
Sebenarnya Tuan Tama tidak tau pasti siapa Bu Laksmi. Dia hanya menghubung-hubungkan kejadian masa lalu dan masa kini yang sedang terjadi. Dan satu-satunya yang berhubungan dengan Deon hanyalah ibunya yang telah tiada.
"Kau sudah tau siapa aku?"
"Jadi kau sengaja bekerja dengan ku untuk membalaskan dendam mu itu?"
"Hahahaha... Ya. Kau benar, Tuan Adhitama Dharmendra yang terhormat. Kau telah membunuh anak ku, putri semata wayang ku. Apa kau tau Deon, dialah yang telah membunuh ibu kandung mu. Ibu yang selama ini kau cari-cari. Dia, bajingan yang kau panggil ayah ini adalah pembunuh. Dia pembunuh." Teriak Bu Laksmi histeris.
"Bawa dia!" Perintah Deon. Dengan wajah tanpa ekspresi, Deon melangkah menuju Zack.
"Tetap di tempat mu atau aku akan membunuhnya." Zack refleks berjalan mundur sembari menyandra Hera.
Sedangkan wanita kesayangan Deon itu tengah menatap Tuan mudanya dengan berlinangan air mata. Bukan karena takut. Tapi Hera bisa merasakan sakitnya hati Deon saat ini. Kenyataan yang baru saja di ketahui nya sungguh telah menghancurkan hati Tuan muda tampan nya.
Deon tak gentar sama sekali. Dia terus maju dengan tatapan tajamnya. Dia sangat tidak suka melihat Hera menangis. Wanita cantik yang telah membuatnya merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ibu.
"Apa kau tidak mendengar ku ha? Berhenti di sana! Jangan mendekat! Aku tidak main-main. Aku akan membunuhnya." Ancam Zack.
__ADS_1
Namun kaki mungil Deon tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Tatapan matanya yang tajam mengunci pada senjata tajam yang ditodongkan Zack pada Hera.
Tinggal beberapa langkah lagi bagi Deon untuk menggapai Hera. Namun tiba-tiba... Dor.
"Tidak, Heraaaaaa." Deon segera berlari menuju Hera yang kini bersimbah darah.
"Hera, buka matamu! Jangan begini, kau membuat ku takut. Buka matamu! Apa kau tidak dengar? Ini perintah. Banguuuunnnnn!" Deon terisak sambil memangku kepala ibu sambung nya.
Tuan Tama bergerak cepat menggendong tubuh lemah Hera yang bersimbah darah.
"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!"
Hanya butuh waktu lima menit untuk mereka sampai di rumah sakit. Di sana sudah ada dokter Jeremy dan beberapa tim perawat yang akan menangani Hera. Untuk operasi, dokter Jeremy sendiri yang akan melakukan nya.
Deon tak bisa tenang. Dia terus berjalan mondar mandir di depan ruangan tempat Hera tengah di operasi. Sedangkan Tuan Tama terdiam menatap tangannya yang berlumuran darah Hera. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
Ting... Operasi Hera telah selesai. Dokter Jeremy keluar menemui Tuan Tama dan putranya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan nya Uncle? Semua baik-baik saja bukan? Dia selamat kan?"
Sungguh memilukan menatap keadaan Deon saat ini. Tergambar jelas raut kesedihan di wajah mungilnya. Dokter Jeremy berlutut di hadapan nya dan menghapus air mata yang tak kunjung berhenti sejak tadi.
"Tenang lah boy! Dia itu wanita tangguh. Dia tidak akan mati semudah itu. Lagipula, bagaimana mungkin dia bisa kenapa-kenapa tanpa seizin dari Tuan muda tampannya ini. Benar kan?"
"Jadi dia tidak kenapa-kenapa?"
"Hanya terluka sedikit."
"Terima kasih Uncle. Boleh aku melihatnya?"
Dokter Jeremy menggeleng tanda Deon tak bisa menemui Hera saat ini.
"Kenapa?"
"Kau tidak bisa menemui orang sakit dalam keadaan begini boy. Kau harus membersihkan dirimu terlebih dahulu." Ujar dokter Jeremy.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu aku akan mandi dulu. Aku titip Hera sebentar ya Uncle."
"Pergilah!"