MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
8. SIAPA MEREKA?


__ADS_3

Apa? Kenapa? Bagaimana? Ada banyak sekali pertanyaan yang menari-nari di pikiran nya saat ini. Salahkah bila dia merasa khawatir? Bagaimana pun juga bukankah laki-laki yang tengah terbaring tak berdaya itu adalah suaminya?


Hera kebingungan bagaimana harus menyikapi keadaan yang tengah terjadi saat ini. Meskipun selama ini tak pernah ada kontak apapun antara dia dan Tuan Tama, tapi mereka menikah secara resmi, di akui negara dan agama. Walau begitu dia juga takut sikapnya dianggap berlebihan, karena kenyataannya dia hanyalah budak yang diperjualbelikan. Sungguh tragis memang. Tapi itu lah kenyataan hidup yang harus di jalani Hera saat ini.


"Ganti pakaian mu! Aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuh mu itu."


Suara itu menyentak Hera dari lamunannya. Dia tak sadar bahwa sedari tadi pakaian nya juga basah kuyup. Mungkin karena terlalu khawatir pada keadaan Tuan Tama, dia sampai melupakan dirinya sendiri. Karena basah pakaiannya jadi menerawang dan juga melekat ke kulit, sehingga membuat lekuk tubuhnya terpampang dengan jelas.


Menyadari hal itu Hera langsung berlari menuju kamarnya, meninggalkan Tuan Tama yang mulai membuka mata. Hera tak menyadari bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan nya dalam diam.


"Astaga, memalukan sekali." Ucap nya sambil memegang kedua pipi nya yang mendadak terasa panas. Mungkin dia demam karena kehujanan tadi. Atau terlanjur malu karena pakaiannya yang menerawang dan Tuan Tama melihatnya.


Hera bergegas mengganti pakaian nya. Sekarang dia sudah bisa merasakan dinginnya hawa malam ini. Sedangkan sedari tadi dia tenang-tenang saja mengenakan pakaian basah itu. Aneh. Apa karena dia terlalu fokus pada Tuan Tama?


Setelah di tinggalkan Hera, Tuan Tama membuka matanya. Pikirannya melayang mengingat kejadian yang menimpanya saat di perjalanan pulang ke apartemen nya.


***


Ciiiiiiitttttt..... Defan langsung membanting stir ke kiri begitu ada mobil yang tiba-tiba menyalip dan berhenti mendadak di depannya. Siapa yang berani menghadang jalan seorang ketua mafia?

__ADS_1


"Ada apa?"


"Ada yang mencegat mobil kita Tuan."


"Siapa mereka?"


Belum terjawab pertanyaannya, tiba-tiba ada yang melompat di atas mobil yang mereka tumpangi. Bukan satu, melainkan tiga orang. Dan mereka langsung menyerang begitu saja.


Hal seperti ini bukan lah kali pertama bagi seorang Adhitama Dharmendra, yang merupakan ketua mafia terkuat di dunia. Sudah pasti ada banyak sekali musuh yang ingin menyingkirkan nya, entah itu dari dunia bisnis, atau pun dari dunia mafia.


Diserang di dalam mobil secara mendadak begitu membuat mereka hanya bisa bertahan karena tak mempunyai cukup ruang untuk melakukan perlawanan. Tapi meski begitu mereka tak panik sama sekali.


Perkelahian berlangsung sengit. Awalnya Tuan Tama dan Defan tak mengalami kendala apapun. Bahkan mereka bisa memukul mundur beberapa orang yang mengepung mereka tadi. Tapi tiba-tiba dari kegelapan malam mereka berdatangan kembali dalam jumlah yang banyak.


"Tuan, mereka terus berdatangan. Kita kalah jumlah." Ujar Defan mulai putus asa. Selama di Indonesia, Tuan Tama memang hampir tak pernah membawa anggotanya untuk urusan bisnis. Hanya Defan, asisten pribadi nya lah yang selalu setia menemaninya kemanapun. Dia tidak ingin terlihat mencolok. Lagi pula di Indonesia tak banyak yang tau tentang status nya sebagai ketua mafia.


"Tuan, pergilah dari sini. Biar mereka semua menjadi urusan saya." Defan mencoba mencari cara untuk menyelamatkan Tuannya.


" Jangan bodoh. Kau ingin mati di tangan mereka?"

__ADS_1


"Tidak masalah selagi Anda bisa selamat Tuan." Jawab Defan.


Selagi mereka sibuk berdebat, tiba-tiba ada yang menyerang ke arah Tuan Tama. Karena kurang waspada Tuan Tama pun tak sempat menghindar. Pisau tajam itu menggores lengan kekar nya.


"Tuan." Defan berteriak kaget melihat Tuan nya terluka.


"Tetap waspada! Aku tidak apa-apa."


Tak terima karena Tuan nya di lukai, Defan mengamuk membabi buta. Dia sangat marah. Meski bisa melukai sebagian besar lawannya, nyatanya dia tetap terluka. Hampir seluruh tubuh nya terkena luka goresan.


Keadaan yang memang tak seimbang membuat mereka kian terdesak. Mereka telah kewalahan melawan orang-orang itu yang selalu berdatangan lagi dan lagi. Mereka seperti tak ada habisnya.


Karena sudah sangat kelelahan Tuan Tama jadi kehilangan fokus. Dia merasa tubuhnya semakin melemah. Hingga ada yang datang menyerangnya, sedangkan dia sudah tak mampu melawan lagi. Membuat sang lawan dengan mudahnya menikam tubuh lemahnya dengan sebuah belati.


Penusukan itu sukses merenggut kesadarannya. Dia terkapar begitu saja, tanpa mampu melakukan perlawanan apapun lagi. Apakah dia akan berakhir di sana? Dia hanya bisa pasrah sekarang. Biarlah jika memang ini adalah akhir dari hidupnya.


Tuan Tama tak tau apa yang selanjutnya terjadi padanya. Yang dia ingat tiba-tiba dia sudah ada di depan gerbang mansion nya saat terbangun karena di guyur hujan.


"Siapa sebenarnya mereka? Bagaimana mereka bisa tau tempat ini?" Gumamnya sambil menerawang.

__ADS_1


Di suatu tempat seseorang tengah tersenyum memperhatikan nya.


__ADS_2