
"Hera, bagaimana kalau hari ini kita berkencan?" Tanya Deon pada saat Hera memakaikan pakaian nya.
"Hm?"
"Berkencan, bukankah kau belum pernah kemanapun selama di sini? Aku akan membuat mu lupa dengan semua kesedihan yang pernah kau alami sebelum mengenalku." Ujar Deon sembari menangkup wajah manis Hera dengan kedua tangan mungilnya.
Ya Tuhan. Hera tak dapat berkata-kata lagi mendengar penuturan bocah di hadapannya ini. Berkencan? Siapa yang mengajari nya kata-kata itu? Ingin sekali rasanya Hera memaki orang yang memberi pengajaran tak baik bagi Deon tersebut.
"Bukankah Tuan Muda harus belajar dan juga berlatih hari ini?" Tanya Hera berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku bosan Hera. Aku ingin kita berkencan, menghabiskan waktu bersama. Apa kau tidak mau pergi berkencan dengan ku?"
Huuufftt.... Kalau sudah begini mau tak mau dia harus setuju. Mana bisa dia menolak keinginan Tuan kecilnya yang sangat manis dan menggemaskan itu.
"Baiklah. Memangnya Tuan muda mau kemana?"
"Berkencan dengan mu."
" Iya, saya tau. Tapi Tuan Muda ingin kita berkencan dimana?"
__ADS_1
Hera mengalah. Sepertinya Deon sangat ingin mendengarnya mengucapkan kata itu. Sangat aneh rasanya mengucapkan kata berkencan kepada seorang anak kecil berusia lima tahun. Tapi ya sudahlah. Anggap saja dia sedang menemani putranya jalan-jalan.
"Nanti kau akan tau. Sekarang ganti pakaian mu dengan yang itu!" Perintah Deon sambil menunjuk sebuah kotak besar yang ada di atas tempat tidur nya.
"Kenapa harus diganti?"
"Kalau kau memakai baju pelayan begitu, maka tidak akan ada yang tau bahwa kita sedang berkencan." Ujar Deon menahan kesal. Masa begitu saja Hera tidak mengerti.
"Tapi saya kan memang pelayan Tuan muda."
"Kau ganti sendiri atau ingin dibantu pakaikan?" Ancam nya. Deon benar-benar merasa geram dengan kepolosan gadis di hadapannya ini.
"Saya sendiri saja." Jawab Hera cepat. Yang benar saja dia harus dibantu memakai pakaian oleh orang lain. Itu sama saja dengan mempertontonkan tubuhnya kepada orang lain. Tentu saja Hera tidak mau itu terjadi, malu dong.
"Baik."
Hera memilih untuk patuh. Jangan sampai Deon membuktikan ancaman nya tadi. Bisa malu seumur hidup nantinya.
Tak butuh waktu lama bagi Hera untuk bersiap, karena dia memang tidak terbiasa memakai riasan wajah yang mencolok. Dia hanya memakai pelembab, bedak, dan lip gloss sebagai riasan wajah manisnya.
__ADS_1
Selesai bersiap Hera langsung turun menemui teman kencannya. Deon tersenyum senang melihat kedatangan Hera yang tampak semakin manis dengan pakaian pilihannya.
"Kau cantik sekali Hera." Puji Deon.
" Terima kasih. Anda juga sangat tampan Tuan muda." Ucap Hera juga memuji Deon.
"Aku jadi takut kalau begini." Ujar Deon sedih.
"Kenapa? Apa saya berbuat salah Tuan muda?" Tanya Hera merasa khawatir karena Deon tiba-tiba menjadi sedih.
"Tidak, kau tidak berbuat salah. Tapi Tuhan sepertinya telah melakukan kesalahan karena melepaskan bidadari nya ke dunia ini di waktu yang tidak tepat. Harusnya kau menunggu ku dewasa dulu, baru turun ke bumi. Kalau begini kan aku jadi takut kau akan di rebut pria lain yang lebih tampan dan kaya dari ku." Ujar Deon dengan wajah sedihnya.
Hera melongo mendengar penuturan pasangan ciliknya itu. Kalau saja kata-kata itu terucap dari seorang pria dewasa, sudah di pastikan wajahnya akan memerah karena tersipu malu. Tapi ini bocah Lima tahun. Hera bingung harus bereaksi seperti apa. Meskipun dia agak malu juga di puji seperti itu, rasanya sangat berlebihan.
"Itu terlalu berlebihan Tuan muda. Lagi pula tidak ada yang mau dengan pelayan seperti saya." Ucap Hera merendah.
"Kau tau, hanya orang buta yang tidak bisa melihat kecantikan mu. Dan hanya orang bodoh yang akan melepaskan mu begitu saja." Ucapan Deon seperti sebuah sindiran. Tapi entah ditujukan pada siapa.
Dari kejauhan, ada dua pasang mata tengah memperhatikan mereka.
__ADS_1
"Kurang ajar." Ucap salah seorang yang merasa tidak suka dengan kebahagiaan Deon dan Hera.
Sementara yang lain hanya menatap dalam diam tanpa ekspresi sedikitpun. Tapi tangannya mengepal dengan kuat. Seperti nya hatinya tengah bergejolak.