MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
19. MERAWAT HERA


__ADS_3

Bulan malam telah menyelesaikan tugas nya untuk menerangi bumi, kini tibalah waktunya mentari yang bertahta menjadi sumber cahaya luar biasa yang mampu menerangi seluruh dunia yang di lewati sinarnya. Ini sudah siang, namun Hera belum juga membuka matanya. Deon selalu setia berada di sisinya. Bahkan anak kecil itu tak menyentuh makanan nya sama sekali. Dia tak berselera untuk makan.


"Tuan muda, beristirahat lah! Biar saya yang menggantikan Tuan muda menjaga Hera." Ujar Bu Laksmi menawarkan diri. Dia juga jadi khawatir melihat Deon. Anak itu tak makan dan tak tidur sejak semalam. Deon senantiasa mendampingi Hera. Dia bahkan tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Hera.


"Hera, bangun lah! Apa kau tak merindukan ku?" Sangat terlihat jelas raut kesedihan dari wajah mungilnya.


"Tuan muda."


"Tidak perlu. Aku akan tetap di sini sampai dia bangun." Ucap Deon memutuskan.


Bu Laksmi tak mungkin memaksa. Dia hanya bisa berharap agar Hera segera membuka matanya. Kasihan Deon. Dia bisa jatuh sakit jika terus seperti itu. Bahkan kondisi Deon belumlah pulih seutuhnya, dia juga masih membutuhkan istirahat yang cukup.


Deon tersentak merasakan pergerakan pada tangan mungilnya yang masih setia menggenggam tangan Hera. Ya, Hera mulai menggerakkan jemarinya. Pertanda bahwa gadis itu sudah mulai tersadar dari tidur panjangnya.


"Hera, kau sudah bangun?" Tanya Deon antusias. Bu Laksmi pun turut merasa senang melihatnya. Dia memutuskan untuk menghubungi dokter Jeremy.


Hera kesulitan membuka matanya, karena pipinya bengkak. Tapi dia tetap berusaha. Dia tidak ingin mengecewakan Tuan mudanya.


"Kenapa kau tidur lama sekali?" Tanya Deon berlinangan air mata. Dia lega karena akhirnya Hera mau membuka matanya setelah seharian penantiannya.


"Maaf. Jangan menangis, aku tidak apa-apa." Jawab Hera sambil menghapus air mata yang jatuh di pipi mulus Tuan kecilnya yang sedikit cabi.

__ADS_1


"Kau menakutiku." Deon tak dapat lagi membendung air matanya. Biarlah jika dia harus dikatai cengeng sekarang. Dia benar-benar takut Hera akan pergi meninggalkan nya .


"Jangan menangis, ku mohon! Nanti aku bisa di hukum lagi karena membuat Tuan muda menangis."


"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh mu, apalagi sampai melukai mu." Ucap Deon bersungguh-sungguh.


Sebenarnya Hera hanya bercanda saja mengucapkan kata-kata itu, agar Deon berhenti menangis. Memang benar Deon jadi berhenti menangis, tapi sepertinya dia jadi marah sekarang. Deon terlalu serius menanggapi gurauan Hera barusan.


"Apa aku mengganggu?" Tanya dokter Jeremy, dia baru saja sampai.


"Masuklah!" Perintah Deon tanpa mau melepaskan genggaman tangan Hera sama sekali.


" Bagaimana perasaan Anda sekarang nona? Apa yang Anda rasakan?" Tanya dokter Jeremy mulai menerima keadaan Hera.


"Itu karena muka Anda bengkak nona. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."


"Uncle dengar kau tidak makan dan tidur sejak semalam boy, apa itu benar?" Tanya dokter Jeremy pada Deon.


"Aku harus memastikan keadaannya." Jawab Deon.


"Tapi kau juga butuh istirahat boy. Kau juga belum pulih seutuhnya."

__ADS_1


"Aku sudah sehat." Ucap Deon memotong kata-kata dokter Jeremy. Dia tidak ingin dokter itu memberitahu Hera bahwa dia juga masih dalam tahap pemulihan.


"Pastikan obatnya diminum, dan jangan lupa mengompres wajahnya!" Pesan dokter Jeremy pada Bu Laksmi, dia menyudahi pemeriksaan nya terhadap Hera. Akhirnya dia melihat sendiri bagaimana sayang dan perhatian nya Deon pada wanita yang tengah terbaring tak berdaya tersebut.


Bu Laksmi sudah menyiapkan bubur dan obat untuk Hera. Dia hendak menyuapi gadis belia itu, namun Deon menahannya.


"Biar aku saja."


Bu Laksmi pun meletakkan nampan berisi bubur hangat dan obat untuk Hera di atas meja. Dan membiarkan Deon menyuapi pelayan kesayangannya. Sebelum keluar, dia membantu Hera untuk duduk terlebih dahulu agar memudahkan Deon menyuapi nya.


"Buka mulutmu!" Perintah Deon.


Hera berusaha membuka mulut nya, meskipun masih sedikit sakit, tapi dia tetap melakukan nya. Hera tersenyum bahagia menerima perhatian dari tuan kecilnya. Deon menyuapi nya dengan sangat hati-hati, takut melukai bibir Hera yang terluka karena ulah ayahnya. Deon jadi kesal memikirkan hal itu.


"Anda juga harus makan, Tuan muda."


"Aku tidak lapar." Sayangnya ucapan nya berbanding terbalik dengan kondisi perutnya. tepat setelah kalimat itu terucap dari bibir mungilnya, perutnya malah berbunyi, dan Hera jelas mendengar nya.


"Perut Anda seperti nya tidak setuju dengan Anda Tuan muda." Ujar Hera sambil tersenyum. Bagaimana Hera tak jatuh cinta pada anak kecil menggemaskan ini. Perhatian dan kasih sayang Deon benar-benar nyata untuk nya.


Akhirnya Deon dan Hera makan sepiring berdua. Mereka saling bersenda gurau mencoba melupakan kejadian menyakitkan yang baru saja menimpa mereka.

__ADS_1


Entah mereka sadar atau tidak, seseorang tengah memperhatikan mereka dari luar kamar, karena pintu kamar yang sedikit terbuka. Tak ada yang tau apa yang tengah di pikirkan nya saat ini.


__ADS_2