
"Ya, aku suaminya." Jawaban Tegas dari Tuan Tama yang membuat hati kecil Hera bergetar. Dia sungguh tidak menyangka bahwa laki-laki yang menikahinya untuk di jadikan sebagai pengasuh putranya, kini mengakuinya sebagai seorang istri di hadapan orang lain. Dan hebatnya lagi, ini adalah tempat umum.
"Bohong." Deon menyangkal pernyataan ayahnya.
Sinar kebahagiaan di hati Hera terpatahkan oleh satu kata singkat yang terucap dari seseorang yang telah di anggapnya sebagai anaknya sendiri.
"Tenang saja Paman. Dia hanya tidak ingin aku kehilangan pengasuh kesayangan ku. Itu saja." Terang Deon pada Zack.
"Ternyata begitu? Jadi aku masih punya kesempatan, kan Hera?" Tanya Zack sembari menggenggam tangan Hera.
"Lepaskan tangan kotor mu dari istri ku, sialan!"
Bugh...
Bogem mentah mendarat sempurna di wajah tampan pria asing yang berani menyentuh Hera. Entah kenapa Tuan Tama jadi tidak bisa mengendalikan emosinya saat ada yang ingin mendekati Hera. Padahal jelas-jelas dia sendiri yang mewanti-wanti Hera agar tidak pernah bermimpi untuk menghadirkan cinta diantara mereka.
Hera terkejut bukan main melihat perkelahian di depan matanya. Meskipun sering mendapatkan perlakuan tak baik di masa lalunya, namun Hera tetap saja tidak sanggup melihat orang berkelahi.
"Tuan sudah, tolong hentikan!" Ujar Hera mencoba melerai perkelahian antara dua orang yang tengah bertikai tersebut.
Namun Tuan Tama malah salah mengartikan maksudnya.
__ADS_1
"Oh, jadi kau membelanya? Kau senang di goda orang lain seperti itu, iya? Dasar murahan!" Maki Tuan Tama.
Jantung nya bagai diremas mendengar tuduhan tak beralasan yang dilayangkan Tuan Tama padanya. Dia bukannya membela orang asing tersebut, melainkan karena takut Tuan Tama terluka jika mereka terus berkelahi. Namun sayangnya Tuan Tama tak mengerti niat baiknya.
Air matanya jatuh seiring berlalunya Tuan Tama dari pusat keramaian tersebut. Dia sungguh tidak menyangka bahwa laki-laki yang baru saja mengakuinya sebagai seorang istri, telah menilainya sangat rendah seperti itu. Entah kenapa rasanya begitu menyakitkan.
Deon yang awalnya hanya diam menikmati pertunjukan, bergerak cepat menghampiri Hera. Dia tau bahwa saat ini perasaan ibu sambung nya itu tidak baik-baik saja.
"Kita kembali?" Tanya Deon dengan lembut.
Hera segera menghapus air matanya. Dia tidak ingin Deon melihatnya menangis. Bisa-bisa hubungan nya dengan Tuan Tama akan memburuk lagi.
"Hm." Hera mengangguk tanda setuju. Sebisanya dia menyembunyikan kesedihannya di sebalik senyum manisnya. Meskipun itu tidak akan pernah berhasil. Karena Deon sangat ahli dalam membaca raut wajah seseorang. Hal yang tak di ketahui siapapun. Bahkan Hera dan Tuan Tama selaku ayahnya sekalipun.
"Istirahat lah! Aku akan bersih-bersih sendiri."
Bocah tampan kesayangannya itu memang sangat mengerti dirinya. Dan Hera sangat mengakui itu.
Hera telah terlelap di sofa saat Deon selesai mandi dan berganti pakaian. Tadinya dia ingin menunggu Tuan mudanya itu selesai mandi dan akan membantu memakaikan pakaiannya. Namun karena kelelahan dia malah tertidur.
Deon meraih ponsel pintar miliknya, dan mulai menyibukkan diri di sana. Salah satu sudut bibirnya terangkat menggambarkan suasana hatinya saat ini.
__ADS_1
***
Sementara di sebuah rumah mewah, seorang ketua mafia yang paling ditakuti sedang mengamuk. Untuk pertama kalinya hatinya merasa terusik karena seorang perempuan. Sekarang dia mengerti kenapa wanita di anggap sebagai racun dunia. Makhluk yang bergelar perempuan itu memang sangat mematikan. Sangat berbahaya.
"Tuan."
Hap. Hampir saja sebuah vas bunga mendarat di kening mulus Defan, jika saja dia tidak cepat tanggap. Tuannya telah menghabiskan waktu berjam-jam di kamarnya. Menghancurkan semua benda yang berada dalam jangkauannya.
"Tinggalkan aku sendiri, Defan! Pergilah!" Perintah Tuan Tama.
Tapi tak sedikitpun Defan beranjak dari tempatnya. Tentu saja hal itu membuat emosi Tuan Tama semakin menjadi-jadi.
"Kau tidak mendengar ku? Aku bilang pergi! Pergi brengsek!" Teriak Tuan Tama penuh amarah.
Namun Defan masih membatu di tempatnya. Dia tak bergeming sedikitpun. Tuan Tama yang telah dikuasai amarah, mendekati asisten pribadinya tersebut. Berniat untuk menghajarnya karena sudah berani melawan perintahnya.
"Tuan muda ingin bertemu dengan Anda Tuan." Ucap Defan dengan santainya.
Tinju Tuan Tama berhenti tepat di depan wajah Defan. Sedikit lagi, jika saja Defan terlambat menyampaikan pesannya, bisa dipastikan saat ini wajahnya telah babak belur di hajar sang majikan.
"Ada apa dia mau bertemu dengan ku?"
__ADS_1
"Saya tidak tau Tuan. Tuan muda tidak memberitahukan tujuannya kepada saya."
"Baiklah. Kita kembali ke hotel sekarang. Suruh pelayan membersihkan semua ini!" Tuan Tama menyampaikan perintah nya sembari melenggang keluar. Defan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Tuan nya tersebut.