MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
39. JATUH TERSUNGKUR


__ADS_3

Hera sudah merasa lebih baik setelah beristirahat sehari penuh. Pagi ini dia mulai menjalankan aktifitas nya seperti biasa, tentu saja setelah mendapat izin dari Deon dan Tuan Tama.


Saat ingin mengganti pakaian nya setelah mandi, Hera terkejut melihat deretan pakaian yang berjejer di dalam lemari pakaiannya. Tidak ada lagi pakaian pelayan yang biasa dia pakai saat bekerja, semuanya sudah di ganti dengan berbagai pakaian kasual, jaket, sweeter, dan pakaian-pakaian lengan panjang lainnya. Sesuai dengan saran dokter Jeremy.


Hera memilih celana panjang dan kemeja yang juga berlengan panjang. Kemudian dia memoles wajahnya manisnya dengan pelembab dan sedikit bedak tabur, lalu pelembab bibir agar bibirnya tidak kering. Tidak lupa Hera mengikat rambutnya yang membuat penampilannya lebih fresh.


Hera melangkah menuju kamar Tuan mudanya. Ternyata disana Deon sudah selesai bersiap. Awalnya Hera merasa kecewa karena tidak dapat membantu Tuan mudanya bersiap. Tapi perhatian Deon mampu menghalau rasa tersebut.


"Kau yakin tidak ingin istirahat saja?" Tanya Deon. Dia masih mengkhawatirkan keadaan pengasuh kesayangannya itu.


"Saya sudah sehat Tuan muda. Lagipula tidak baik jika saya terus-terusan tidak bekerja. Bisa menimbulkan rasa iri antar sesama pelayan nantinya. Dan saya tidak mau itu terjadi." Jawab Hera menjelaskan.


"Siapa juga yang berani protes jika kau adalah nyonya rumah ini?" Gumam Deon dengan sangat pelan.


"Tuan muda ingin turun sekarang?"


"Hm."


Mereka pun berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.


"Tuan muda, bagaimana dengan pakaian saya yang biasanya? Saya tidak dapat menemukan nya." Hera baru ingat kalau dia tidak sedang mengenakan pakaian pelayan seperti yang biasanya.


"Kau lebih cantik memakai pakaian seperti ini."


"Tapi Tuan muda,..."


Deon menghentikan langkahnya, dia merasa bingung dengan gadis di sampingnya. Bahkan semua pelayan yang ada di dunia ini pasti akan lebih menyukai pakaian santai seperti yang di kenakan Hera saat ini. Tapi gadis ini seperti tidak rela melepaskan pakaian pelayannya. Sangat aneh.


"Mulai sekarang kau tidak akan memakai pakaian itu lagi." Tegas Deon.


"Kenapa begitu?"

__ADS_1


"Tidak bisakah kau menurutinya saja?"


Menyadari tatapan mata Deon yang tidak bersahabat, Hera pun memilih untuk diam dan menurut.


Pagi ini bukan lagi Tuan Tama yang menunggu kedatangan Deon, tapi sebaliknya. Kali ini Deon yang lebih dulu sampai di meja makan bersama Hera. Hera mengambilkan makanan untuk sarapan Tuan mudanya.


"Boleh saya suapi Tuan muda?" Tanya Hera. Karena sebelumnya Deon akan makan sendiri seperti perintah Tuan Tama.


"Baiklah. Tapi hanya sampai Daddy datang."


"Baik."


Hera merasa senang dapat menyuapi Tuan mudanya kembali. Jujur saja, itu membuatnya merasa menjadi seorang ibu bagi Deon. Meski tak ada yang mengakuinya, tapi Hera senang melakukannya.


Tak berselang lama, Tuan Tama pun muncul dari arah tangga. Meskipun dirumahnya ada lift, tapi Tuan Tama lebih suka menggunakan tangga. Sekaligus olahraga baginya.


Saat tinggal beberapa anak tangga sebelum sampai di lantai bawah, Tuan Tama melihat Deon yang tengah menikmati sarapan dengan disuapi Hera. Dia terpesona dengan kecantikan alami dari seorang gadis yang sebenarnya adalah istri sah nya sendiri.


Terlalu fokus menatap wajah cantik Hera, Tuan Tama sampai tidak memperhatikan jalannya.


Deon dan Hera hanya mampu menatap pemandangan aneh bin langka tersebut. Hera sangat ingin tertawa melihatnya, tapi dia tidak punya keberanian untuk itu. Berbeda dengan Deon yang geleng-geleng kepala melihat tingkah ayahnya.


"Perhatikan langkahmu!" Ucap Deon mengingatkan. Sebenarnya sudah sangat terlambat, karena Tuan Tama sudah terlanjur tersungkur.


"Sudah terlambat."


Tuan Tama bergegas bangun, dan melangkah menuju meja makan. Tapi sungguh sial nasibnya, lagi-lagi kakinya tersandung kaki meja. Untung saja dia tidak kembali terjatuh. Kalau sampai itu terjadi, sungguh malu bukan kepalang lagi. Mungkin Tuan Tama tidak akan sanggup untuk ikut sarapan bersama putra dan istrinya yang menyamar sebagai pengasuh anaknya.


"Berikan itu padaku! Kau sarapan lah!" Ujar Deon kepada Hera. Hera tidak membantah, dia mengikuti perintah sang Tuan muda. Sesungguhnya dia takut Deon akan marah lagi padanya. Dan akhirnya mereka bertiga pun menikmati sarapan bersama.


"Aku ingin minta sesuatu." Ucap Deon di sela-sela sarapannya.

__ADS_1


"Katakanlah!"


"Aku ingin menikahi Hera."


Uhuk.... Uhuk.... Uhuk.... Hera tersedak mendengar penuturan sang Tuan muda. Menikah? Bocah lima tahun itu ingin menikahi nya? Serius? Hera tidak tau harus berkata apa. Bahkan dia tidak tau apakah harus bahagia atau justru menangis darah. Perasaan nya menjadi tidak enak, apalagi melihat tatapan mata Tuan Tama.


"Kau tau apa itu menikah?" Tanya Tuan Tama. Dia masih berusaha untuk tenang meski sejujurnya diapun sangat terkejut mendengar keinginan putranya.


"Entahlah. Tapi aku ingin melindunginya dari siapapun yang ingin menyakitinya."


Bolehkah Hera merasa tersentuh sekarang?


"Kau bisa melindunginya tanpa harus menikahinya." Jelas Tuan Tama.


"Aku tidak punya hak apapun jika tidak menikah dengannya. Apa kau tidak mau mengabulkan keinginan ku?" Tanya Deon.


"Tidak."


"Kenapa?"


"Usia mu belum cukup untuk bisa menikah."


"Kami bisa bertunangan dulu, lalu setelah usiaku cukup untuk menikah, baru kami akan menikah. Bisa kan?"


"Tidak."


"Kenapa lagi memangnya?"


"Dia terlalu tua untuk mu."


"Tidak masalah, aku menerimanya."

__ADS_1


"Tetap tidak bisa. Sudahlah, habiskan sarapan mu!"


Tuan Tama pergi meninggalkan meja makan. Dia merasa tidak nyaman membahas tentang Deon yang ingin menikahi Hera. Hati kecilnya seolah memberontak. Dia pun tidak mengerti kenapa.


__ADS_2