
"Tuan muda."
"Kenapa? Kau juga tidak mau menikah dengan ku? Kau tidak menyayangi ku?" Sepertinya bocah tampan itu sangat sensitif karena keinginan nya di tolak mentah-mentah oleh sang ayah.
"Tentu saya sangat menyayangi Anda Tuan muda."
Hera mencoba berbicara selembut mungkin pada majikan kecilnya itu. Dia menggenggam tangan mungil Deon dengan penuh kasih sayang. Memberi pengertian akan arti dari sebuah pernikahan. Saat ini mereka tengah berada di kamar Deon, sudah waktunya untuk bocah tampan itu tidur siang.
Hera sengaja bicara saat Deon akan tidur siang, jadi dia punya banyak waktu untuk menjelaskan pada Deon tentang pernikahan.
"Tuan muda, saya sangat bahagia Anda bersedia untuk melindungi saya. Tapi menikah tidak semudah dan sesederhana itu. Lagipula, jika hanya ingin melindungi saya, anda tidak perlu sampai menikahi saya. Dan Anda tentu saja berhak atas diri saya, karena Anda adalah majikan saya." Terang Hera memberikan pengertian kepada Deon.
"Apa kau hanya menganggap ku sebagai majikanmu saja?"
"Kalau boleh jujur, sebenarnya saya menyayangi Anda lebih dari itu. Anda sudah seperti anak sendiri bagi saya. Maafkan kelancangan saya karena menganggap Anda seperti itu Tuan muda." Sambil menunduk, Hera meminta maaf karena sudah lancang menganggap Deon sebagai anak nya.
Tanpa Hera sadari, mata Deon tengah berkaca-kaca. Dia memeluk Hera dengan erat. Menumpahkan segala sesak yang tersimpan rapi di dalam sanubari nya selama ini.
Hera membiarkan Deon menangis di pelukannya. Tanpa terasa air matanya pun ikut mengalir membasahi pipi mulusnya.
"Kau tau Hera? Seumur hidupku aku tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu. Dan Daddy, kau tau sendiri seperti apa dia. Aku merasa hidup sebatang kara. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang yang cukup dari orang tuaku. Aku kesepian Hera. Aku sendirian." Sambil berurai air mata Deon menumpahkan segala kesedihannya.
"Sssttt... Itu tidak benar. Anda tidak pernah sendirian Tuan muda. Ada banyak orang di sini yang menyayangi Anda. Dan Tuan Tama juga sangat menyayangi Anda. Hanya saja dia tidak tau bagaimana cara menunjukkan nya dengan benar. Jangan pernah berpikir bahwa Anda sendirian."
"Tapi tidak ada yang menyayangi ku seperti dirimu."
__ADS_1
"Ada Tuan muda. Kasih sayang Daddy Anda jauh lebih besar dari pada saya. Tidak apa jika Tuan Tama tidak bisa selalu ada di saat Anda membutuhkan nya. Sekarang saya ada disini bersama Anda. Saya tidak akan pernah meninggalkan Anda sebelum Anda sendiri yang menginginkan saya untuk pergi."
"Janji?"
"Iya, saya janji."
"Jadi kita benar-benar tidak bisa menikah?"
Hera tak bisa menahan tawanya mendengar pertanyaan Deon. Masih saja bocah itu berpikir untuk menikahi nya. Bukankah dia sangat menggemaskan?
"Jangan menangis lagi, oke?"
"Hm." Deon mengangguk tanda mengerti.
"Sekarang waktunya tidur siang."
"Tentu. Kemarilah Tuan muda ku yang tampan."
Deon segera melesak masuk ke dalam pelukan Hera. Dia tersenyum menikmati pelukan penuh kasih sayang Hera.
"Hangat. Jadi seperti ini rasanya." Gumam Deon sambil memejamkan matanya.
"Aku berharap agar kamu selalu bahagia. Jangan seperti diriku."
Hera berdoa dalam hati untuk kebahagiaan Tuan mudanya. Dia sangat mengerti bagaimana rasanya hidup kesepian. Karena dia pun telah lama menjalani hidup yang seperti itu. Sangat menyakitkan. Dan Hera tidak ingin Deon mengalami hal yang sama dengan nya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama untuk Deon tertidur lelap dalam dekapan ibu sambung nya. Hera tersenyum melihat Deon yang terlihat nyaman berada dalam pelukannya, dia sangat menyayangi Tuan mudanya tersebut.
Setelah memastikan Deon tertidur pulas, Hera pun segera keluar dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat juga.
"Terima kasih."
Hera tertegun mendengar suara yang tak asing baginya. Suara orang yang sangat ditakutinya hingga saat ini. Hera menunduk tak berani menatap lawan bicaranya.
Tuan Tama berjalan menghampiri Hera, kemudian berdiri di hadapannya.
"Terima kasih karena kau sudah mau menyayangi putraku." Ucap Tuan Tama.
Dia sempat mengira bahwa Hera lah yang telah mempengaruhi Deon untuk menikahi nya. Tapi setelah mendengar dan melihat secara langsung bagaimana Hera menyayangi putranya, Tuan Tama pun menyadari bahwa pikirannya tersebut salah.
"Maaf karena saya sudah lancang menganggap Tuan muda Deon sebagai anak saya sendiri, Tuan." Ucap Hera sambil terus menunduk. Dia takut Tuan Tama akan marah dan menghukumnya lagi.
"Tidak. Harusnya aku yang minta maaf karena sudah salah paham padamu."
Bukannya senang, Hera malah bergidik ngeri mendengar penuturan Tuan Tama. Dia minta maaf kepada Hera yang hanya seorang pelayan? Benarkah? Apa Laki-laki itu sungguh Tuan Tama?
"Itu... tidak perlu Tuan. Memang sudah seharusnya saya menyayangi Tuan muda Deon." Ucap Hera terbata-bata. Sangat aneh rasanya mendengar Tuan Tama mengucapkan kata-kata sakti itu. Maaf? Bisakah Hera mendaftarkan hal ini ke rekor muri? Ini adalah kejadian yang sangat langka.
"Kalau begitu beristirahat lah!"
"Baik. Saya permisi Tuan."
__ADS_1
Hera bergegas pergi dari sana. Meninggalkan Tuan Tama dengan perasaan bersalah nya. Entah pada apa dan siapa sebenarnya rasa sesal itu ditujukan nya.