MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
22. MEMASAK NASI GORENG


__ADS_3

Dengan kaki gemetar, Hera beranjak ke tempat tidurnya. Dia terkapar di sana. Tubuhnya serasa tak bertulang sekarang. Hera mecoba menutup matanya, namun bayangan tentang kejadian yang baru saja dia alami justru malah membuat matanya terbelalak.


Apa itu nyata? Benarkah itu nyata? Tuan Tama melakukan itu padanya? Rasanya sangat mustahil. Tapi rasa sakit dan bengkak di bibirnya sungguh nyata. Itu pasti hanya sebuah kesalahpahaman. Tuan Tama pasti tidak bermaksud melakukan itu padanya. Ya, pasti begitu.


Hera bermonolog dengan pikirannya. Kejadian tadi bagaikan mimpi buruk baginya. Hal yang dilakukan Tuan Tama tadi seakan menguras habis kepintaran nya selama ini. Bukan tanpa alasan Hera tak mengerti dengan hal-hal seperti itu. Selama ini dia tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun. Jangan kan untuk mengurusi masalah percintaan, untuk mengurus dirinya sendiri saja Hera tak punya waktu.


Malam ini sepertinya Hera akan begadang lagi. Rasa kantuk yang tadi menggerayangi matanya, kini telah hilang tak berbekas. Setiap kali dia mencoba untuk memejamkan matanya, bayangan itu selalu muncul. Apa semua orang yang baru saja merasakan ciuman pertamanya akan selalu seperti dia?


Tak jauh berbeda dengan Hera, Tuan Tama pun juga masih terjaga. Rasa lelah setelah bekerja seharian nyatanya tak mampu membuat nya tidur nyenyak begitu sampai di rumah. Dia masih sibuk merutuki kebodohan nya, yang tak mampu menahan diri dari godaan Hera. Dan tentu saja semua kesalahan itu tertumpah pada wanita yang sudah berani menggodanya tadi. Begitulah yang di pikirkan Tuan Tama.


Padahal Hera tidak melakukan apapun. Jangankan untuk merayunya, untuk bisa bernafas dengan normal saja dia tidak bisa. Tapi Tuan Tama sangat gengsi mengakui kesalahannya. Dia tetap berpikir semua yang terjadi adalah kesalahan Hera. Dan dia tidak melakukan kesalahan sama sekali.


Walau bagaimanapun Tuan Tama mengelak, rasa manisnya bibir Hera tetap saja telah tercetak permanen di ingatannya. Dia tidak bisa memungkiri bahwa rasa manis itu membuatnya ketagihan. Dia masih ingin menikmati nya lagi. Tapi bagaimana caranya? Tidak mungkin dia menerobos masuk ke kamar Hera tengah malam begini kan? Apalagi meminta baik-baik pada wanita itu, jelas itu lebih tidak masuk akal lagi.


Mereka sama-sama sibuk dengan pemikiran masing-masing. Saling membela diri dan tak mau di salahkan. Mengenang ciuman singkat namun sangat membekas. Bayangan itu tak kunjung hilang, hingga fajar menyingsing.

__ADS_1


Pagi ini seperti biasa Hera tengah membantu Tuan mudanya bersiap. Sebelum dia turun dan membuatkan sarapan spesial untuk Tuan mudanya, seperti janjinya semalam.


"Hera, kau turun duluan saja! Nanti aku menyusul."


"Kenapa begitu?"


" Bukankah kau harus membuatkan sarapan spesial untuk ku?"


"Saya bisa membuatkannya begitu kita sampai di bawah Tuan muda."


"Tidak. Itu akan membutuhkan waktu yang lama."


"Jangan membantah ku Hera."


"Baiklah."

__ADS_1


Hera tak lagi membantah. Dia tidak tahan jika Deon sudah memberikan tatapan mautnya. Rasanya sangat menggemaskan, dan Hera ingin sekali mencubit pipi tembem sang Tuan muda kalau sudah begitu.


Hera terpaksa turun lebih dulu, meninggalkan Tuan mudanya yang katanya akan menyusul turun jika sarapan spesial buatan Hera telah matang. Sesampainya di dapur, Hera langsung bergerak cepat menyiapkan segala hal yang di perlukan untuk membuat nasi goreng spesial ala Hera.


Seseorang tengah memperhatikan bagaimana terampil nya tangan-tangan lembut Hera dalam mengolah semua bahan-bahan itu. Lagi, Tuan Tama terpesona melihatnya. Entah kenapa dia merasa Hera semakin terlihat cantik. Padahal sebelumnya dia hanyalah gadis biasa yang tidak memiliki daya tarik sama sekali, pikir Tuan Tama.


Tuan Tama terus melangkah menuju ruang makan. Sambil sesekali mencuri pandang pada Hera yang tengah sibuk memasak. Tentu saja dia tidak ingin ketahuan. Bisa jatuh harga diri nya jika ketahuan sedang menatap gadis pelayan itu. Tuan Tama tidak tau bahwa sedari tadi ada yang memperhatikan nya.


Entah bisikan dari mana yang menuntun langkah Tuan Tama. Dia bukannya berjalan menuju meja makan yang telah di penuhi berbagai jenis makanan untuk sarapan. Melainkan menuju ke tempat Hera yang tengah sibuk menyelesaikan sarapan spesial untuk Deon.


Melihat gelagat aneh Tuan Tama membuat seseorang tersenyum sinis.


"Tidak akan ku biarkan."


Kini jarak mereka hanya beberapa langkah lagi, namun Hera masih TK menyadari kedatangan Tuan Tama di belakangnya. Dan saat jarak di antara mereka tinggal dua langkah lagi, tiba-tiba ada yang menerobos langkah Tuan Tama.

__ADS_1


Tentu saja itu sangat mengejutkan nya, dan juga Hera yang tengah fokus dengan kegiatan nya.


"Sayang."


__ADS_2