MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
43. SOSOK MISTERIUS


__ADS_3

"Tuan muda." Panggil Hera lembut sambil membelai rambut hitam Deon. Deon tengah bermanja dengan pengasuh cantiknya sebelum tidur.


"Hm."


"Apa Anda serius dengan ucapan Anda saat di meja makan tadi?"


"Ucapan yang mana?" Tanya Deon bingung.


"Tentang pernikahan." Jawab Hera ragu-ragu.


"Memangnya apa yang ku katakan?"


"Sudahlah, lupakan saja." Hera tidak ingin membahasnya lagi. Mungkin Deon hanya ingin membuat ayahnya kesal saja. Begitu pikirnya.


Deon tersenyum melihat Hera yang tengah pusing karena keusilannya.


"Kau sungguh sudah menikah Hera?" Tanya Deon. Kini dia tengah duduk di hadapan Hera, menatap tajam wajah cantik pengasuhnya tersebut.


"Entahlah." Jawab Hera bingung. Dia tidak tau bagaimana menjawabnya.


"Entahlah? Maksudnya bagaimana?"

__ADS_1


"Rasanya saya pernah terlibat dalam suatu prosesi pernikahan, dimana sayalah yang menjadi pengantin wanitanya."


"Berarti benar, lalu apa masalahnya?"


"Saya tidak pernah di inginkan. Dan kami tidak pernah menjalani kehidupan berumah tangga sama sekali. Apa itu masih dianggap pernikahan?" Pikiran Hera melayang jauh. Mengingat kejadian sakral yang telah mengubah hidupnya.


Dia yang awalnya mempunyai banyak mimpi, kini terkurung di sini. Di sebuah rumah mewah bak istana, namun tak tau dimana letaknya.


"Kau mencintainya?" Tanya Deon membuyarkan lamunan Hera.


"Tak ada cinta diantara kami Tuan muda." Jawab Hera sambil tersenyum getir. Tergambar jelas raut kesedihan disana.


"Tidak apa-apa. Ada aku yang akan selalu mencintaimu." Deon menangkup wajah manis Hera dengan tangan mungilnya. Meyakinkan gadis itu bahwa dia akan selalu ada untuknya.


"Aku akan tidur, kau pergilah beristirahat!"


"Saya akan menunggu sampai Anda tidur Tuan muda."


"Tidak perlu, aku janji akan tidur. Pergilah!"


"Tapi..."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Pergilah!"


Baru kali ini Hera meninggalkan kamar Deon sebelum Tuan mudanya itu terlelap. Tapi mau bagaimana lagi. Deon sudah menyuruh nya pergi dari sana.


Hera segera kembali ke kamarnya. Dia juga butuh istirahat sekarang. Setelah sampai di kamarnya, Hera pun merebahkan badannya di atas tempat tidur. Lagi. Pikirannya kembali melayang, memikirkan pernikahan yang di jalaninya.


"Sebenarnya aku ini siapa?" Tanya Hera pada dirinya sendiri.


"Aku menikah tapi tak punya suami. Bahkan orang yang seharusnya menjadi suamiku, malah menjadi majikan ku. Aku ini istri atau pembantu?" Hera asyik bicara sendiri sambil berbaring. Dia tidak menyadari bahwa di sana ada orang lain yang tengah menatapnya dalam gelap.


"Lebih baik aku mandi, lalu istirahat. Menjadi pelayan adalah kenyataan hidup ku saat ini."


Ujar Hera sambil melenggang menuju kamar mandi.


Lima belas menit Hera berada dikamar mandi. Kemudian dia keluar hanya menggunakan handuk kimono. Sambil bernyanyi dia menuju meja rias dan bersiap untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


Semua itu tak lepas dari pandangan mata seseorang yang tengah menatapnya lapar. Ingin rasanya dia menerkam gadis itu saat ini. Tapi sekuat tenaga di tahannya.


Berada di sana merupakan ujian yang berat baginya. Paha putih mulus Hera yang tak tertutupi handuknya. Lehernya yang terlihat sangat menggoda. Suara cempreng nya yang entah kenapa malah terdengar merdu dan mampu membangkitkan sebuah rasa yang berbeda di dalam dirinya.


Jika tidak memikirkan tujuan awalnya datang ke kamar Hera, sudah bisa dipastikan bahwa gadis cantik itu akan dihabisinya tanpa ampun. Hera tidak akan bisa menghindar dari nasib buruk yang akan menimpanya.

__ADS_1


Meski dapat menahan tubuhnya agar tak bergerak menuju mangsanya, tapi ada bagian tubuhnya yang tak mau bekerja sama. Gadis itu benar-benar harus segera dijinakkan.


"Tidak bisa dibiarkan." Gumamnya dalam hati.


__ADS_2