
Bagaimana bisa perusahaan milik seorang pengusaha ternama di dunia failed? Namun itulah yang terjadi pada Tuan Tama. Perusahaan yang berada di negara K tiba-tiba saja failed. Padahal perusahaan tersebut sebelumnya baik-baik saja, masih berjalan normal seperti biasa nya. Tak ada masalah apapun yang berarti di sana. Tapi sekarang perusahaan tersebut langsung failed begitu saja, tanpa ada tanda-tanda sama sekali.
Tentu saja hal itu memaksa Tuan Tama untuk terbang ke negara tersebut untuk menindaklanjuti keadaan di sana. Defan langsung menyambut kedatangan Tuannya begitu Tuan Tama sampai di Bandara.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Tuan Tama begitu Defan datang menghampiri nya.
"Ada yang menyabotase data perusahaan Tuan." Jawab Defan sambil membukakan pintu dan mempersilahkan Tuan Tama masuk ke dalam mobil.
"Pelaku nya sudah di temukan?"
"Maaf Tuan. Tim kita masih berusaha."
"Berusaha? Apa susahnya mencari data penyusup itu? Kita bahkan memiliki tim IT dan hacker terbaik."
Tuan Tama benar-benar dibuat naik darah oleh kejadian-kejadian tak terduga belakangan ini. Rasanya dia ingin menghabisi semua orang yang di temui nya. Bahkan anggota nya yang terdiri dari kumpulan orang-orang terbaik dalam bidangnya pun tak bisa membantu. Sebenarnya kemampuan anggota nya yang melemah atau lawannya yang terlalu tangguh?
Tuan Tama langsung meluncur menuju perusahaan nya yang sedang dalam masalah tersebut. Dia harus menyelamatkan perusahaan nya dari kehancuran. Jika dunia tau bahwa perusahaan nya mengalami masalah, pamor nya sebagai seorang pengusaha sukses terbaik di dunia bisa hancur. Dan tentu saja dia tak ingin itu terjadi.
***
Di tempat berbeda, Deon tengah menikmati hari-hari bahagianya bersama Hera, gadis cantik dan baik hati yang ditugaskan ayahnya untuk jadi pengasuhnya. Belakangan ini Deon tampak lebih bahagia dan bersemangat. Sepertinya suasana hatinya sedang baik. Entah karena apa.
"Hera, peluk aku!" Perintah Deon sambil merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Ada apa? Anda terlihat senang sekali." Tanya Hera sambil tetap memeluk Deon, seperti yang diinginkan tuan kecilnya itu.
"Aku bahagia bersama mu Hera." Jawabnya sambil mempertontonkan deretan gigi susunya yang putih bersih.
"Saya lebih bahagia lagi Tuan muda." Ucap Hera bersungguh-sungguh.
"Aku tau. Hera, apa yang kau inginkan?"
"Tidak ada Tuan muda. Saya hanya ingin Anda selalu sehat dan bahagia."
"Tetaplah bersamaku! Maka kau akan bisa melihat ku bahagia."
"Tentu."
Saat sedang asik bersenda gurau, tiba-tiba ponsel milik Deon berdering menandakan ada panggilan masuk. Deon meminta Hera untuk membantu nya mengambil ponsel yang terletak di atas meja di samping tempat tidur.
"Halo."
"Benarkah?"
"Lalu?"
"Bagus."
__ADS_1
"Sudah cukup. Biarkan saja."
Hera tak mengerti apa yang Deon bicarakan dan dengan siapa dia bicara. Semua itu bukanlah urusannya. Lagi pula dia masih cukup tau diri. Dia hanya seorang pengasuh.
Setelah memutus panggilan, Deon menyerahkan kembali ponselnya kepada Hera untuk di letakkan kembali. Kemudian dia menatap Hera sambil tersenyum.
"Ada apa?"
"Kau sangat cantik Hera."
"Jangan bercanda Tuan muda. Mana ada wanita cantik yang menjadi pelayan?"
"Ada. Kau adalah bukti nyatanya Hera."
"Saya tidak secantik itu Tuan muda."
Deon sangat senang menggoda gadis cantik di depannya ini. Menurutnya Hera sangat manis saat tersipu malu. Dan itu selalu bisa membuat nya tertawa. Bahkan kali ini suara tawa Deon bisa terdengar hingga keluar kamar nya.
Sebenarnya kamar Deon bisa di buat kedap suara jika Deon ingin mengaktifkan fiturnya. Tapi kali ini sepertinya dia sengaja membiarkan orang-orang mendengar tawa bahagianya. Anggap saja dia sedang pamer kebahagiaan.
Seseorang yang berada di luar bisa mendengar dengan jelas suara orang bersenda gurau di dalam kamar. Bahkan suara tawa mereka begitu membahana. Tapi justru hal itu malah membuatnya tidak suka.
"Benar-benar tidak bisa dibiarkan." Ucapnya dengan tangan terkepal erat. Lalu melangkah pergi karena tidak ingin ketahuan sedang menguping.
__ADS_1