
#flash back on.#
Tuan Tama merasa tidak tenang mengingat tangisan Hera tadi.
"Kenapa dia menangis tersedu-sedu begitu? Bukankah dia sendiri yang menggoda ku?" Tuan Tama bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Tuan Tama memutuskan untuk mendatangi Hera di kamarnya. Memastikan alasan kenapa gadis itu justru menangis setelah menggodanya. Bukankah seharusnya dia senang karena mendapatkan apa yang dia inginkan?
Namun setibanya di kamar Hera, Tuan Tama tak menemukan gadis cantik penghuni kamar tersebut. Dia sudah memeriksa seluruh sudut kamar Hera, namun nihil. Karena merasa penasaran, dia kembali ke ruang kerjanya untuk mengecek CCTV. Dia terlalu gengsi untuk meminta bantuan orang lain untuk mencari pengasuh Deon tersebut.
Betapa mengejutkannya, Tuan Tama melihat Hera mengendap-endap keluar dari rumah. Bahkan dia bisa melihat Hera yang salah memilih jalan. Gadis itu memilih jalan menuju Hutan tempat tinggal harimau peliharaan nya.
Sontak Tuan Tama langsung bangun dan berlari keluar. Dan kebetulan salah seorang bawahan Deon yang menyamar menjadi pengawal di mansion melihat nya. Dia juga mendengar saat Tuan Tama menghubungi anggotanya dan mengatakan bahwa Hera ada di hutan tempat tinggal harimau peliharaannya.
Tentu saja hal itu langsung sampai kepada Deon. Deon pun juga langsung memerintahkan beberapa anggotanya untuk ikut mencari keberadaan Hera. Meskipun suasana hatinya sedang tidak baik, bukan berarti dia tidak menyayangi pengasuh cantik yang merupakan ibu sambung nya itu.
Setelah mencari ke berbagai arah, akhirnya Tuan Tama menemukan keberadaan Hera. Gadis itu tengah tersudut. Dan di hadapannya seekor harimau siap memangsa.
Beruntung di detik-detik terakhir, anggota Tuan Tama dapat melumpuhkan binatang buas tersebut dengan menembakkan obat bius.
#Flash back off#
Tuan Tama segera mengangkat tubuh lemah Hera yang tengah pingsan ke dalam mobil. Sebelum meninggalkan tempat itu, Tuan Tama juga meminta anggotanya untuk memasukkan harimau tersebut kedalam kandang nya kembali. Dia tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi kemudian hari.
__ADS_1
Dalam perjalanan kembali ke rumah, Tuan Tama juga menghubungi dokter Jeremy dan memintanya untuk datang secepatnya. Dia harus memastikan tidak ada yang terjadi pada gadis cantik itu. Entah kenapa dia jadi perhatian begitu?
Sesampainya di rumah, Tuan Tama langsung menggendong Hera dan membawanya masuk ke kamarnya. Disana dia di sambut oleh Bu Laksmi sebagai kepala pelayan. Juga ada Deon yang langsung memburunya dengan berbagai pertanyaan.
"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa ada diluar malam-malam begini? Apa yang sudah kau lakukan pada nya?"
Tuan Tama hanya diam, tak satupun dari pertanyaan Deon yang di jawabnya. Tak lama kemudian dokter Jeremy pun datang.
"Kakak." Sapa dokter Jeremy pada Tuan Tama. Dia sudah menganggap Tuan Tama sebagai kakaknya sendiri. Karena Tuan Tama lah yang sudah menyelamatkan nya dan membiayai pendidikan nya hingga menjadi dokter seperti sekarang.
"Cepat periksa dia!" Perintah Tuan Tama.
Dokter Jeremy pun segera menjalankan tugas nya. Memeriksa kondisi Hera yang tampak mengenaskan.
"Selain hipotermia dia hanya mengalami luka luar saja. Pastikan dia memakai pakaian yang tebal dan panjang. Itu akan segera mengembalikan suhu tubuhnya seperti semula." Ujar dokter Jeremy menjelaskan.
"Hm." Tuan Tama mengangguk tanda mengerti.
"Kak, bisa aku bicara dengan mu?" Tanya dokter Jeremy pada Tuan Tama.
Tuan Tama mengerti bahwa ada sesuatu yang bersifat rahasia yang ingin disampaikan dokter Jeremy padanya. Untuk itu dia membawa dokter Jeremy ke ruang kerjanya.
"Ada apa?" Tanya Tuan Tama begitu mereka sampai di ruangannya.
__ADS_1
"Hhmmmm... Apa telah terjadi sesuatu antara kau dan wanita itu kak?" Tanya dokter Jeremy ragu.
"Maksud mu?"
"Ada bekas kemerahan di lehernya. Apa itu ulah mu?"
"Kau menuduhku? Mungkin saja dia mendapatkan nya di hutan. Mana aku tau." Sanggah Tuan Tama.
Dia memalingkan wajahnya. Dan itu membuat dokter Jeremy semakin merasa yakin dengan apa yang dia pikirkan. Dia tersenyum melihat tingkah malu-malu Tuan Tama. Seorang ketua mafia yang terkenal kejam dan tanpa ampun. Sungguh ekspresi itu sangat tidak cocok dengannya.
"Lain kali jangan memaksa kalau dia tidak mau kak. Dia jadi stress karena ulah mu." Ucap dokter Jeremy tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Aku tidak memaksanya, dia sendiri yang datang dan menggodaku."
Ups... Kenapa dia sering sekali keceplosan belakangan ini? Untung saja bukan di hadapan para musuh-musuhnya. Bisa hilang wibawanya sebagai ketua mafia terkuat di dunia.
Dokter Jeremy tak dapat lagi menahan tawanya. Hilang sudah kesan menyeramkan yang biasa disematkan oleh lawan-lawannya selama ini. Tuan Tama terlihat sangat lucu sekarang ini dimata Jeremy.
"Kau sudah bosan hidup Jer?" Tanya Tuan Tama sambil memperlihatkan senyum manisnya. Namun bagi Jeremy itu seperti senyuman dewa kematian, sangat menakutkan.
"Hehehe... Maaf kak." Dokter Jeremy tersenyum kikuk.
"Pergilah sebelum aku berubah pikiran."
__ADS_1
Sebelum Tuan Tama menyelesaikan ucapannya, dokter Jeremy telah lebih dulu lari tunggang langgang meninggalkan Tuan yang sudah menyelamatkan hidupnya dan mengangkat derajatnya tersebut.