
"Ada apa?" Tanya Tuan Tama begitu Deon datang ke kamarnya.
"Kau baik-baik saja, Dad?"
"Tentu, memangnya kenapa?"
"Menurutmu kenapa aku bertanya?"
Tuan Tama tak menjawab. Dia tentu tau maksud putranya. Kejadian beberapa jam yang lalu tentu menjadi alasan pertemuan mereka kali ini.
"Aku hanya tidak ingin mencarikan pelayan baru untukmu."
"Hanya itu?"
"Hm."
"Kalau begitu kau tidak akan keberatan kan kalau Hera menikah dengan paman Zack?"
Tuan Tama yang awalnya enggan menatap wajah tampan putranya, kini beralih menatapnya tajam. Sepertinya pertanyaan Deon telah mengusik ketenangan hatinya. Dan Deon hanya tersenyum sinis melihatnya.
"Lalu bagaimana dengan mu?"
"Aku akan belajar mengurus diriku sendiri sampai hari pernikahan Hera digelar."
"Aku tidak setuju."
"Kenapa?"
"Harus ada orang dewasa yang selalu mendampingi mu."
"Di mansion ada begitu banyak orang dewasa yang akan mendampingi ku, Dad."
Tuan Tama kehabisan alasan untuk menolak keinginan Deon. Dia pergi begitu saja meninggalkan putranya yang kelihatan sangat bahagia dengan respon ayahnya.
__ADS_1
Deon kembali ke kamarnya setelah menerima sebuah pesan penting.
"Kau sudah menyelidiki nya?"
"Sudah Tuan muda."
"Biarkan saja mereka menjalankan rencana mereka. Ku rasa ini bisa menjadi jalan untuk rencana ku."
"Lalu bagaimana dengan..."
"Kalian awasi dari jauh saja! Jangan sampai mereka melukainya."
"Baik Tuan muda."
***
Malam ini Hera tak bisa tidur. Kejadian siang tadi telah menyita perhatian nya. Bagaimana dia dilambungkan angan karena di akui sebagai seorang istri di depan khalayak ramai, kemudian di hempaskan dengan penghinaan yang sangat menyakitkan. Sungguh Hera merasa di permainkan.
"Benarkah aku bisa lepas dari semua ini?"
"Adakah kebahagiaan untuk ku di dunia ini?"
"Kenapa kau masih saja mengujiku Tuhan? Sampai kapan KAU akan menguji ku seperti ini? Apa aku tidak berhak untuk bahagia?"
Hera menjerit dalam hati, menumpahkan segala rasa sakit yang dirasakannya. Air matanya mengucur deras dalam diam. Lagi, untuk kesekian kalinya, Hera kembali menangis dalam keheningan malam.
Tangan Deon mengepal kuat, dia menyaksikan semua nya dengan sangat jelas. Dia pura-pura tertidur agar Hera bisa leluasa meluapkan perasaan nya seorang diri. Deon tau, Hera tidak akan mau menunjukkan kesedihan nya di hadapannya.
"Sabarlah sebentar lagi. Aku akan membawakan kebahagiaan itu untuk mu dengan cara apapun." Deon berjanji dalam hati.
***
Pagi ini, rombongan keluarga Tuan Tama tengah menikmati sarapan pagi bersama. Suasananya berbeda dari hari-hari sebelumnya. Seperti ada yang sesuatu diantara mereka.
__ADS_1
"Tuan muda, saya permisi ke toilet sebentar." Pamit Hera kepada Deon.
"Apa kau bisa sendiri? Mau aku temani?"
"Tidak perlu, saya bisa sendiri."
"Baiklah, hati-hati dan lekas kembali!"
"Baik."
Hera berjalan menuju arah toilet. Saat hendak masuk tiba-tiba saja ada yang membekap mulutnya dari belakang. Hera mencoba memberontak, namun saputangan yang digunakan orang yang membekapnya tersebut ternyata telah di beri obat bius sebelumnya. Orang itu langsung menyeret pergi Hera yang tengah tak sadarkan diri, sebelum ada yang mengetahui aksinya.
Sudah 20 menit berlalu, namun Hera tak kunjung kembali. Deon merasa khawatir takut terjadi sesuatu pada pengasuh kesayangannya itu.
"Aku akan menyusul Hera." Ujar Deon. Dia sudah tidak bisa menunggu lagi. Dia harus memastikan sendiri kalau Hera baik-baik saja.
"Tidak perlu. Kau tunggu di sini saja! Def, cari wanita itu!" Tuan Tama memerintahkan Defan untuk pergi mencari Hera dan membawanya kembali.
Beberapa saat kemudian Defan kembali sambil berlari, nafasnya memburu menandakan telah terjadi sesuatu yang sangat besar.
"Tuan, nona Hera hilang." Dengan nafas tersengal-sengal Defan menyampaikan pesannya.
"Apa maksud mu?" Tatapan mata Deon berubah tajam. Dia tidak suka mendengar kabar yang dibawa Defan barusan.
"Nona Hera tidak ada di toilet Tuan muda. Saya juga sudah memeriksa sekitar area ini, namun tak ada tanda-tanda keberadaan nya."
"Kau sudah memeriksa CCTV?"
"Sudah."
"Lalu...?"
"Nona Hera di culik."
__ADS_1