MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
24. MASIH BERUSAHA


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Defan telah terparkir di basement kantor "D&D CORPORATION". Perusahaan yang sengaja di bangun Tuan Tama untuk putranya, Deon Ezra Dharmendra.


Jam 10.00 pagi, Tuan Tama tengah mengadakan rapat dengan beberapa kepala bagian, untuk meninjau kinerja para karyawan. Ini adalah rapat bulanan yang selalu di lakukan Tuan Tama. Dia ingin yang terbaik untuk perusahaan yang kelak akan menjadi milik putranya.


Sejak rapat dimulai, Tuan Tama selalu marah-marah. Apapun yang di laporkan oleh bawahan nya selalu salah di matanya. Bahkan meski itu adalah laporan tentang keuntungan yang didapat perusahaan sekalipun.


"Kenapa hanya segitu yang bisa kalian dapatkan? Harusnya kalian bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi."


"Apa ini? Begini saja tidak bisa. Dasar tidak berguna."


"Apa saja yang kau lakukan? Kenapa bisa begini?"


Dan masih banyak lagi kata-kata mutiara yang di ucapkan Tuan Tama selama rapat yang berlangsung hampir dua jam. Yang jelas rapat kali ini hanya berisi kemarahan Tuan Tama.


Defan merasa kasihan pada semua karyawan yang ikut dalam rapat kali ini. Sebenarnya mereka tak berbuat salah sama sekali. Laporan yang mereka sampaikan pun juga tak salah. Namun karena suasana hati Tuan Tama yang sedang tak baik, jadi mereka lah yang menanggung akibatnya. Kasihan sekali.


Setelah penantian panjang yang sangat mengerikan, para anggota rapat itu akhirnya bisa bernafas lega. Kini sudah tiba waktunya untuk makan siang, dan rapat pun selesai.


"Aku mau nasi goreng yang paling enak." Ucap Tuan Tama sambil berjalan menuju ruangannya.

__ADS_1


"Ada lagi Tuan?"


"Tidak."


Tuan Tama masih belum menyerah. Dia sangat menginginkan nasi goreng spesial seperti buatan Hera tadi pagi. Harus sama seperti itu. Tampilan dan aromanya, Tuan Tama menginginkan yang sama dengan yang di makan Deon tadi pagi. Tapi dia tidak mau mengakui bahwa dia menginginkan masakan pelayan putranya itu. Tetap saja gengsi lebih menguasai dirinya.


Defan tetap berusaha memenuhi keinginan sang Tuan, meski sebenarnya dia tidak mengerti nasi goreng yang seperti apa yang di inginkan oleh Tuannya. Defan memesan beberapa nasi goreng dari berbagai tempat, dari restoran bintang lima sampai pedagang kaki lima. Semoga saja ada satu saja yang di sukai Tuan Tama. Harapnya.


Berselang beberapa menit kemudian semua nasi goreng pesanan Defan pun sampai di perusahaan. Kini tiba saatnya penilaian terhadap semua nasi goreng tersebut oleh yang mulia Tuan Adhitama Dharmendra.


"Tuan." Defan datang ke ruangan Tuan Tama sambil membawa sepiring nasi goreng di tangannya. Tuan Tama hanya memperhatikan, dan....


"Ganti!"


"Tidak. Ganti!"


"Bukan seperti itu. Ganti!"


"Aromanya tidak sama. Ganti!"

__ADS_1


"Ganti!"


"Ganti!"


"Ganti!"


Entah sudah berapa nasi goreng yang di tolak Tuan Tama hari ini. Dari tadi pagi tidak ada satupun yang sesuai dengan harapan nya. Defan dibuat pusing oleh tingkah Tuannya itu. Ingin sekali rasanya Defan meneriaki atasan nya itu. Tapi tidak mungkin, dia tidak seberani itu.


Sedangkan di tempat lain, Deon tengah terbahak-bahak melihat video yang di putar di tablet miliknya. Tayangan yang tengah menjadi tontonan nya sungguh sangat menggelitik hati Tuan muda tampan dan menggemaskan itu.


Saat ini, Deon tengah berada di kamar nya sendirian. Tadi Hera meninggalkan nya karena Deon sedang tidur siang. Tapi sepertinya itu hanya akal-akalan Tuan muda itu saja. Lihat saja sekarang, dia tengah asyik menonton. Beruntung Kamarnya kedap suara, jadi sekeras apapun dia tertawa tidak akan ada yang mendengarnya.


Lagi pula di lantai tiga hanya ada dia seorang. Berhubung Tuan Tama sedang bekerja, maka kamar dan ruang kerjanya pasti kosong. Jadi Deon bisa bebas melakukan apapun yang dia inginkan.


Kesenangan Deon terjeda saat salah seorang orang kepercayaan nya menghubungi untuk melaporkan sesuatu.


"Lumayan juga." Ucap Deon. Laporan yang baru saja diterima Deon, mengharuskan nya untuk lebih serius. Dia tidak lagi melanjutkan tontonan yang membuat nya tertawa terbahak-bahak tadi. Ada hal lain yang lebih penting untuk dilakukan nya.


"Kurasa itu sudah cukup." Ucapnya.

__ADS_1


Setelah berkutat dengan ponsel pintarnya beberapa saat, Deon kembali melanjutkan tidurnya. Dia tidak ingin ketahuan oleh Hera, bahwa sebenarnya dia tidur sama sekali. Jangan sampai ibu asuh nya itu marah dan menghukum nya. Meskipun itu sangat mustahil terjadi. Mana mungkin Hera berani menghukum atasan kecilnya tersebut. Yang ada dia akan dihabisi di tempat oleh Tuan Tama.


__ADS_2