
Pistol yang awalnya berada dalam genggaman Bu Laksmi tiba-tiba terlepas. Dia sangat terkejut sekaligus ketakutan jika saja timah panas tersebut mengenai tangannya yang telah keriput.
"Kenapa kalian begitu terburu-buru? Apa kalian tidak ingin mengajak ku juga?" Deon berjalan dengan santainya menuju orang-orang yang tengah menatapnya penuh heran.
Tuan Tama tidak terkejut sama sekali dengan kemampuan putranya. Namun yang membuatnya bingung, kenapa putranya itu bisa berada di sana?
"Kau?"
"Halo, N E N E K." Deon menyapa Bu Laksmi sambil tersenyum manis. Namun senyuman itu justru terlihat menakutkan bagi wanita tua tersebut.
"Bagus sekali. Semuanya sudah berkumpul di sini. Jadi aku bisa melenyapkan kalian semua sekaligus. Hahahaha." Terdengar suara tawa Zack begitu menggema di dalam gubuk tua yang kini menjadi tempat mereka berkumpul.
"Kau terlihat sangat percaya diri, Paman. Apa kau yakin bisa menghabisi salah satu dari kami di sini?" Tanya Deon menghentikan tawa bahagia Zack.
"Tuan muda, ini bukan saatnya lagi untuk mu berlaku sombong. Kematian kalian sudah di depan mata. Jadi bersiaplah!"
Dor... Sebuah tembakan diberikan Zack sebagai peringatan. Namun hal itu justru membuat Deon tersenyum. Alih-alih merasa takut, bocah lima tahun itu justru merasa kasihan pada Zack. Dia benar-benar telah salah memilih lawan.
"Kenapa paman? Apa ada yang salah?" Tanya Deon ketika melihat ekspresi wajah Zack yang mulai pucat. Anak buah yang di tunggu-tunggu nya, tak ada satupun yang muncul.
__ADS_1
Zack sengaja melepaskan tembakan peringatan sebagai kode untuk anggota nya, dan Deon sudah tau itu.
"Apa yang terjadi Zack? Mana orang-orang mu?" Tanya Bu Laksmi panik. Tentu saja dia takut kalau semua rencananya gagal. Sudah bisa dipastikan bahwa dia tidak akan bisa selamat setelah ini.
"Diamlah." Zack menduga pasti telah terjadi sesuatu terhadap anak buahnya.
"Apa yang kau lakukan pada anak buahku?" Tanya Zack menahan geram.
Jujur saja jika harus berhadapan langsung dengan keluarga Dharmendra secara pribadi seperti ini, dia tidak mampu. Kemampuan beladiri yang dimilikinya sangat minim. Bahkan dia tidak akan bisa mengalahkan Deon, bocah yang masih berusia lima tahun itu.
"Sepertinya kau sangat mengkhawatirkan anak buahmu paman. Tenanglah! Aku hanya membantu mereka untuk beristirahat sejenak." Jawab Deon dengan tenang. Suara lembut khas anak kecil dan senyuman manis yang terlukis di wajah mungilnya itu terlihat sangat mematikan bagi Zack.
"Sial." Umpat nya. Tentu saja dia kesal karena rencana yang awalnya berjalan lancar menjadi berantakan hanya karena dia yang terlalu menganggap remeh bocah di hadapannya.
"Diam. Dasar orang tua tidak berguna." Hardik Zack. Pikirannya buntu. Di tambah lagi dengan rengekan Bu Laksmi yang semakin menyudutkan nya.
"Tenanglah nenek. Tidak ada yang akan membunuhmu di sini." Ujar Deon sembari berjalan menuju wanita tua yang selama ini bekerja sebagai kepala pelayan di rumah nya.
"Tuan muda, maafkan saya. Ini semua rencananya. Saya di paksa untuk berkhianat, jika tidak saya akan di bunuh. Ampuni saya Tuan muda." Bu Laksmi bersujud memohon ampunan Tuan muda yang selama ini di layaninya.
__ADS_1
"Aku tau, tenanglah!" Ujar Deon sambil tersenyum dan membelai pipi keriput wanita yang di panggil nya nenek tersebut.
"Bawa dia!" Perintah Deon pada orang-orang yang baru saja masuk. Tuan Tama mengenal sebagian dari mereka. Mereka adalah para pengawal yang bekerja di mansion nya.
"Jangan bergerak! Atau aku akan membunuhnya." Ancam Zack mengacungkan senjatanya ke kepala Hera.
"Jauhkan senjata mu dari nya paman!" Perintah Deon. Tangannya mengepal menahan emosi yang kian bergejolak.
"Hahahaha... kau begitu peduli pada pelayan mu ini. Apa kau tau bahwa dia adalah istri baru ayahmu? Aku rasa tidak. Ah ya... Bagaimana kalau aku memberi mu pilihan? Siapa yang akan kau pilih, Pelayan mu ini atau ayahmu itu?"
"Baiklah. Kalau begitu kalian bawa dia dulu. Biar yang satu ini menjadi urusan ku." Perintah Deon pada anggota nya.
"Tidak, jangan. Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku! Tuan muda, tolong saya. Lepaskan aku! Deooonnn.... Dasar anak tidak berguna. Harusnya kau mati saja. Sialan. Lepaskan aku!"
Bu Laksmi terkejut karena orang-orang berbadan besar itu tiba-tiba menyeretnya pergi. Dia berteriak memaki dan menyumpahi Deon.
"Berhenti!" Deon melangkah menuju wanita tua yang baru saja meneriakinya.
Baru saja Deon ingin berucap, tiba-tiba Tuan Tama datang menghampiri dan menampar pipi keriput Bu Laksmi. Deon terperangah dengan reaksi ayahnya.
__ADS_1
"Jangan pernah menghina putraku! Yang pantas mati adalah kau dan putrimu yang murahan itu." Amarah Tuan Tama memuncak. Dia paling tidak suka jika ada yang menghina dan menyakiti putranya.
"Jadi kau sudah tau?"