
Prank.....
Suara kaca pecah memaksa Bu Laksmi membuka kembali matanya. Dia masih hidup meski tengah sekarat. Deon tak menembaknya. Tembakan itu di alihkan pada botol2 kaca di sudut ruangan tersebut.
"Kau lihat betapa hancur itu? Seperti itulah hati ku. Kau dan putrimu yang murahan itu telah menghancurkan hidupku. Bahkan di saat-saat terakhir mu, kau masih tidak mau mengakui kesalahan mu. Kenapa kalian harus hadir di hidupku? Kenapa kau harus menyeret ku ke dalam rencana busuk mu itu, ha?" Deon meluapkan semua amarahnya.
"Kau tidak seharusnya ada. Karena keberadaan mu, rencana ku jadi berantakan. Harusnya putriku lah yang mewarisi semua harta kekayaan Adhitama Dharmendra, bukan kau." Ucap Bu Laksmi lemah.
"Harta. Ya, harta. Pasti itu yang menjadi alasan kalian mendekati ayahku. Manusia serakah seperti kalian yang sangat memuja kekayaan, pasti akan mampu melakukan apapun untuk harta. Termasuk mengorbankan nyawa darah dagingnya sendiri. Luar biasa."
"Kau tidak akan terluka jika ayahmu bersedia menyerahkan separuh hartanya untuk ibumu. Tapi dia terlalu tamak. Dia bahkan tidak bersedia mengorbankan sedikit harta kekayaan nya untuk putranya sendiri."
"Kenapa ayahku harus menyerahkan hartanya untuk kalian? Memangnya apa partisipasi kalian dalam hidup ayahku? Selain menipu dan mempersulit hidupnya yang pasti. Apa ada hal baik yang kalian sumbangkan dalam hidupnya? Tidak ada. Kalian hanya menghadirkan rasa sakit. Lagipula ayahku bukannya tidak membayar kalian. Bahkan setelah Putri mu yang hina itu mati, kau masih menerima kiriman uang dari ayahku yang kau pakai untuk menghancurkan keluarga kami. Apa itu tidak cukup?"
Bu Laksmi berusaha menggapai pecahan botol kaca di sebelah nya. Dia bergerak dengan sangat pelan, berharap Deon tidak menyadarinya. Dan berhasil. Dengan botol kaca yang pecah di tangannya, dia berdiri kembali dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Hahahaha. Kau sama seperti ayahmu yang bodoh itu. Hati kalian terlalu lemah. Harusnya kau langsung membunuh musuh mu selagi ada waktu. Sekarang keadaan sudah berbalik. Aku yang akan membunuhmu. Mati lah kau!"
Dor....
Bu Laksmi tergeletak bersimbah darah setelah sebuah timah panas menembus kepalanya. Ya, Rey langsung bergerak cepat melindungi Tuan mudanya saat melihat Bu Laksmi ingin mencelakai nya.
"Kau... Mati...."
"Huft... Bahkan di ujung nafasnya saja, dia masih sempat menyumpahi ku." Ucap Deon.
"Anda baik-baik saja Tuan muda?"
"Seperti yang kau lihat Uncle."
"Apakah Anda ingin menyemayamkan jenazahnya Tuan muda?"
"Bisakah kau mengurus nya untuk ku uncle? Aku tidak mau menyentuh darah kotor nya itu. Sudah cukup darah yang mengalir di tubuhku saja, jangan ada yang lain lagi."
"Tentu."
"Terima kasih Uncle. Lalu bagaimana dengan Zack? Dimana dia?"
__ADS_1
"Tadi saya meminta Rayan untuk menemaninya Tuan muda."
"Kasihan sekali peliharaan ku itu harus memakan bangkai busuk. Jangan lupa memberinya anti virus dan juga vitamin, agar virus Zack tidak menyebar dalam tubuhnya."
"Baik Tuan muda."
"Hari ini melelahkan sekali. Aku akan pulang Uncle."
"Mari Tuan muda."
***
"Selamat pagi Tuan muda." Sapa Hera membangunkan Deon.
"Hera. Kau di sini? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau keluar dari kamar mu?" Tanya Deon secara beruntun.
"Saya membawakan sarapan untuk Anda, Tuan muda." Jawab Hera.
"Siapa yang mengizinkan mu keluar kamar, ha? Lalu sarapan ini? Kau juga turun ke bawah? Kau naik tangga?"
"Cukup! Sekarang kembali ke kamar mu! Ayo! Aku akan memastikan kau kembali."
"Tapi Tuan muda...."
"Jangan membantah ku Hera, atau aku akan memberikan hukuman yang jauh lebih berat dari ini." Ancam Deon, sambil mendorong tubuh Hera kembali ke kamarnya.
"Huft... Baiklah."
Deon benar-benar memastikan Hera kembali ke kamarnya. Bahkan dia juga memastikan bahwa ibu sambung nya itu kembali berbaring di tempat tidurnya.
"Jangan turun dari tempat tidur mu sampai aku mengizinkan, mengerti?"
"Hm."
Deon tau Hera enggan, tapi dia tidak mau wanita cantik nya itu terluka kembali. Deon harus benar-benar memastikan bahwa Hera telah benar-benar pulih dengan sempurna.
Sebenarnya Hera sudah sembuh dan bisa melakukan aktivitas nya seperti biasa. Namun Deon yang sangat posesif terhadap ibu sambung nya itu masih belum mengakui kesembuhan tersebut.
__ADS_1
"Ini obat terakhir mu, minum lah!" Perintah Deon.
Setelah meminum obat pemberian Deon, tak lama kemudian Hera mulai mengantuk. Itu adalah efek samping dari obat yang di berikan Deon, dan memang selalu begitu.
"Kau sudah makan?"
Deon tak menghiraukan pertanyaan ayahnya, dia terus berlalu meninggalkan sang ayah yang hanya bisa menatap kepergian putranya.
"Kau masih marah?" Tetap tak ada jawaban.
"Maafkan Daddy." Ucapan Tuan Tama yang hampir seperti sebuah bisikan masih mampu di dengar Deon.
"Untuk apa?" Tanya Deon acuh. Dia masih sibuk dengan tablet di tangannya. Entah apa yang sedang di kerjakan bocah itu.
"Untuk semuanya. Maaf aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk mu. Maaf membuatmu harus hidup terkekang. Maaf tak bisa selalu ada untuk mu. Maaf...."
"Cukup! Akan ada banyak kata maaf yang akan kau ucapkan mengingat banyaknya kesalahan yang kau lakukan."
"Maaf karena membuat kalian terluka."
"Kau sadar apa kesalahan mu? Kau yang membuatnya terluka. Karena kesalahan mu, dia hampir mati dua kali. Apa kau tidak mengerti juga?"
"Maaf."
"Jika kau tidak bisa menjaganya, maka lepaskan dia!"
"Tidak."
"Kenapa? Kau ingin membuatnya celaka untuk kesekian kalinya?"
"Tidak. Aku akan menjaganya."
"Menjaganya? Kau yakin bisa menjaganya? Menjaga anak lima tahun saja kau tidak bisa, apalagi menjaga wanita dewasa seperti nya."
"Aku tidak akan pernah melepaskannya. Sampai kapanpun." Ujar Tuan Tama. Dia tiba-tiba menjadi kesal, dan meninggalkan kamar putranya.
"Dasar bocah tua."
__ADS_1