MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
38. HUKUMAN DEFAN


__ADS_3

"Sudahlah, Dia sudah pergi." Ucap Deon menyadarkan Hera dari lamunannya.


"Tuan muda sudah bangun?" Jawab Hera kikuk.


"Bisa beritahu aku apa yang terjadi? Kenapa kau pergi keluar malam-malam begitu?"


Dari sorot mata Deon jelas terlihat bahwa dia sedang marah, dan Hera tau itu.


"Maafkan saya Tuan muda." Ucap Hera lirih. Dia merasa bersalah.


"Aku tidak menyuruhmu meminta maaf. Katakan apa yang terjadi!"


"Itu... Itu... Saya..." Tidak mungkin Hera mengatakan pada Deon bahwa dia dilecehkan oleh Tuan Tama. Itu sangat tidak sopan. Lagipula Deon masih terlalu kecil untuk tau hal itu.


"Kau yang bercerita atau aku yang akan mencari taunya sendiri?" Ancam Deon.


"Tidak... Jangan.... Saya hanya berpikir bahwa Tuan muda sudah tidak membutuhkan saya lagi, makanya saya pergi sebelum di usir dari sini." Jawab Hera terbata-bata.


"Hera, apa semua murid di sekolah mu dulu bodoh-bodoh?"


"Tidak. Memangnya kenapa Tuan muda?"


"Aku tidak percaya kau adalah murid terpintar di sekolah mu. Kau itu sangat bodoh. Jangan coba-coba keluar dari kamar ini. Atau aku akan membunuhmu."


Setelah mengatakan itu, Deon pun beranjak turun dari tempat tidur Hera dan melenggang keluar. Dia sangat kesal. Entah dari mana wanita itu mendapat pemikiran seperti itu. Bisa-bisanya dia berpikir yang tidak-tidak hanya karena di acuhkan seharian. Apa semua perempuan seperti itu? Sungguh Deon tidak mengerti.


"Memangnya apa yang salah?" Gumam Hera menatap kepergian Tuan mudanya.


***


Di ruang kerja Tuan Tama, Defan tengah bersiap menerima hukuman dari atasannya.


"Ada yang ingin kau sampaikan?" Sorot mata Tuan Tama tak bersahabat sama sekali. Sepertinya dia sangat marah pada asisten pribadi nya tersebut.


"Saya..."

__ADS_1


Bugh... Belum sempat Defan menyelesaikan kalimatnya, sebuah bogem mentah telah mendarat dengan mulus di wajah tampannya.


"Maaf Tuan."


Bugh... Bugh...


"Apa yang kalian rencanakan dibelakang ku, ha?" Hardik Tuan Tama. Kemarahan benar-benar telah menguasai nya.


"Tidak ada Tuan."


Bugh... Bugh... Bugh...


"Kau menyukai nya?"


"Tidak Tuan."


Bugh... Bugh...


"Lalu bagaimana kau bisa bersamanya?"


"Kenapa kau membiarkan nya masuk ke hutan?"


"Itu...." Defan mendengar ucapan Hera yang ingin keluar dari sana. Tadinya dia ingin membantu gadis itu untuk melarikan diri, tapi mereka telah lebih dulu bertemu harimau peliharaannya Tuan Tama.


"Kau sengaja ingin dia pergi dari sini kan?"


Bugh...


"Kau mengkhianati ku."


Defan babak belur di hajar Tuan Tama. Tapi dia tidak menghindar dan juga tidak melawan sama sekali.


"Aku akan membunuhmu, sial*n."


Tuan Tama menodongkan pistol nya ke kepala Defan. Namun tak ada raut ketakutan sedikit pun di wajah asisten pribadi nya itu.

__ADS_1


Defan tau, Tuan Tama tidak akan mungkin membunuhnya semudah itu. Defan adalah orang kepercayaannya. Dia juga merupakan sahabat yang selalu ada di sepanjang perjalanan hidup Tuan Tama. Mereka sudah berteman sejak kecil. Defan adalah teman nya semasa menjadi pengemis. Tentu saja dia sangat tau bagaimana watak seorang Adhitama Dharmendra.


"Kau juga ingin mengkhianati ku karena seorang perempuan?"


"Saya tidak pernah berniat mengambil apapun yang menjadi milik Anda Tuan, bahkan saat itu masih menjadi keinginan Anda. Saya hanya merasa kasihan padanya. Dia sepertinya sangat tertekan." Defan bicara dengan sangat tenang, meski pistol Tuan Tama masih berada di kepalanya.


"Itu bukan urusanmu."


"Urusan saya bukan wanita itu. Tapi Anda dan Tuan muda Deon. Jika sesuatu terjadi pada nya, Deon pasti akan sangat membenci Anda. Tuan pasti tau bagaimana sayangnya Tuan muda Deon pada wanita itu bukan?"


Benar juga apa yang dikatakan Defan. Kenapa selama ini tak pernah terpikirkan olehnya. Akhirnya Tuan Tama menurunkan senjatanya. Dia berjalan menuju meja kerjanya, tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Defan pun segera bangun dan berdiri di hadapan Tuan Tama. Dia tidak pernah berharap Tuan Tama akan meminta maaf padanya karena sudah dipukuli. Tuannya itu tidak pernah meminta maaf pada siapapun, selama yang dia tau.


***


Disebuah tempat rahasia, seorang pria sedang berhadapan dengan seorang gangster termuda yang ada di dunia. Dengan usia yang masih sangat muda, dia mampu membangun sebuah kelompok yang sangat berpengaruh namun tak ada yang tau bahwa itu adalah ulahnya.


"Tau apa kesalahan mu Uncle?"


"Maafkan kelalaian saya Tuan muda."


" Kau tau aku bukan orang yang seperti itu kan uncle? Dan kau juga tau betapa berharganya dia bagi ku."


Dari sorot matanya sangat jelas terlihat bahwa dia sangat marah, meski kata-kata yang diucapkan nya terdengar lembut.


"Saya siap menerima hukuman Tuan muda."


"Bagus. Cambuk dia 100 kali!" Perintahnya pada anggota nya yang lain.


Pria di hadapannya tidak menolak dan siap menjalani hukuman yang diberikan kepada nya. Dia sadar bahwa kali ini dia telah lalai, sehingga membuat Tuannya sangat murka.


Sang ketua duduk di kursi kebesarannya dengan tenang, sambil menikmati pemandangan di depannya. Dia memang sangat tegas kepada semua anggotanya. Setiap yang bersalah pasti akan di hukum. Itu menjadikan mereka kelompok yang lebih tangguh dan tidak mudah di tumbangkan lawan.


"Jangan lupa untuk mengobati lukamu uncle! Aku tidak mau kau mati secepat itu." Ucapnya sambil berlalu pergi dari ruangan tersebut.

__ADS_1


"Baik Tuan muda."


__ADS_2