
Di suatu pagi yang indah, kediaman Tuan Tama di hebohkan dengan kedatangan beberapa pria tampan nan mempesona. Tidak main-main, mereka berjumlah sekitar dua puluh orang. Mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka semua merupakan pebisnis handal yang terkenal di seluruh dunia. Tapi untuk apa mereka mendatangi kediaman Tuan Tama pagi-pagi begini? Apa mereka adalah tamunya Tuan Tama?
"Selamat pagi." Sapa sang pemilik hajat. Terdengar suara merdu nan bersahaja menyapa puluhan orang tamu undangan yang sengaja di hadirkan untuk sebuah alasan.
"Selamat pagi Tuan muda." Jawab mereka serentak.
Ya, benar. Mereka semua adalah tamu dari Tuan muda Deon. Tapi dari mana bocah itu mengenal para pebisnis tersebut? Tidak mungkin mereka adalah keluarga dari teman-teman sepermainan nya. Sedangkan selama ini dia tak pernah keluar dari area mansion, dan tak memiliki teman sama sekali. Lalu bagaimana Deon bisa mendatangkan orang-orang penting tersebut ke kediamannya?
"Tolong panggilkan Hera kemari!" Perintah Deon pada seorang pelayan yang kebetulan datang mengantarkan cemilan untuk Tuan mudanya.
"Baik Tuan muda."
Tak berapa lama kemudian, Hera datang dengan anggunnya. Dia sendiri bingung kenapa Deon meminta nya untuk berdandan secantik mungkin hari ini. Ya meskipun sebenarnya dia memang sudah cantik dari sananya.
Langkah kaki Hera terhenti melihat banyaknya pasang mata yang tengah menatap ke arahnya. Siapa orang-orang ini? Tak satupun dari mereka yang Hera kenal. Dan kenapa mereka menatapnya seperti itu? Hera kian bingung dengan keadaan saat ini.
"Kemarilah!" Ucap Deon memanggil ibu sambung kesayangannya.
"Tuan muda, Anda kedatangan tamu? Siapa mereka?" Tanya Hera penasaran.
"Nanti kau juga akan tau." Jawab Deon ambigu.
Hera dan Deon sarapan di gazebo yang tak jauh dari taman di belakang mansion. Sedangkan para tamu, di minta duduk menunggu sang Tuan muda menyelesaikan sarapan nya. Sungguh luar biasa. Bagaimana bisa seorang bocah memerintah puluhan orang dewasa seenak nya begitu? Hera tak tau harus bereaksi seperti apa.
***
Didalam rumah, Tuan Tama baru saja sampai di meja makan. Tak ada siapapun di sana. Dan makanan yang terhidang hanya untuk dirinya saja.
"Apa Deon dan Hera sudah sarapan?" Tanya Tuan Tama.
"Mereka sarapan di gazebo belakang Tuan."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Maaf Tuan, saya tidak tau."
Karena penasaran, Tuan Tama pun memutuskan untuk mendatangi istri dan putranya. Aneh saja rasanya, selama ini meskipun hubungan mereka tidak cukup baik, namun mereka selalu sarapan di meja yang sama. Tapi kenapa sekarang Deon dan Hera seperti menjauhi nya? Tidak bisa dibiarkan. Tuan Tama harus memastikan nya sendiri.
Dan alangkah terkejut nya dia saat melihat puluhan orang yang tengah duduk santai di taman rumahnya. Tentu saja Tuan Tama mengenal sebagian besar dari mereka. Karena mereka berada di bidang yang sama.
"Ada apa ini?" Tanya Tuan Tama bingung.
"Selamat pagi Tuan Tama."
"Pagi. Kenapa kalian semua berkumpul di rumah ku sepagi ini?"
"Kami di undang untuk datang ke sini."
"Di undang? Oleh siapa? Aku tidak pernah mengundang siapapun untuk datang."
"Aku yang mengundang mereka." Ucap Deon menjawab rasa penasaran ayahnya.
"Mereka akan mengikuti sayembara yang ku buat."
"Sayembara? Sayembara apa?"
"Sayembara untuk mencarikan suami bagi Hera."
"Apa? Suami? Jangan aneh-aneh kamu. Suami apaan? Dia sudah menikah dan punya suami. Untuk apa lagi kamu mencarikan suami untuk nya? Pakai sayembara-sayembara segala. Bubarkan semuanya!" Amuk Tuan Tama. Tentu saja dia tidak terima.
"Aku harus memastikan sendiri suaminya adalah orang yang benar-benar menyayangi nya dengan tulus. Dan juga harus bisa menjaga dan melindungi nya dengan seluruh jiwa dan raganya."
"Dia sudah mempunyai suami yang jauh lebih baik dari yang kau harapkan. Bubarkan mereka sekarang juga!"
__ADS_1
"Kalau begitu katakan padaku siapa suaminya? Dimana dia saat istrinya hampir mati dua kali?"
"Itu...." Tuan Tama tak bisa menjawab pertanyaan Deon. Lidahnya kelu. Tak ada pembelaan apapun yang bisa membenarkan perbuatannya di masa lalu.
"Kau tidak bisa menjawabnya? Jadi jangan coba-coba menghentikan ku!"
Deon berjalan menuju gazebo, menjemput wanita cantik kesayangannya.
"Sudah siap sarapan nya?" Tanya Deon lembut.
"Sudah."
"Mari ikut dengan ku!"
"Ada Tuan Tama juga. Apa mereka tamu Tuan Tama?" Tanya Hera saat melihat Tuan Tama berdiri tak jauh dari kerumunan orang-orang asing yang tadi di lihatnya.
"Sudah lah, tidak perlu dipikirkan."
"Selamat pagi Tuan." Ucap Hera menyapa majikannya.
Tapi Tuan Tama hanya diam saja menatap padanya. Tatapan matanya berbeda dari biasanya. Ada kesedihan dan penyesalan di sana. Tapi Hera juga tidak mengerti kenapa Tuan Tama menatapnya begitu.
"Baiklah, mari kita mulai." Ucap Deon memulai sayembaranya.
"Selamat pagi nona Hera. Anda sungguh sangat cantik. Laki-laki yang bisa memiliki Anda pasti sangat beruntung. Perkenalkan saya..."
"Jauhkan tangan kotor mu dari istriku!" Ucap Tuan Tama memotong kata-kata peserta sayembara yang ingin berkenalan dengan Hera.
Entah kenapa hatinya bergejolak marah dan tak terima saat mendengar pria lain memuji kecantikan Hera.
"Ikut aku!" Perintah Tuan Tama, sembari menarik paksa tangan lembut Hera.
__ADS_1
Deon hanya tersenyum sinis melihat ayahnya yang seperti kebakaran jenggot melihat Hera digoda laki-laki lain.
"Sudah seperti ini masih tidak mau mengaku juga. Dasar kepala batu."