
"Boleh aku masuk?" Tanya Deon begitu sampai di ruang kerja ayahnya.
"Hm." Sepertinya Tuan Tama masih kesal.
"Jangan marah-marah, kau itu sudah tua." Anak kecil itu masih berani meledek ayahnya.
"Kau masih ingat batasan wilayah yang bisa kau kunjungi bukan?"
"Entahlah. Aku sudah lama tidak berkeliling" Jawab Deon cuek.
"Jangan coba-coba untuk keluar dari batasan mu, kau mengerti?" Ancam Tuan Tama.
Deon mengangkat bahunya acuh. Terserah ayahnya sajalah mau bicara apa, dia sungguh tak peduli. Deon melenggang menuju sofa tamu di ruangan ayahnya tersebut. Duduk bersandar sambil menyimpangkan kaki mungilnya. Matanya bergerak liar mengabsen setiap inci ruangan tersebut.
"Tidak buruk." Ucapnya pelan.
Tuan Tama hanya melirik Deon sekilas, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Kelakuan putranya membuat Tuan Tama geleng-geleng kepala. Lihatlah gaya duduknya itu, sungguh mirip seperti dirinya. Sangat angkuh namun berkelas.
"Apa kau masih lama? Aku tidak punya banyak waktu bermain-main di sini. Masih banyak yang harus ku kerjakan." Sombongnya anak kecil ini. Memangnya apa yang harus dikerjakan oleh bocah lima tahun ini?
__ADS_1
Tuan Tama menghela nafas sesaat sebelum akhirnya mengakhiri pekerjaannya. Dia berjalan menuju putranya.
"Mari mulai belajarnya."
Deon mendengarkan dengan seksama semua penjelasan yang di sampaikan oleh Tuan Tama. Deon merasa lebih mudah memahami nya dari ayahnya langsung daripada dari guru yang biasa mengajarinya.
"Apa kau sudah mengerti?" Tanya Tuan Tama menutup ulasannya.
"Lebih mudah di pahami kalau begini." jawab Deon jujur.
"Apa ada yang tidak kau mengerti?"
"Banyak yang tidak aku pahami."
"Apa aku akan mendapatkan jawaban yang ku inginkan?"
"Tentu."
"Bagaimana aku bisa punya ayah tapi tidak punya ibu?" Deon menatap tajam ayahnya, menuntut penjelasan akan sosok ibu yang melahirkannya.
__ADS_1
Mendapat pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba sungguh mengejutkan bagi Tuan Tama. Selama ini dia memang melarang semua penghuni mansion untuk membahas tentang ibunya Deon. Tidak ada yang boleh membicarakannya meski Deon memohon untuk diberitahu.
Biarlah semua kenangan tentang wanita itu menjadi rahasia kelamnya sendiri. Deon tidak perlu tau apapun tentang ibunya. Wanita yang telah menghadiahkan seorang putra luar biasa dalam hidupnya.
"Kau tidak akan memberiku jawaban?" Tanya Deon menyentak lamunan Tuan Tama.
"Tentu saja kau punya."
"Dimana dia? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?"
Tuan Tama tidak tau harus menjawab apa. Belum saatnya untuk Deon mengetahui berbagai hal tentang ibunya. Meski sadar tak mungkin menutupi masalah ini selamanya, Tuan Tama tetap bertahan untuk tidak mengungkapkan nya sekarang. Biarlah suatu saat nanti Deon mengetahuinya entah dari dirinya sendiri sebagai ayah, ataupun dari orang lain.
Melihat Tuan Tama yang memilih bungkam, Deon pun mengerti bahwa ayahnya tak ingin membahas tentang ibunya. Tapi sebagai seorang anak, tentu dia juga ingin tau siapa dan bagaimana ibunya. Sampai saat ini Deon benar-benar buta tentang ibunya. Tak satupun yang dia ketahui. Bahkan sekedar nama pun dia tidak tau. Ayahnya benar-benar menutup informasi tentang ibunya dengan sangat rapat.
Deon pun memilih untuk berlalu dari sana. Meninggalkan ayahnya yang termenung sendiri. Memikirkan luka lama yang kembali di sentuh oleh putranya. Tak ada gunanya Deon bertanya pada ayahnya. Dia tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari laki-laki itu.
Saat sampai di depan ruang kerja ayahnya, Deon berselisih dengan Hera yang hendak mengantarkan cemilan untuk Taun Tama dan juga Deon.
"Tuan muda..." Sapa Hera.
__ADS_1
Namun karena suasana hati Deon yang sedang tidak baik, dia pun tak menghiraukan panggilan tersebut. Dia berlalu begitu saja. Membuat Hera merasa bingung. Apa yang terjadi dengan ayah dan anak majikannya tersebut. Apa mungkin mereka berselisih lagi? Kenapa sulit sekali bagi mereka untuk berbaikan? Hera bergulat dengan pemikirannya sendiri.
Karena sudah terlanjur membawanya sampai di sini, sangat sayang sekali jika harus di bawa kembali. Tidak apa, meskipun proses belajar mengajar Deon dan ayahnya telah berakhir, cemilan tersebut masih bisa dimakan Tuan Tama. Karena majikan Hera tersebut pasti akan sibuk bekerja nanti. Jadi biarkanlah cemilan tersebut menemaninya.