
Mata Hera terbelalak, detak jantungnya seakan berhenti, dia tiba-tiba tidak bisa bernafas.
"Apa ini?"
Tuan Tama tidak dapat menahan gejolak dalam dirinya. Bibir merah delima itu di nikmati nya dengan lembut. Mencicipi setiap sisinya dengan sabar, benar-benar menikmati kenyal dan manisnya. Sungguh rasa yang sangat memabukkan.
Saat ingin mengeksplor bagian dalamnya, Tuan Tama tidak mendapat jalan masuk. Seketika dia membuka matanya, dan menatap Hera yang tak bernafas sama sekali.
"Apa yang kau lakukan? Bernafas lah!" Ucap Tuan Tama sambil melepaskan ciumannya namun tak melepaskan pelukannya.
Hera bernafas seperti orang yang sedang sekarat. Tiba-tiba dia jadi lupa bagaimana caranya bernafas dengan baik. Namun belum juga dia bisa mengingat bagaimana cara bernafas, Tuan Tama telah menyerangnya kembali.
"Tutup matamu, dan nikmati lah!"
Tuan Tama kembali meraup manisnya bibir merah delima Hera. Gigitan kecil berhasil memberinya akses untuk menjelajah di rongga mulut gadis cantik itu. Hera memejamkan matanya saat tangan kekar Tuan Tama mulai ikut menjelajah.
__ADS_1
"Jangan Tuan." Ucap Hera memohon.
Dia mencoba mendorong tubuh Tuan Tama, namun tenaganya tak cukup kuat. Yang ada dia malah semakin di pepet oleh Tuan Tama.
"Bukankah ini yang kau inginkan? Nikmati lah!"
Bibir Tuan Tama beranjak turun menuju leher jenjang Hera. Menjilati leher putih mulus nya, mengigit telinganya, dan tak lupa meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Memaksa Hera untuk menjerit, namun masih berusaha di tahannya. Semua rasa itu sangat baru bagi Hera. ini kali pertama dia di sentuh laki-laki seperti ini.
"Keluarkan saja!" Ucapan Tuan Tama membuat Hera bergidik.
"Akh."
"Jangan Tuan." Hera memohon dengan suara tertahan. Sekuat tenaga dia menahan agar suara laknat itu tidak kembali lolos dari bibir seksi nya.
Namun sayangnya suara lemah mendayu itu malah semakin memacu gejolak aneh dalam diri Tuan Tama. Laki-laki itu semakin menggila. Dia mengangkat gadis cantik dalam dekapannya menuju sofa tamu, dan membaringkan nya di sana. Hera mencoba menahan saat Tuan Tama ingin membuka kancing bajunya. Tapi tenaganya kalah jauh dibandingkan pria tampan itu. Tuan Tama mengangkat kedua tangannya dan menguncinya di atas kepala.
__ADS_1
Srekkkk... Hanya dengan sekali tarikan semua kancing baju Hera terlepas dan bertebaran di lantai. Memperlihatkan sesuatu yang memang ingin dilihat Tuan Tama. Hera tak lagi bertenaga untuk melawan, segala upayanya tak ada satupun yang membuahkan hasil. Tuan Tama sungguh bukan lawan yang bisa dia imbangi.
Tuan Tama menikmati kemenangan nya atas Hera. Tangan kirinya mengunci pergerakan tangan Hera, sedangkan tangan kanannya sibuk memainkan benda bulat kenyal yang sangat menantang di hadapannya. Meski masih tertutup pakaian dalam, namun tak menghentikan tangan kekarnya untuk merangsang area sensitif wanita cantik dibawah naungan nya. Bukan hanya itu, bibir merah delima yang sangat manis yang telah menjadi candunya juga tak luput dari serangannya. Turun hingga ke leher jenjang yang putih mulus yang juga sangat menggoda. Tuan Tama benar-benar menggila. Ini kali pertamanya menikmati wanita seperti ini. Ternyata rasanya sangat luar biasa.
Jika Tuan Tama menikmati kegiatannya, namun tak begitu dengan Hera. Gadis cantik itu menangis dalam diam. Air matanya mengalir tak terbendung. Rasa sakit dan malu yang dirasanya sangat tak tertahan. Dia dilecehkan pria tampan yang sebenarnya adalah suami nya sendiri.
Tuan Tama menghentikan aksinya saat mendengar Hera yang tersedu-sedu.
"Apa dia menangis? Tapi kenapa? Bukankah dia sendiri yang menginginkan semua ini?" Tuan Tama bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Dia melepaskan gadis lemah tak berdaya yang tengah menangis itu. Dia bangkit dan berjalan kembali menuju jendela besar untuk menatap langit malam yang diterangi bulan.
"Pergilah!" Ternyata lelaki kejam itu masih memiliki rasa iba di hatinya.
Sekuat tenaga Hera bangun dan menyeret kakinya dari sana. Dia segera berlari menuju kamarnya. Tidak mungkin dia berjalan santai dengan pakaiannya saat ini. Pakaian nya berantakan dan seluruh kancing bajunya juga telah terlepas. Semua orang akan berpikiran buruk jika melihat kondisinya saat ini.
__ADS_1
Setelah Hera berlalu dari sana, seseorang keluar dari persembunyiannya. Menatap Hera dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa kasihan terbersit di hati kecilnya, melihat gadis cantik nan baik hati yang baru saja di lecehkan oleh majikannya sendiri.
"Malang sekali nasibmu."