
Hari-hari telah berlalu, semakin hari hubungan antara Tuan Tama, Deon dan juga Hera semakin membaik. Tuan Tama juga masih sering bekerja di rumah dari pada di kantor nya. Selain karena dia masih menghukum Defan untuk menghandle semua urusan perusahaan selama satu bulan penuh, dia juga punya alasan tersendiri mengapa sekarang dia jadi lebih betah di rumah.
Bahkan saat ada yang mencoba mengusik kelompoknya, Tuan Tama hanya memerintahkan beberapa anggota inti kepercayaan nya untuk menangani masalah tersebut. Dia seolah enggan untuk pergi jauh meninggalkan rumah mewahnya.
"Mau sampai kapan kau tidak bekerja seperti ini?" Tanya Deon pada ayahnya saat mereka tengah makan malam bersama. Dan tentu saja di sana juga ada Hera, dan masakan yang menjadi menu makan malam kali ini pun juga masakan Hera.
"Kenapa memangnya?"
"Aku tidak mau hidup melarat karena kau malas bekerja. Lagipula aku masih harus membiayai hidup Hera juga. Aku butuh banyak uang untuk itu." Ujar Deon dengan gamblangnya.
"Aku tidak akan jatuh miskin hanya karena tidak datang ke kantor." Jelas Tuan Tama singkat.
"Apa jangan-jangan sebenarnya kau itu sudah bangkrut? Karena itukah kau tidak pernah sibuk bepergian lagi untuk bekerja? Ini tidak boleh terjadi. Hera kau harus segera menceraikan suamimu! Aku tidak mau kau berubah pikiran setelah aku jadi gelandangan nantinya."
Tuan Tama sampai menghentikan makannya karena terkejut mendengar penuturan sang putra. Apa tadi katanya? Bangkrut? Seorang Adhitama Dharmendra, pengusaha sukses ternama dunia bangkrut? Dan tadi anak kecil itu meminta Hera segera bercerai dengan suaminya? Benar-benar tidak boleh dibiarkan.
__ADS_1
Seketika emosi Tuan Tama memuncak. Dia berpikir Deon telah melupakan rencananya tersebut setelah beberapa hari ini tidak pernah lagi membahasnya. Namun sepertinya Tuan Tama salah besar. Deon masih saja kekeh dengan rencananya. Entah bagaimana lagi menyadarkan bocah itu.
"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah menikahi nya." Tuan Tama menatap tajam putranya. Namun bukannya takut, Deon malah semakin bertingkah.
"Kau tidak berhak menentukan dengan siapa aku boleh dan tidak boleh menikah. Ini hidup ku, aku yang akan menjalaninya." Tegas Deon.
"Kalau aku bilang tidak ya tidak. Bagaimana pun aku ini ayah mu. Kau tidak bisa menikah dengan nya. Tidak boleh."
"Terserah pada ku."
"Tidak boleh."
"Tidak boleh."
"Tuan muda."
__ADS_1
Hera menggenggam tangan mungil Deon yang terus mengepal saat bicara dengan ayahnya. Hera menggeleng tanda dia tidak suka dengan perdebatan antara ayah dan anak itu.
Sejak tadi Hera hanya menjadi pendengar yang baik. Dia berharap akan ada yang mau mengalah di antara mereka. Tapi sepertinya Hera lupa bagaimana keras kepalanya Tuan Tama yang mana semua keinginannya harus terpenuhi. Dan parahnya lagi, Deon adalah anak kandung Tuan Tama. Dan sikap keras kepala sang ayah, menurun sempurna pada sang putra.
Dengan berat hati, Deon pun mengalah dan tak lagi membalas ucapan ayahnya. Dia kembali melanjutkan makannya, sambil sesekali tersenyum manis kearah Hera, agar wanita cantik itu tidak marah padanya.
Tuan Tama merasa menang karena Hera membelanya. Dia bahkan tersenyum sinis menatap wajah kesal putranya.
Tentu saja Deon tidak terima di cemooh oleh Tuan Tama. Dan jadilah mereka saling mencemooh sambil berbisik. Berharap Hera tidak akan tau hal itu.
"Jika kalian sudah selesai, saya akan membereskan semuanya." Ujar Hera. Dia sangat kesal melihat tingkah kedua majikannya tersebut.
"Aku belum selesai." Ucap Deon dan ayahnya serentak. Mereka saling pandang sejenak, kemudian saling mengirimkan sinyal permusuhan kembali.
Entah bagaimana membuat ayah dan anak itu bisa berhenti bertengkar. Yang diinginkan Hera, hubungan kedua majikannya bisa segera membaik. Tapi yang didapat nya malah sebaliknya.
__ADS_1