
Disebuah gubuk tua yang terbengkalai, seorang gadis cantik tengah terkapar tak sadarkan diri. Mulut dilakban, mata ditutup, tangan dan kaki di ikat. Sangat malang dan menyedihkan.
"Kenapa kau malah membawanya?"
"Tenanglah! Dia akan menjadi umpan yang bagus untuk target utama kita."
"Kau yakin dia akan berguna?"
"Tentu saja. Tunggu saja bagaimana mereka akan datang menyerahkan nyawanya demi perempuan itu."
Hera tersadar dari pingsannya saat mendengar tawa menggelegar di sekitarnya. Tapi sayang dia tidak bisa melihat, dan berteriak meminta tolong.
"Ya Tuhan, dimana aku? Siapa orang-orang itu? Tolong kirimkan bantuan mu untuk menyelamatkan ku dari sini Tuhan." Hera berdoa dalam hatinya.
Sementara di tempat lain, orang-orang suruhan Tuan Tama tengah berusaha mencari keberadaan Hera. Mereka melakukan berbagai cara untuk mendapatkan sedikit petunjuk tentang keberadaan pengasuh Deon tersebut.
Deon tidak di izinkan oleh ayahnya untuk ikut mencari Hera. Dia di minta menunggu d kamarnya dengan penjagaan yang sangat ketat dari Tuan Tama.
"Halo Uncle." Sapa Deon pada lawan bicaranya di dalam sambungan telepon yang dilakukan nya.
"Ya Tuan muda."
"Bagaimana? Apa kalian sudah menemukan nya?"
__ADS_1
"Sudah Tuan. Saat ini saya dan beberapa anggota kita tengah menuju ke sana."
"Pastikan bahwa dia baik-baik saja. Biarkan mereka bersenang-senang seakan rencana mereka berhasil."
"Baik Tuan muda."
"Apa Elang Merah juga sudah mendapatkan lokasi mereka?"
"Sepertinya mereka sudah hampir menemukan nya Tuan muda."
"Baguslah. Aku tidak sabar melihat bagaimana reaksinya nanti."
***
"Selamat datang Tuan Adhitama Dharmendra yang terhormat."
"Siapa kau?"
"Kau tidak mengenaliku?"
Mata elang Tuan Tama menyipit memperhatikan sosok manusia yang tengah berjalan di kegelapan. Dan betapa terkejutnya dia menyadari siapa sosok lawan bicaranya tersebut.
Zack, laki-laki yang tadi siang mendekati Hera dan berniat untuk merebutnya dari sisi Tuan Tama. Namun kini dia juga yang menculik Hera. Apakah penculikan ini sengaja dilakukan Zack agar Tuan Tama mau melepaskan Hera? Entahlah. Tuan Tama sungguh bingung saat ini.
__ADS_1
Tapi di sisi lain, dia juga bahagia karena dengan begitu dia punya alasan untuk tetap menahan Hera di sisinya. Luar biasa. Disaat genting seperti ini Tuan Tama masih berpikir seperti itu.
"Lepaskan gadis itu!"
"Tentu. Tapi nanti, setelah kau dan seluruh orang-orang mu binasa."
Tak ada lagi tatapan ramah penuh sopan santun seperti tadi siang, sekarang semuanya berbalik 180°. Tuan Tama tidak percaya bahwa yang Zack yang ada di hadapannya saat ini adalah Zack yang sama dengan yang ditemuinya tadi siang. Atau jangan-jangan dia memiliki kepribadian ganda.
"Kau terkejut melihat ku seperti ini?" Terdengar tawa ejekan dari Zack. Dia terlihat seperti orang yang tidak waras sekarang.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Tuan Tama dengan tenang. Dia tidak terprovokasi sama sekali. Hal seperti ini sudah tidak asing lagi baginya.
"Kau bertanya seolah akan mengabulkannya saja. Kau pikir aku akan tertipu dengan semua akal busuk mu itu? Aku tidak bodoh seperti orang-orang yang telah kau habisi sebelumnya."
"Apa alasanmu melakukan semua ini? Aku bahkan tidak ada urusan apapun dengan mu. Bahkan untuk sekedar mengenal pun juga tidak."
"Kau yakin tidak mengenaliku? Apa wajah ku tidak mengingatkan mu pada seseorang?"
"Tidak."
"Kau terlalu cepat menjawab tidak Adit. Aku jadi kecewa karena kau melupakan ku begitu saja." Zack memasang wajah sedih dan terluka nya. Benar-benar sangat menjiwai.
Tuan Tama terhenyak kaget mendengar Zack memanggilnya dengan sebutan yang tak biasa. Hanya ada satu orang yang memanggilnya seperti itu.
__ADS_1
Dan dia adalah...