MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
50.SERPIHAN MASA LALU


__ADS_3

"Adit, aku punya sesuatu untuk mu, makanlah!"


"Bagaimana kalau nanti paman tau? Kau bisa dimarahi paman nanti."


"Tidak apa-apa. Ayahku sedang tidak di rumah. Cepatlah makan sebelum ayah ku kembali!"


"Terima kasih."


Segelintir kenangan masa lalu yang tiba-tiba terlintas di benak Tuan Tama. Kenangan indah masa kecilnya di tengah kerasnya hidup yang ia jalani kala itu.


"Zacky." Nama itu terucap lirih. Tuan Tama tidak percaya masih bisa bertemu dengan seseorang yang selalu membantunya di masa lalu.


"Kau masih ingat namaku? Luar biasa. Aku merasa terharu."


Zacky atau yang tadi siang mengaku bernama Zack adalah sepupu Tuan Tama, anak dari pamannya yang dulu memaksanya menjadi pengemis.


"Kau masih hidup?" Terdengar sendu, seperti ada kerinduan yang tertahan selama ini dihatinya.


"Kau berharap aku mati bersama ayahku? Sayang sekali. Tapi ledakan yang kau buat tidak berhasil membinasakan ku."


"Kau menuduhku membunuhnya?"


"Aku tidak menuduh, tapi mengungkap kebenaran. Kau pembunuh Adhitama Dharmendra. Kau membunuh ayahku." Teriakan histeris Zacky terdengar memilukan. Ada kesedihan yang mendalam disebalik dendam yang membara tersebut.


"Tapi bukan aku yang membunuh paman."


"Aku tau kau tidak akan mau mengaku, mengingat betapa bencinya kau kepada ayahku. Tapi kau tentu tau bukan bagaimana cara kerja hukum alam? Nyawa harus dibayar nyawa. Jadi kau bisa pilih, akan mengorbankan nyawa wanita yang menjadi istrimu atau putramu yang lahir karena sebuah kesalahan?"

__ADS_1


Tangan Tuan Tama mengepal kuat. Dia tidak suka mendengar perkataan buruk tentang orang-orang terdekatnya. Apalagi jika itu adalah Deon. Meskipun Deon lahir karena sebuah kesalahan, namun dia tetap anak kandungnya. Dan dia akan melakukan apapun untuk memastikan keselamatan dan kebahagiaan putranya itu.


"Kau tidak bisa memilih? Bagaimana kalau ku bantu?" Ucap Zack menawarkan pilihan.


Laki-laki itu berjalan ke arah Hera, kemudian dia menarik rambut panjang Hera dengan sangat kuat sehingga membuat Hera menjerit menahan sakit.


"Bagaimana kalau kita mulai dari gadis ini? Kau punya keinginan terakhir? Apa? Kau bilang apa? Aku tidak mengerti yang kau katakan. Oh... mulutmu masih tertutup ternyata. Maaf, aku lupa... Sreeekkkk.... Bagaimana sekarang?"


"Au..." Hera menjerit merasakan sakit pada mulutnya yang sedari tadi ditutupi lakban. Zack menarik nya tanpa belas kasihan sama sekali.


Tuan Tama tidak menyangka bahwa orang yang dulu sangat baik padanya, kini berubah menjadi seseorang yang sangat kejam.


"Lepaskan dia! Dia tidak ada hubungannya dengan kematian ayahmu." Meskipun belum ada hubungan yang intens selayaknya suami istri, namun Hera tetaplah istri sahnya. Dan Tuan Tama tidak suka bila ada yang mengganggu orang-orangnya.


"Tapi dia ada hubungannya dengan mu." Sambil tersenyum sinis, Zack kembali menarik rambut Hera dan memaksanya untuk berdiri.


"Kau boleh membunuhku. Tapi jangan pernah menyentuh mereka. Aku rela menjadi tumbal dendam mu. Bukankah kau bilang nyawa di bayar nyawa. Jadi aku akan menyerahkan nyawaku untuk mengganti nyawa ayahmu." Ucap Hera dengan pasti. Dia tidak takut sama sekali meskipun harus mati saat itu juga. Bukankah kematian jauh lebih baik dari kehidupan yang selama ini di jalaninya?


"Wuaaahhh... Luar biasa. Kau dengar itu Adit? Istrimu sepertinya sangat mencintaimu. Apa kau tau itu? Aku sangat tersentuh dengan pengorbanan nya." Zack berucap dengan tampang pura-pura sedih.


"Jangan sentuh dia Zacky!"


"Kenapa? Dia sendiri yang menawarkan diri untuk menjadi tumbal."


"Aku bilang lepaskan dia brengsek." Tuan Tama sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Yang ada di hadapannya saat ini bukanlah malaikat penyelamat nya yang dulu. Jadi tidak ada alasan untuk nya harus berbaik hati. Lagipula bukan dia yang membunuh pamannya, ayah Zacky.


Tuan Tama hendak berlari untuk menghajar habis-habisan laki-laki yang telah berani menyentuh istrinya. Bahkan dia sendiri belum pernah melakukannya.

__ADS_1


"Jangan bergerak!" Suara seorang perempuan yang terdengar familiar di telinganya. Tuan Tama berbalik untuk meyakinkan bahwa pendengaran nya tidak salah.


Benar. Dia adalah orang yang sama dengan yang di pikirkan nya.


"Apa ini?"


"Apa kabar Tuan?"


"Kau yang merencanakan semua ini?"


"Kau terkejut?"


Tuan Tama tidak dapat menjawab. Dia tidak percaya, lagi-lagi dia harus menerima pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya.


"Kau tau Adit, dengan alasan yang sama dia melakukan pengkhianatan terhadap mu. Kau pembunuh Adhitama. Pembunuh." Ujar Zack menjawab rasa penasaran Tuan Tama.


"Kau ingin mati lebih dulu, atau ingin melihat istrimu yang mati lebih dulu di depan matamu?" Pertanyaan yang di ajukan Bu Laksmi kepada Tuan Tama.


Ya, Bu Laksmi selama ini menaruh dendam terhadap Tuannya sendiri, karena telah membunuh anaknya.


Siapa anaknya?


Tuan Tama bahkan tidak tau siapa yang di maksud oleh kepala pelayan nya itu.


"Jika kau ingin tau siapa anak ku, matilah! Dan temui dia di akhirat sana!" Ujar Bu Laksmi penuh kebencian.


Dan sedetik kemudian..... DORRRR

__ADS_1


__ADS_2