MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
15. KENCAN BAGIAN II


__ADS_3

Seperti yang di harapkan Deon. Hari ini dia menghabiskan waktu seharian bersama Hera, gadis cantik yang di pekerjakan ayahnya sebagai pengasuh. Di luar itu Hera juga merupakan ibu sambung yang menyayangi nya. Segala perhatian dan kasih sayang yang Hera curahkan untuk nya, sudah cukup menjadi alasan bagi Deon untuk menerima nya.


Mereka sangat menikmati kencan pertama mereka. Hari ini mereka nonton bioskop, yang ada di salah satu ruangan di mansion Tuan Tama. Makan siang ala-ala di restoran bintang lima, yang sebenarnya masakan para kru dapur mansion. Main sepeda di sekitar halaman mansion, dan lain sebagainya yang masih tetap dilakukan di sekitar mansion. Dan ditutup dengan menikmati matahari terbenam di pantai yang letaknya tak jauh dari mansion. Meskipun begitu mereka sama-sama menikmati setiap detik kebersamaan yang indah itu.


Mereka duduk berdampingan di sebuah batu besar yang ada di sana. Menikmati keindahan alam ciptaan pemilik semesta. Deru ombak yang tengah bermain kejar-kejaran dengan pantai. Semilir angin yang memaksa seluruh penghuni pantai untuk menari. Nyanyian merdu para burung. Pasir putih yang berkilauan di terpa lembayung senja. Awan-awan yang mengantarkan mentari menuju peraduannya. Sungguh sangat indah dan menenangkan.


Benar kata Deon. Hari ini Hera benar-benar menikmati hidupnya. Tak ada kesedihan, hanya ada tawa kebahagiaan. Hera lupa dengan semua rasa sakit yang diterimanya selama ini. Dia sangat bersyukur karena di pertemukan dengan Deon, bocah laki-laki yang memberi warna kebahagiaan dalam hidupnya yang kelam.


"Tuan muda, terima kasih." Ucap Hera dengan tulus. Rasanya berterima kasih saja tidaklah cukup untuk membalas kebahagiaan yang di berikan Deon dalam hidupnya. Namun hanya itu yang bisa dia berikan. Dia tak punya apapun untuk di serahkan sebagai tanda terima kasih nya.


" Berterima kasih lah dengan benar." Jawab Deon sembari menatap langit.


"Saya tidak punya apapun untuk di serahkan kepada Anda sebagai ucapan terima kasih saya." Ucap Hera dengan suara melemah.


"Ada."


"Apa?"


"Hidup mu."

__ADS_1


Hera tersentak kaget mendengar perkataan Deon. Hidupnya? Bukankah saat ini hidupnya milik Tuan Tama? Karena ayahnya sudah menjual hidup dan matinya kepada Tuan Tama.


"Jangan pernah berhenti menyayangi ku, seumur hidup mu!" Pinta Deon kepada Hera.


"Tidak akan."


Seseorang tengah menyaksikan semua yang mereka lakukan pada sebuah layar monitor di depannya. Ya, benar. Tuan Tama tengah memperhatikan interaksi antara dua sejoli beda generasi tersebut. Anggap saja dia sedang jadi mata-mata saat ini.


Mata Tuan Tama tak pernah lepas dari layar monitor di depannya. Dia benar-benar fokus memperhatikan. Tapi entah apa yang sebenarnya sedang di perhatikan nya. Entah putranya atau istri yang belum pernah disentuh nya.


Setelah puas menikmati pemandangan alam yang indah di tepian pantai, mereka pun kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, ternyata Tuan Tama telah menunggu mereka untuk makan malam. Hera membungkuk memberi hormat pada Tuan Tama. Namun pria itu bagai patung yang tak punya ekspresi apapun di wajahnya, begitu tenang namun mematikan.


Hera membantu Deon mandi dan bersiap dengan cepat karena Tuan Tama sudah menunggu. Dia tidak ingin Tuan Tama marah dan memisahkan nya dari Deon. Sepertinya dia benar-benar telah jatuh cinta pada pesona tuan kecilnya yang menggemaskan itu.


"Tidak perlu Tuan muda. Saya akan makan di belakang bersama pelayan yang lain." Jawab Hera sungkan. Tentu saja dia tidak berani duduk dan ikut makan satu meja dengan Tuan Tama.


"Kau harus duduk agar bisa menyuapi ku."


"Tapi Tuan..."

__ADS_1


" Duduk lah!" Perintah Tuan Tama mengakhiri perdebatan antara pasangan beda usia di depannya.


Hera akhirnya menurut. Dia tidak mungkin membantah lagi, apalagi jika perintah itu dari Tuan Tama langsung.


"Kapan Daddy pulang? Rasanya tadi pagi aku tidak melihat mu." Tanya Deon. Agak aneh memang, karena sebelumnya Deon tak pernah seperhatian itu pada ayahnya.


"Tadi pagi." Jawab Tuan Tama berbohong. Sebenarnya dia sudah ada di mansion sejak semalam. Dia bahkan juga tau saat Deon menyiapkan pakaian untuk Hera. Dan Deon juga membatalkan semua kegiatannya hari ini agar bisa berkencan dengan pengasuh cantik nya. Tuan Tama menerima semua laporan itu.


Hera hanya diam saja, dia tak berani bersuara jika dihadapan Tuan Tama. Nyalinya langsung menciut begitu berhadapan dengan laki-laki tampan itu.


"Kau juga harus makan, Hera." Ucap Deon memberi perhatian pada pengasuhnya.


"Saya akan makan di belakang nanti Tuan." jawab Hera tidak enak hati.


"Makan di sini saja. Anggap saja ini diner romantis kita."


Bagaimana Hera bisa menikmati diner romantis nya kalau di sana ada Tuan Tama yang sangat menakutkan. Hera melirik sekilas pada Tuan Tama, tapi pria itu seolah tak peduli dengan apapun di sekitarnya.


Karena tidak ada tanggapan apapun dari Tuan Tama, akhirnya Hera setuju. Namun bukannya menikmati, dia malah jadi tersiksa. Makanan yang dia makan seolah enggan untuk di telan. Untuk mengunyah nya saja Hera sangat pelan dan hati-hati, takut menimbulkan suara yang bisa mengganggu Tuan Tama.

__ADS_1


"Tenanglah! Ada aku disini." Ucap Deon sambil membelai pipi mulus Hera. Wanita itu sepertinya sedang tertekan. Entah karena apa.


Tiba-tiba Tuan Tama menyudahi makan malam yang sedikit terlambat itu. Dia kemudian bangkit dan melenggang pergi begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia merasa sangat tidak nyaman di sana. Apa mungkin dia cemburu?


__ADS_2