MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
41. KEBERSAMAAN


__ADS_3

Kini tiba waktunya untuk Deon belajar. Dia berjalan menuju ruang belajarnya bersama Hera. Bocah cilik itu terlihat sangat bahagia. Dan lihatlah tingkah nya, dia terlihat seperti bocah seusianya yang lain. Dan tentu saja Hera juga merasa senang karena Deon mau bermanja dengannya.


"Gurunya belum datang?" Tanya Deon begitu mereka sampai di ruang belajar yang sudah di sediakan Tuan Tama untuk putranya menuntut ilmu.


"Mungkin sebentar lagi. Tuan muda mau saya ambilkan sesuatu untuk cemilan?" Tanya Hera sambil tersenyum lembut pada Tuan mudanya.


"Aku ingin brownies dan jus Alpukat. Boleh?"


"Tentu saja." Jawab Hera.Dia membelai rambut hitam Deon dengan penuh kasih sayang. Kemudian berjalan keluar meninggalkan sang Tuan muda seorang diri menunggu guru yang akan mengajarinya.


"Dia sudah di dalam?" Tanya Tuan Tama mengagetkan Hera. Pria itu tiba-tiba saja sudah berada di belakang Hera.


"Sudah Tuan." Jawab Hera sambil menunduk. Dia masih tidak berani menatap wajah tampan Tuan Tama.


"Kau mau kemana?"


"Mengambilkan cemilan untuk Tuan muda, Tuan."


"Ambilkan juga untuk ku!"


"Baik Tuan."


Hera pun segera turun ke lantai bawah untuk mengambilkan cemilan dan jus untuk Deon dan ayahnya.


Tak lama kemudian dia kembali ke ruang belajar Deon sambil membawa nampan berisi sepiring brownies dan dua gelas jus Alpukat. Saat hampir sampai di ruang belajar, Hera melihat Tuan Tama yang seperti ragu-ragu untuk masuk.


Berkali-kali pria itu menarik nafas untuk menutupi kegugupannya. Dia seperti seorang anak yang akan menemui orang tuanya setelah berbuat salah. Hera hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Tuan Tama yang menurutnya lucu tersebut. Sangat tidak cocok baginya bertingkah seperti itu.


"Kau." Deon terkejut melihat siapa yang datang. Bukannya Hera ataupun guru belajarnya. Melainkan ayah yang tidak ingin ditemuinya untuk saat ini.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Deon tidak suka dengan keberadaan ayahnya sendiri.


"Mulai sekarang aku yang akan mengajarimu." Jawab Tuan Tama dengan tenang.


"Aku tidak mau. Mana guru ku yang biasanya?"


"Sudah ku berhentikan."


"Kalau begitu aku tidak akan belajar." Tegas Deon.


Tuan Tama tidak melarang saat putranya ingin meninggalkan ruangan tersebut. Dia hanya membiarkan saja dan memilih duduk di kursi yang di sediakan untuk guru Deon biasanya.


"Tuan muda." Panggil Hera saat Deon ingin pergi.

__ADS_1


"Aku tidak mau belajar." Ucap Deon kesal.


"Kenapa?"


"Gurunya tidak ada."


"Bukankah Daddy Anda ada di dalam? Mungkin beliau yang akan menggantikan gurunya mengajar hari ini." Terang Hera.


"Aku tidak mau." Keputusan nya sudah bulat. Dia masih kesal dengan ayahnya.


"Saya temani, bagaimana? Sayang cemilan dan jusnya sudah terlanjur sampai di sini." Ujar Hera membujuk Deon agar mau masuk dan belajar bersama ayahnya.


"Baiklah kalau itu maumu. Ingat ya, aku melakukan ini untuk mu." Ucap Deon menuruti keinginan Hera.


"Iya.Kita masuk sekarang?"


"Hm."


Dan akhirnya Deon masuk kembali bersama Hera.


"Ayo mulai belajarnya!" Ajak Deon.


Tuan Tama senang karena akhirnya Deon mau di ajari lagi olehnya.


Proses belajar mengajar itupun berlangsung serius, dengan Deon yang duduk di samping Hera. Dia tidak mau jauh dari ibu sambung nya itu. Dan Tuan Tama tidak ada masalah apapun dengan itu. Selama Deon bisa fokus dengan pelajarannya.


"Mau minum dulu?" Tanya Hera disela-sela Deon mengerjakan soal latihan yang di berikan Tuan Tama.


"Boleh." Deon menerima gelas berisi jus Alpukat dan meminumnya.


"Tolong suapi aku!" Ucap Deon meminta tolong.


Tuan Tama tertegun mendengar bagaimana putranya meminta tolong pada Hera. Penuh sopan santun, dan itu bukan ajarannya. Itu membuatnya kembali merasa bersalah. Selama ini tidak ada cinta dan kasih sayang yang di ajarkan nya pada putranya yang kini telah tumbuh menjadi anak yang sangat luar biasa.


Hera tengah menyuapi Deon potongan kue brownies yang tadi dibawanya. Tiba-tiba ada sepotong kue yang berada tepat di depan wajahnya.


"Makanlah!"


Entah keberanian dari mana, Tuan Tama mengambil sepotong kue


dan menyodorkannya kepada Hera? Laki-laki itu benar-benar menyuapi Hera.


Hera merasa tidak enak jika harus memakannya langsung dari tangan Tuan Tama. Jadi dia ingin mengambilnya, dan memakannya sendiri. Tapi Tuan Tama menolak.

__ADS_1


"Tidak, langsung makan saja!" Perintah Tuan Tama.


"Tapi Tuan..."


"Makanlah!"


Hera menoleh pada Deon untuk meminta bantuan. Tapi sepertinya Deon acuh-acuh saja. Dia bahkan masih sibuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh ayahnya.


Hera terpaksa menerima suapan tersebut. Dia hanya memakan sedikit kue di tangan Tuan Tama tersebut. Rasanya benar-benar canggung.


"Habiskan!" Perintah Tuan Tama kemudian.


"Tidak perlu Tuan, saya sudah kenyang." Jawab Hera canggung.


"Baiklah." Tanpa diduga sisa kue yang di makan Hera tadi malah langsung dimakan Tuan Tama begitu saja. Hera dan Deon sama-sama menatap Tuan Tama dengan pandangan tidak percaya. Tapi yang dilihat tidak merasa bersalah sama sekali, dan tetap fokus menikmati kue dan jus yang tadi dibawa Hera.


"Ada apa?" Tanya Tuan Tama yang sadar di perhatikan.


"Kau merencanakan sesuatu?" Tanya Deon curiga dengan sikap ayahnya.


"Tidak. Memangnya kenapa?" Tanya Tuan Tama bingung.


"Aneh." Jawab Deon ketus.Namun Tuan Tama tidak menghiraukan nya.


Ketua mafia yang kini menjelma menjadi sosok ayah yang penyayang keluarga tersebut sangat aneh dan mencurigakan dimata Deon dan juga Hera.


"Sudah. Periksalah!" Ucap Deon sambil menyodorkan jawaban dari soal-soal yang diberikan oleh Tuan Tama tadi kepada nya.


Tuan Tama menerima dan memeriksa nya. Luar biasa, Deon bisa menyelesaikan semuanya dengan sangat baik.


"Sangat bagus. Aku akan memberikan hadiah karena kau bisa menyelesaikannya dengan sangat baik. Apa yang kau inginkan?" Tuan Tama merasa sangat bangga pada putranya itu.


"Aku mau Hera."


"Kau tidak bisa menikah dengan nya. Aku sudah mengatakannya sebelumnya."


"Kenapa?"


"Dia sudah menikah."


Jawaban Tuan Tama sukses mencuri perhatian Deon dan juga Hera. Hera menatap wajah tampan suami yang telah dilupakannya beberapa hari terakhir ini. Sedangkan Deon menatap wajah Hera, dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Tidak masalah. Hera akan menceraikan suaminya untuk ku." Ucap Deon sambil tersenyum manis menatap wajah Hera yang kebingungan.

__ADS_1


Berbeda dengan Tuan Tama, wajahnya merah padam. Dia menatap Hera, berharap agar gadis cantik itu menolak keinginan Deon, tapi Hera tak bereaksi sama sekali. Dia kesal, tapi tidak tau kesal pada apa dan siapa?


Dia langsung bangkit dan berjalan keluar meninggalkan anak dan istrinya dengan penuh tanya. Dia sangat kesal sekarang. Kenapa Deon malah ingin Hera menceraikan suami yang sudah di nikahinya? Tidak bisakah dia meminta yang lain saja? Istana yang terbuat dari emas dan berlian lebih masuk akal bagi Tuan Tama dari pada perceraian yang di inginkan Deon.


__ADS_2