Love In Siren

Love In Siren
Penglihatan Gloria


__ADS_3

Setelah berhasil mengambil alih kapal 0AS-Ship 5389, Gloria memberi perintah lanjutan kepada Aríos untuk menunjuk penanggung jawab kapal beserta anggota yang akan naik kapal itu untuk di labuhkan di salah satu dermaga yang paling dekat dengan lokasi siren danau. Mendapatkan titah itu, Aríos memilih Cleo dan sekitar 50 siren merah lain untuk naik ke atas kapal.


Setelah bertransformasi, tetap saja keadaan fisik mereka sangat mencolok dan pasti akan sangat membawa dampak buruk jika bertemu dengan manusia nantinya. Hal ini sudah di antisipasi Gloria dan Gladius dengan menciptakan ramuan pernetral agar kondisi fisik si peminum menjadi lebih menyerupai manusia, walau dengan kondisi iris mata merah yang tidak bisa diubah.


"Berikan ramuan ini kepada Cleo." Titah Gloria kepada Aríos, "pastikan semua anggotanya meminum ramuan itu walau hanya satu tetes saja," sembari menyodorkan kendi berisi ramuan yang cukup banyak.


Aríos menundukkan badannya mengambil kendi itu seraya mengangguk, "baik, Gloria."


Aríos berjalan menjauhi sosok Gloria yang hanya muncul sebagian badan diujung kapal, mencari keberadaan Cleo dan memberikan pesan sesuai dengan perintah Gloria.


Cleo mengambil kendi itu dan segera bergerak menuju bawahannya yang menjadi awak kapal itu. Ia memerintahkan mereka untuk berbaris untuk mendapatkan giliran tetesan ramuan itu, agar lebih tertib dan merata. Mereka yang sudah mendapatkan ramuan diharuskan untuk masuk ke dek inti untuk mencari pakaian yang bisa menutup tubuh bagian atas mereka, karena mereka harus bertingkah dan bersikap layaknya manusia pada umumnya.


Manusia mana yang berada di lautan dengan tidak mengenakan baju? Yang ada mereka akan mati kedinginan.


"Berbarislah, kalau sudah dapat giliran langsung cari pakaian untuk kalian kenakan."


Dengan tegas Cleo memberikan instruksi yang disanggupi oleh siren merah lainnya. Begitu mereka mendapatkan tetesan ramuan itu, wujud mereka yang semula mengerikan bahkan menjijikan akhirnya berubah menjadi lebih baik. Menjadi lebih baik itulah yang merupakan tantangan bagi mereka, sangat berbanding terbalik dengan yang seharusnya.


Aríos memandangi siren yang berubah wujud dengan intens, "eugh, sangat tidak cocok kalian menjadi sok baik begitu. Aku hampir muntah."


"Memangnya kami mau?" sergah Cleo bersungut-sungut.


"Sudah nasib, terima saja," ucap Aríos sambil menepuk-nepuk bahu Cleo.


"Cih," gerutu Cleo sambil membelakangi Aríos kesal.


Kalau saja itu bukan titah langsung dari Gloria sebagai ratu mereka, Cleo pasti akan menolak mentah-mentah perintah ini. Ia adalah siren merah yang memegang teguh kebencian alami terhadap bangsa manusia yang sangat kotor dan egois. Keturunan perusak dan serakah yang sangat tidak pantas untuk hidup itu, justru saat ini ia harus berubah menjadi makhluk menjijikan itu. Jiwa dan raganya sangat tidak sudi melakukan hal itu, tapi disisi lain itu ia lakukan demi bangsa dan kebanggaanya.


Tidak ada jalan pintas lain, ia tetap harus melakukannya. Walau dengan kondisi yang sangat amat terpaksa ini.


"Cih, apa harus menyamar menjadi makhluk menjijikan itu?" ucap salah satu siren yang berada di barisan belakang mengoceh, ia masih belum mendapat giliran tetesan ramuan.


Cleo tanpa sengaja mendengar ucapan itu, ia juga bisa melihat raut wajah tidak sudi yang sama seperti yang ia tunjukkan saat ini. Ia setuju dengan ucapan siren itu, hanya saja mereka tetap harus mengikuti atasan.


Kembali lagi ke pasal awal, semua demi kepetingan bersama setidaknya harus bisa berkorban. Begitulah para pejuang dibesarkan, dididik, dibina dan dibentuk.


Cleo tidak menjawab celetukan itu, ia hanya diam saja mendengar ucapan bawahannya itu tanpa menghakimi. Ia kembali memberikan tetesan ramuan dari Gloria kepada bawahannya satu per satu, bersamaan dengan mereka yang berubah wujud dan melanjutkan titah lanjutan seperti yang sudah disampaikan.


Netra Cleo melirik ke barisan dihadapannya, berniat menghitung sisa anak buah yang belum mendapat bagian. Tidak banyak lagi, sebelum matahari terbenam sepertinya misi ini akan selesai.


"Erio, gantikan aku meneteskan ramuan ini. Aku harus menemui Aríos dan Yang Mulia Gloria untuk misi lanjutan," titah Cleo kepada siren disampingnya yang juga sudah berubah wujud sejak tadi, ia adalah tangan kanan Cleo.


Erio mengangguk menyanggupi, "baik."

__ADS_1


Aríos melihat pergerakan Cleo yang mendekatinya, wujud manusianya membuatnya tampak lebih bersih, ramah dan tubuh bidangnya tidak kalah gagah dengan tubuh sirennya. Terpaan angin laut menerbangkan rambut panjangnya, membuatnya harus menyepitkan rambut ke belakang telinganya. Iris mata merahnya menatap lurus Aríos yang sedikit lebih tinggi dari tubuh manusianya itu.


Cleo berhanti dihadapan Aríos, "setelah pemberian ramuan itu, apa yang selanjutnya kita lakukan. Apa langsung melanjutkan rencana penyamaran?" tanya Cleo langsung.


"Apa sudah semuanya diberikan ramuan itu?" Aríos memastikan.


"Sedikit lagi selesai. Aku sudah memberikan perintah kepada bawahanku untuk melanjutkan pemberian ramuan sampai semuanya kedapatan," jawab Cleo.


Aríos mengangguk, "baik. Ayo kita laporkan kepada Gloria, kita harus berdiskusi untuk kelanjutan pergerakan kita dengannya."


Cleo mengikuti Aríos yang terlebih dahulu berjalan mendahuluinya. Langkah panjang Aríos sangat sulit diimbangi dengan tubuh manusia Cleo, sehingga ia harus berlari kecil untuk menyamakan langkahnya.


Aríos bergerak mendekati tepi kapal, ia kemudian memerintahkan Cleo untuk menunggunya di sana sedangkan ia masuk ke dalam air untuk memanggil Gloria. Ramuan yang dibuat Gloria dan Gladius itu bukan hanya mengubah bagian luar tubuh mereka, melainkan sampai ke fungsi organ pula.


Untuk menghilangkan fungsi itu, mereka harus menyayat pergelangan tangan mereka dengan pisau sehingga wujud mereka akan kembali seperti sedia kala, yaitu siren merah menakutkan yang sesungguhnya.


Cleo masih berdiri di ujung kapal, menatap lurus ke arah laut yang bergelombang karena ombak dan angin menunggu kemunculan Aríos dan Gloria. Hampir sepuluh menit, namun Aríos belum juga muncul, entah kenapa firasat Cleo mengatakan ada yang tidak beres di bawah sana.


Aríos masuk ke dalam air, meninggalkan Cleo yang menunggu di atas kapal karena ia tidak bisa menyelam seperti seharusnya. Ekornya bergerak meninggalkan buih halus mendorongnya maju mendekati Gloria yang berada.


Beberapa meter dari lokasi Gloria berada, Aríos bisa mendengar dengan jelas teriakan melengking yang memekakkan telinga. Suara lolongan menyakitkan yang hanya dimiliki oleh beberapa siren merah elite, terutama pimpinan mereka, Gloria.


Ya, Aríos yakin sekali itu suara Gloria. Suara itu benar-benar memilukan dan sangat berbahaya jika tidak segera dihentikan.


Dengan hentakan ekornya, Aríos bergerak mendekari Gloria yang tengah menengadahkan kepalanya ke atas dengan mata yang merah sempurna. Matanya benar-benar berubah merah keseluruhannya, bukan hanya iris matanya saja. Badannya juga menegang lurus vertikal, rambut panjangnnya tergerai mengembang bersamaan dengan cahaya dari sisiknya yang semakin menyilaukan.


"Y-yang mulia tiba-tiba berteriak seperti itu setelah melihat batu permata hitam miliknya, tuan Aríos," jawab salah satu pengawal Gloria.


Aríos menekan telingannya, "kita harus menghentikannya. Kalian ajak semua siren yang ada disekitar sini untuk naik ke permukaan!" titahnya ditengah hiruk piruk teriakan Gloria.


Pengawal itu mengangguk, "baik, tuan."


Bersamaan dengan dilaksanakannya perintah itu oleh pengawal Gloria, Aríos mulai kembali mendekati Gloria. Satu-satunya cara untuk menyadarkannya adalah menekan leher bagian belakang Gloria, dan hanya Aríos yang bisa melakukan itu.


Siren lain segera naik permukaan sesuai dengan perintah Aríos, berusaha menjauhi jangkauan lolongan Gloria. Namun anehnya, suara teriakan itu tidak terdengar saat mereka sudah mengeluarkan kepala mereka ke permukaan.


Apa yang sudah terjadi sebenarnya? Apa yang sudah ia lihat sebelumnya? batin Aríos yang masih berusaha mendekati Gloria.


Lolongan Gloria berhasil membuat getaran hebat disekitarnya, sehingga akan ada dorongan keras yang membuat siapapun sulit untuk mendekatinya saat ini. Hanya siren dengan renangan ekor yang kuat yang bisa mendekatinya saat ini.


"Gloria! Apa kamu mendengarku?!" teriak Aríos yang masih dengan keras menghentakkan ekornya untuk membawa tubuhnya mendekati Gloria.


"Gloria!" teriaknya lagi yang bahkan teredam dengan suara lolongannya itu.

__ADS_1


Aríos terhempas hingga 10 meter menjauhi Gloria, tidak putus asa ia kembali mendekati Gloria. Kali ini dengan senjatanya yang berada ditangan kanannya.


"Gloria!" teriaknya lagi.


Tidak ada jawaban, Gloria masih berada dialam bawah sadarnya.


Aríos akhirnya nekat. Tidak ada cara lain lagi, ia harus memukulkan senjatanya ke tengkuk Gloria. Tangan kosong tidak akan sampai dari gelombang disekitar Gloria, yang ada tubuhnya akan terhempas lagi.


"Gloria, maafkan aku tapi aku harus memukulmu," teriak Aríos lagi.


Dengan hentakan ekornya yang kencang, tubuh Aríos melaju kencang ke arah Gloria lalu memukulkan senjatanya ke arah tengkuk Gloria.


Berhasil.


Lolongan itu berhenti, bersamaan dengan kesadaran Gloria yang juga berhasil membuatnya pingsan di dekapan Aríos saat ini.


...****************...


Gloria mengerjapkan matanya perlahan, kesadarannya akhirnya kembali. Ia bisa melihat wajah Aríos yang mengkerut menatapnya saat ini.


"Aríos?" panggilnya lirih.


"Kamu sudah sadar?" tanya Aríos sambil melepaskan tubuh Gloria hingga ia kembali bergerak sendiri dengan bantuan ekornya.


Gloria memegang kepalanya, "ugh, sakit sekali."


"Lebih baik istirahat saja dulu. Aku yakin bukan hanya kepalamu aja yang sakit," tukas Aríos.


Gloria memegang tenggorokannya, Aríos benar. Tenggorongannya saat ini rasanya mau putus, ia juga berulang kali batuk-batuk karena rasa perihnya sangat menyakitkan.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Aríos memberanikan diri.


Gloria menatap Aríos, "bagaimana dengan Cleo? Apa misinya sudah selesai?" tanya Gloria mengalihkan pembicaraan, sepertinya ia masih enggan memberitahukan hal itu kepada Aríos.


Aríos menghela napasnya pasrah, "sudah selesai. Aku ke sini ingin menjemputmu untuk ke permukaan, berdiskusi untuk kelanjutan rencana kita. Cleo tidak bisa kembali ke sini karena tubuh manusianya," jawabnya.


"Baik, kita segera ke permukaan." Glori menghentakkan ekornya, bergerak terlebih dahulu.


Aríos sejenak menatap Gloria yang sudah bergerak terlebuh dahulu, kemudian dengan pasrah ia kembali mengikutinya dari belakang.


Gloria menghela napasnya, sambil berusaha memulihkan tenaganya. Ia harus kembali menetralkan jiwa raganya untuk ambisi kaum mereka.


"Herculas, aku rasa pembicaraan ini harus aku rahasiakan dari Aríos untuk sementara waktu," gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Siapa itu herculas?


...-------...


__ADS_2