tanaman itu. Tebing dengan batu-batuan besar juga terlihat saling menyesakkan satu sama lain.
Sunyi.
Tidak ada suara apapun yang terdengar di sana. Hanya desiran arus bawah air yang halus membuat suasana menjadi lebih mencekam. Siulan tipis yang tadinya saling bersahutan sudah hilang. Aoi memincingkan matanya, terasa lehernya merinding karena dingin yang mulai menusuk kulit mereka.
"Kalian berdua, pegangan yang erat!" tegas Aoi lirih namun masih terdengar oleh Audrina dan Zayn yang langsung mengikuti perintah itu tanpa mempertanyakannya.
Aoi menyentuh bahu Thania perlahan, seraya menatap iris matanya memberi isyarat berhitung sesuai dengan apa yang dikatakannya tadi. Thania menyiapkan ancang-ancangnya dengan meregangkan ekornya, mengambil posisi awalan terbaik.
"Satu, dua—"
"...Tiga!"
Saat hitungan ketiga, dengan cepat Aoi dan Thania mengibaskan ekor mereka meninggalkan pusaran gelembung yang memutar dari ekor mereka. Batu di tebing yang jatuh tadi sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan mereka berdua, bahwa saat ini mereka diikuti. Benar saja, saat mereka sudah melesat cepat cahaya redup kemerahan mengikuti mereka dari belakang.
Tanpa melihat ke belakang, Aoi dan Thania bergerak mulus menghindari segala rintangan menuju permukaan dengan kekuatan renang mereka yang sangat memumpuni.
...****************...
"Jacob, Roni, Daniel, kalian bertiga cek pintu belakang! Pastikan semua sudah terkunci dengan sempurna!" teriak Tio sambil berusaha menahan pintu depan bersama dengan Jhonson dan satu awak kapal yang memiliki badan besar bernama Abraham.
"Aye aye, sir! " sahut ketiganya bersamaan.
Wajah Tio yang memerah menahan pintu yang didobrak paksa, menandakan daya dorong yang diberikan oleh para siren merah itu sangat besar. Bukan hanya Tio saja, wajah Jhonson dan Abraham tampak sangat mengkerut menahan pintu itu.
__ADS_1
"Arnold, Frans dan Hans kalian bertiga periksalah semua jendela jangan sampai ada yang terbuka juga!" perintah Tio lagi, "aku butuh 3 orang lagi untuk menahan pintu ini, sisanya kalian bantu yang lain!"
"Aye aye, sir! "
Para awak kapal mulai memecahkan diri menjalankan tugas mereka sesuai perintah tio, yang mau tidak mau harus mengambil peran sebagai seorang kapten kapal karena, sang kapten kapal mereka sudah terbunuh oleh para siren itu.
Sedangkan para manusia berusaha mengunci diri mereka dari dalam, kaum siren merah yang dipimpin Arios memberikan dorongan untuk berusaha masuk ke dek inti. Melihat manusia yang keras kepala terus melawan, Arios mengatupkan rahangnya geram. Dipikiran Arios saat ini adalah membunuh manusia-manusia ini dan mengambil alih kapal, sehingga tidak ada saksi hidup yang bisa merusak rencana mereka.
"Dorong terus! Jangan sampai aku yang turun tangan!" teriak Arios kepada bawahannya itu dengan tegas. Mereka yang dapat desakan itu, tentu saja mengeluarkan semua tenaga mereka sambil melolong keras membuat rungu berdengung.
Tio menarik diri dari pintu. Ia berencana mendekati radio kapal untuk menghubungi pihak bantuan dan memberikan peringatan bahaya kepada pelabuhan atau kapal yang mungkin berada disekitar mereka. Saat ini mengirim sinyal SOS adalah jalan terbaik untuk menyelamtkan mereka.
Langkah Tio semakin melebar menuju ruang radio berada. Harapan terakhir mereka sebelum benar-benar harus berhadapan langsung dengan makhluk mitologi berbahaya itu.
Sesampainya di ruang radio, Tio dengan cepat menghidupkan radio dan mencari siaran sinyal yang bisa menangkap kehadiran mereka. Namun, nyatanya tidak semudah itu. Semua siaran channel radio yang berusaha ia gapai, tidak ada satupun yang menjawab. Suara yang keluar hanya terdengar suara noise saja.
"Mayday.. Mayday.. 0AS-Ship 5389 need help here! "
"Mayday.. Mayday.. 0AS-Ship 5389 need help here! "
Tio terus-menerus mengucapkan kalimat itu, namun tidak ada balasan sama sekali. Rasa putus asa hampir menghampirinya, sampai saat ia berhenti di siaran ke delapan.
Pip..pip..
Krkkk..krkkk..
"H-ha..lo.."
Wajah Tio yang tadinya sempat menekuk akhirnya berbinar kembali saat mendengar suara seseorang yang menjawab sinyal yang ia kirimkan. Dengan cepat Tio kembali mengulang kembali kalimatnya, kali ini dengan oktaf suara yang lebih tinggi saking bersemangatnya, sambil memutar tombol radio untuk menyesuaikan siaran radio yang menangkap sinyalnya.
"Mayday.. Mayday.. 0AS-Ship 5389 need help here! "
Dengan degupan jantung yang kencang, Tio menunggu jawaban dari si penerima sinyal. Ia bernapas lega, sambil terus berharap bahwa mereka akan selamat.
__ADS_1
Bantuan akan segera tiba, pikirnya.
...-----...