MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
28. TIDAK BERSALAH


__ADS_3

"Tuan." Defan datang menghadap Tuannya. Dia membawa sebuah map di tangannya. Di sana berisi laporan tentang kasus Deon yang keracunan beberapa hari yang lalu. Dan juga laporan tentang penyusup yang membunuh tawanannya.


Tuan Tama menerima amplop dari Defan dan membukanya. Dia membaca laporan tersebut dengan sangat serius. Apapun yang berhubungan dengan Deon memang sangat serius bagi Tuan Tama. Meski hubungan ayah dan anak itu tidak terlihat harmonis sama sekali.


"Jadi benar bukan wanita itu pelakunya?" Tanya Tuan Tama sambil terus membaca laporan dari Defan tadi.


"Benar Tuan." Jawab Defan dengan pasti.


Sebenarnya dia juga tidak percaya bahwa Hera akan tega menyakiti Deon. Apalagi begitu melihat kedekatan mereka berdua. Rasanya mustahil wanita selembut Hera bisa melakukan hal tidak terpuji seperti itu. Tapi bagaimanapun dia tetap harus menjalankan perintah dari Tuan Tama, meski kadang berlawanan dengan hati kecilnya.


"Mereka orang yang sama?"


"Iya Tuan. Penyusup itu juga yang telah mencampur susu Tuan muda dengan racun. Dia sengaja mencampurkan racunnya ke dalam susu yang masih di dalam kemasan agar tidak ketahuan. Racunnya bersifat bubuk, warnanya pun sama dengan warna susu yang biasa diminum Tuan muda. Jadi tidak akan ada yang tau bahwa susu itu sudah bercampur dengan racun, jika tidak diteliti baik-baik" Ujar Defan panjang lebar.


"Apa mungkin dia pelayan di mansion?"


"Saya rasa juga begitu Tuan. Tapi saya belum bisa memastikan siapa orangnya. Lagi pula tidak ada pelayan yang keluar dari kawasan mansion kemarin. Saya sudah memastikan nya melalui CCTV."

__ADS_1


"Bagaimana dengan wanita itu?" Tuan Tama sepertinya masih mencurigai Hera sebagai pelaku nya.


"Setelah Tuan muda tidur, nona Hera kembali ke kamarnya Tuan. Tapi tidak lama kemudian dia keluar lagi."


"Kemana?"


"Dia pergi ke dapur untuk memasak sesuatu, dan sepertinya makanan yang dimasaknya di antarkan ke ruang kerja Anda ini Tuan."


Blush... Ketahuan lagi deh. Bahkan sekarang pipi Tuan Tama jadi terasa panas karena malu. Harusnya dia tau apa yang di lakukan Hera semalam. Bukankah semalam dia menikmati nasi goreng spesial buatan Hera? Makanan itu sudah tersaji di ruang kerjanya begitu dia pulang. Itu artinya Hera pasti memasak setelah Deon tidur dan sebelum dia sampai di rumah. Kenapa dia bisa melupakan hal itu? Ceroboh sekali.


Defan ingin tertawa melihat Tuannya yang salah tingkah karena ketahuan mendapatkan kiriman makanan spesial yang dimasak secara khusus oleh Hera. Tapi tentu saja dia hanya mampu melakukan nya di dalam hati. Dia tidak punya keberanian sebesar itu untuk menertawakan atasannya tersebut secara langsung.


"Terus selidiki masalah ini! Dan pastikan kalian mendapatkan pelakunya secepatnya!" Perintah Tuan Tama kemudian.


"Baik Tuan." Defan pun berlalu meninggalkan atasannya itu setelah mendapatkan perintah baru yang harus segera di kerjakan nya.


Sementara Tuan Tama tengah memikirkan alasan yang membuat Hera menyiapkan makanan spesial itu untuk nya. Padahal Tuan Tama tidak memintanya lagi setelah menghabiskan semua masakan yang di buat Hera untuk makan malam kemarin.

__ADS_1


***


Saat ini Hera telah kembali ke kamarnya, setelah memastikan Deon menutup matanya. Sedangkan Deon yang hanya pura-pura tertidur kembali terjaga saat menerima sebuah notifikasi di ponsel pintarnya.


"Setidaknya sekarang kau tau bahwa dia tidak bersalah." Gumamnya pelan.


Tidak sia-sia usaha Deon untuk membantu ayahnya memecahkan misteri tentang orang yang meracuni nya. Setidaknya sekarang Tuan Tama tahu bahwa ibu sambung Deon itu tidak bersalah sama sekali.


Deon berharap agar ayahnya bisa lebih baik pada Hera untuk kedepannya. Dia merasa kasihan melihat Hera yang selalu ketakutan setiap melihat ayahnya. Semoga saja dengan begini Hera bisa menghilangkan rasa trauma terhadap ayahnya sedikit demi sedikit. Bagaimana pun juga mereka itu punya hubungan yang sakral, sah di mata hukum dan agama.


Sebenarnya bisa saja Deon menyelesaikan


kasus tersebut sendirian tanpa ayahnya. Tapi dia khawatir rahasia yang selama ini di jaganya rapat-rapat, akan diketahui semua orang. Biarlah semua ini menjadi urusan ayahnya. Dengan begitu dia akan tetap menjadi seorang bocah lima tahun biasa saja.


Deon masih sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang dilakukan anak kecil itu malam-malam begini? Bermain game tentu saja tidak ada dalam kamus keseharian Tuan muda tampan tersebut. Waktunya terlalu berharga untuk hal-hal seperti itu.


Setelah hampir dua jam berkutat dengan ponsel pintarnya, Deon memutuskan untuk kembali tidur. Anak kecil seusianya masih membutuhkan waktu yang banyak untuk beristirahat, apalagi di malam hari. Sangat tidak baik baginya untuk begadang. Begitu menurut lagu yang pernah di dengarnya.

__ADS_1


__ADS_2