MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
10. KEHILANGAN INFORMASI


__ADS_3

Terik mentari telah melangkah pergi meninggalkan singgasana nya, digantikan terang rembulan dan jutaan taburan bintang. Malam ini sangat indah. Namun bukan itu yang tengah jadi perhatian seorang pria tampan di depan sebuah jendela kaca besar di ruang kerjanya.


Pikirannya melayang membayangkan tawa bahagia putra semata wayangnya. Kebahagiaan itu nyatanya mampu menggetarkan sanubari nya. Meski selama ini dia terkesan acuh dan tak peduli, namun dia selalu memantau perkembangan sang putra yang tumbuh dengan segala kelebihan yang dimilikinya.


Seketika dia tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara seseorang yang datang menyapa.


"Tuan." Defan memberi hormat pada Tuannya begitu sampai di ruang kerja Tuan Tama.


"Bagaimana keadaan mu?


"Sudah lebih baik Tuan."


"Apa yang terjadi?"


" Saya tidak tau pasti Tuan, tiba-tiba kemarin saya sudah ada di rumah sakit. Saya sudah coba cek CCTV rumah sakit, tapi anehnya tak ada satupun yang merekam kedatangan saya saat itu."


"Apa ada yang mengambil rekamannya sebelum kau datang?"


"Tidak ada Tuan."


"Tentang penyerangan waktu itu, kau sudah dapatkan informasi nya?"


"Maaf Tuan. Tidak ada informasi apapun tentang mereka."


"Kau yakin?"


"Iya Tuan."


Defan merasa bersalah pada tuan nya. Dia merasa tidak berguna karena tak bisa memberikan informasi apapun tentang sekelompok orang yang telah menyerang mereka waktu itu.


Sedangkan Tuan Tama tengah termenung, bukan karena marah pada bawahnya. Dia justru merasa aneh, tak biasanya anggota nya bisa dikelabui oleh orang lain. Orang-orang itu sangat misterius. Bahkan tak ada satupun bukti tentang keberadaan mereka. Luar biasa bukan?

__ADS_1


"Tetap cari tau tentang mereka! Tidak mungkin tidak ada satupun informasi tentang mereka." Perintah Tuan Tama.


"Baik Tuan. Tuan.... Bagaimana keadaan Anda? Tanya Defan ragu-ragu.


"Aku tidak apa-apa."


"Tapi Tuan terluka. Apa Tuan sudah di obati? Atau saya panggilkan dokter Jeremy untuk datang kemari?" Tentu saja dia merasa khawatir, karena dia melihat sendiri bagaimana tidak berdaya nya Tuan Tama saat mendapat luka tusukan waktu itu.


"Kenapa kau cerewet sekali?" Tanya Tuan Tama. Dia jadi pusing saat mendengar semua pertanyaan yang di ajukan Defan.


"Maaf Tuan." Ucap Defan merasa bersalah.


"Lebih baik kau pulihkan dulu dirimu, dan cari tau tentang orang-orang itu!" Perintah Tuan Tama. Dia tidak sanggup berlama-lama dengan asisten nya itu, yang entah kenapa jadi sangat cerewet seperti seorang istri yang mengkhawatirkan suaminya.


Istri? Tiba-tiba Tuan Tama teringat dengan Hera, gadis yang telah dinikahinya beberapa waktu yang lalu. Perhatian yang diberikan Hera padanya, apakah itu perhatian seorang istri pada suaminya? Ataukah seorang pelayan pada tuan nya?


"Apa aku mengganggu mu, Dad?" Tanya Deon membuyarkan lamunannya. Entah kapan anak kecil itu datang, tiba-tiba saja dia sudah ada di depan Tuan Tama.


"Tidak."


"Aku dengar kau terluka."


"Aku tidak apa-apa."


Begitulah komunikasi antara ayah dan anak itu. Sangat tidak harmonis bukan? Tapi percayalah, mereka sebenarnya saling peduli dan juga saling menyayangi. Deon memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena tak ada lagi yang ingin di sampaikan nya. Entahlah, komunikasi mereka benar-benar buruk.


"Aku pergi dulu, Hera pasti sudah menungguku." Ujar nya sambil tersenyum. Entah apa maksud dari senyuman nya itu. Apa dia ingin pamer?


Tuan Tama benar-benar heran dengan perubahan sikap putranya. Tapi dia memutuskan untuk tak ambil pusing selama putranya tidak terluka dan tetap menjalani setiap pelatihan yang di perintahkan nya.


Seperti kata Deon, Hera memang telah menunggunya. Gadis itu tersenyum melihat kedatangan tuan kecil nya yang menggemaskan itu.

__ADS_1


"Sudah?"


"Hm."


"Lalu?"


"Tenanglah! Dia baik-baik saja. Bahkan dia masih pelit bicara seperti biasanya." Terang Deon sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Hera.


"Tidak baik bicara seperti itu Tuan Muda. Apalagi dia ayah Tuan Muda sendiri." Ucap Hera menasehati.


"Memang benar kan Daddy itu sangat pelit bicara? Memangnya kau pernah mendengar nya bicara panjang lebar?"


"Tidak sih." Jawab Hera sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Hera, kenapa kau perhatian sekali pada Daddy?Apa kau menyukainya?"


Tiba-tiba sorot mata Deon berubah tajam. Apakah anak kecil ini sedang cemburu pada ayahnya sendiri?


"Bukan begitu Tuan Muda. Tuan Tama kan juga majikan saya. Saya melihat sendiri beliau terluka. Jadi wajar kan kalau saya khawatir?"


"Hanya sebatas pelayan dan majikan?"


"Hm."


Hera tak tau bahwa pembicaraan nya tersebut di dengar oleh Tuan Tama. Ekspresi wajah nya tetap tenang seperti biasa. Tak ada riak apapun yang tergambar di wajah tampannya. Namun tangannya mengepal dengan sangat kuat.


"Gadis pintar. Jangan coba-coba berpaling dari ku! Mengerti?" Ancam Deon.


"Mengerti Tuan muda yang tampan dan menggemaskan." Jawab Hera sambil menoel hidung mancung Deon lalu mengacak-acak rambutnya. Deon sama sekali tidak marah. Justru dia senang di perlakukan begitu oleh Hera.


Malam itu Deon terlelap dalam perasaan senang di pangkuan Hera. Dia bahkan tersenyum saat tidur. Dan tentu saja itu juga membuat Hera bahagia.

__ADS_1


Namun berbeda dengan Tuan Tama. Dibawah naungan langit malam yang diterangi sinar rembulan dan jutaan bintang, dia sangat merasa tidak terima. Dia sangat kesal sekarang. Entah apa yang membuatnya semarah itu?


__ADS_2