
Sudah seminggu berlalu semenjak kejadian buruk yang di alami keluarga kecilnya Tuan Tama. Hera juga sudah kembali ke rumah. Kondisinya sudah jauh lebih baik, meskipun masih harus mendapatkan perawatan secara berkala. Dan tentu saja hal itu tidak lepas dari campur tangan Tuan Tama dan juga putranya, Deon.
Semenjak kejadian itu, Tuan Tama memperketat keamanan di rumahnya. Beberapa orang kepercayaan nya di Elang Merah ditugaskan untuk menjadi mata-mata dan bagian dari petugas keamanan istananya. Cukup sudah kelalaiannya yang hampir saja mencelakai putranya, dan hampir membunuh istrinya pada saat bersamaan.
Tok tok tok tok...
"Boleh aku masuk?" Tanya Tuan Tama setelah mengetuk pintu kamar Hera.
"Tentu, silahkan masuk Tuan."
"Diam di sana! Kau tidak perlu turun." Ucap Tuan Tama menghentikan Hera yang ingin turun dari tempat tidur nya.
Tuan Tama berjalan masuk dan duduk di samping tempat tidur Hera.
"Bagaimana keadaan mu?"
"Sudah jauh lebih baik Tuan."
"Maafkan aku." Ujar Tuan Tama sambil menunduk.
Hera tertegun mendengar penuturan Tuan Tama. Pasalnya kata-kata keramat itu hampir tak pernah terucap dari majikan nya tersebut.
"Kau tidak mau memaafkan ku?" Tanya Tuan Tama kemudian.
"Kenapa Tuan minta maaf kepada ku?" Tanya Hera bingung.
"Kau pasti sangat tersiksa hidup di sini. Setelah menikah dengan ku, hidup mu justru jauh lebih sulit dan menyakitkan. Kau pasti menyesal menikah dengan ku bukan?"
Hera hanya diam mendengarkan. Sejujurnya dia tidak tau harus menjawab apa.
"Tidak juga." Hera terdiam sejenak, memikirkan lanjutan dari kata-kata yang akan terucap dari bibirnya yang masih sering menggoda iman lelaki di sisinya saat ini.
Sedangkan Tuan Tama harap-harap cemas menanti kelanjutan kata yang akan di ucapkan Hera. Entah lah... seperti ada sesuatu yang diharapkan nya.
__ADS_1
"Kau tidak menyesal?"
"Awalnya aku sangat kecewa dan mengutuk pernikahan yang ku jalani. Aku sangat ingin marah. Tapi siapalah aku? Sepertinya aku memang terlahir untuk diperintah orang lain. Aku bahkan tak punya kuasa atas diriku sendiri. Aku hanya seorang pelayan. Jadi apapun yang diperintahkan majikan ku, meskipun harus mengorbankan nyawa sekalipun tetap harus kulakukan."
"Maaf."
"Tidak apa-apa Tuan. Aku ikhlas menjalani takdir ku. Lagipula, berkat Anda aku jadi bisa bertemu pangeran tampan yang luar biasa mencintai ku."
"Apa? Siapa?"
Hera tersentak mendengar teriakan Tuan Tama yang tiba-tiba. Bahkan laki-laki itu sampai berdiri saking kesalnya. Tapi apa yang membuatnya marah dan kesal?
"Maaf." Tuan Tama menyadari kesalahannya yang marah dan meneriaki Hera secara tiba-tiba.
"Siapa orang yang mencintaimu itu? Apa dia tidak tau kau punya suami?" Tanya nya kemudian.
"Bahkan aku sendiri pun tak tau kalau sebenarnya aku punya suami atau tidak." Gumam Hera lemah, namun masih bisa di dengar oleh Tuan Tama.
Tuan Tama langsung berlalu meninggalkan Hera yang kebingungan dengan sikap majikannya itu. Entah apa yang terjadi padanya. Tiba-tiba datang untuk meminta maaf, kemudian kesal dan marah juga secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Aneh.
***
Sementara di tempat lain, Deon tengah menghadiri pengadilan para tawanannya. Tentu saja di ruang sidang pribadi ala Tuan muda Deon.
Ada dua buah film yang di putar dalam ruangan sidang ala Deon tersebut. Film pertama adalah tentang kematian orang tua Zack. Kematian ayahnya yang menjadi pemicu kebencian dan dendam terhadap keluarga Tuan Tama.
"Tidak mungkin." Ucap Zack lemah. Dia sudah tak berdaya. Tenaga nya habis terkuras, di tambah lagi dengan penyiksaan yang di terimanya selama menjadi tawanan Deon.
"Kau terkejut? Kau bahkan tidak mengenali siapa ayahmu sendiri, tapi malah sangat bersemangat untuk membalaskan dendam kematian nya. Ckckck."
"Kau pasti sengaja membuat video itu untuk mempengaruhi ku kan? Aku tidak akan tertipu oleh permainan anak kecil seperti mu." Ujar Zack marah, dia tidak percaya bahwa apa yang di saksikan nya tersebut adalah kenyataan yang selama ini selalu di sembunyikan ayahnya.
"Untuk apa aku mempengaruhi mu? Aku bahkan tak peduli kau percaya atau tidak. Aku hanya ingin memberimu sedikit gambaran tentang siapa sebenarnya ayah tersayang mu itu. Dan silahkan di konfirmasikan langsung saat kau bertemu langsung dengan nya di neraka." Ujar Deon dengan santainya. Bukankah dia terlalu dewasa untuk mengucapkan kata-kata tersebut?
__ADS_1
"Diam kau bocah sia*an. Aku akan membunuhmu dan semua keluarga mu. Aku pasti akan menghabisi kalian semua." Amuk Zack tak terima dengan ucapan manis Deon.
Deon menggerakkan tangannya memberi perintah pada anggotanya untuk menyingkirkan Zack. Dan sekarang tibalah masanya pengadilan bagi wanita tua yang selama ini selalu hidup bersamanya.
"Selamat datang nenek. Mau nonton bersama ku?" Ucap Deon menyapa Bu Laksmi.
Bu Laksmi hanya diam, namun jelas terpancar dari sorot matanya bahwa dia sangat membenci anak kecil di dekatnya ini.
Sebuah video pun mulai diputar. Awalnya Bu Laksmi tidak tertarik sama sekali, karena hanya menampilkan Tuan Tama yang tengah mengadakan pertemuan dengan rekan bisnisnya.
Namun sebuah suara yang sangat familiar menarik fokusnya secara spontan. Ya, video yang sedang di tonton Deon adalah perjalanan hidup ayah dan ibu kandungnya. Semua terpampang jelas di sana. Bagaimana ayahnya bisa terjebak oleh seorang wanita yang akhirnya menjadi ibu kandung Deon. Hingga bagaimana wanita tersebut bisa meninggal dunia.
Mata Bu Laksmi terbelalak menyaksikan semuanya. Sungguh dia tidak menyangka akan di suguhkan pemandangan ini. Bagaimana mungkin Deon memiliki video tersebut? Bahkan saat itu tidak ada yang mampu mengungkapkan bukti kejadian yang sebenarnya seperti yang di miliki Deon saat ini.
"Jangan tegang begitu nenek. Santai dan nikmati lah filmnya! Bukankah ini film yang sangat bagus nenek? Aku tidak tau kalau sebenarnya orang tuaku pandai membuat film yang begitu bagus. Kenapa mereka harus merahasiakannya dari ku ya? Apa mungkin mereka tidak mau aku menjadi aktor terkenal seperti Daddy? Bagaimana menurutmu, NENEK?" Tanya Deon sembari tersenyum manis menatap wajah keriput Bu Laksmi yang tengah ketakutan.
"B-b-bagaimana? Bagaimana mungkin?" Sungguh dia tidak percaya dengan apa yang baru saja di saksikan nya. Semua tipuan yang dirancangnya bertahun-tahun berhasil di patahkan bocah lima tahun.
"Tentu saja semuanya mungkin nenek. Kenapa harus terkejut begitu?" Ucap Deon dengan santainya.
"Tidak. Ini pasti rekayasa. Ya, ini hanya rekayasa. Deon, dengarkan nenek nak! Semua ini tidak benar. Ayahmu sengaja membuat video ini untuk mengelabuhi mu. Dia ingin membuatmu membenci ibu mu. Ibu mu sangat menyayangimu nak. Percaya pada nenek. Nenek tidak bohong." Bu Laksmi berusaha sekuat tenaga meyakinkan Deon bahwa apa yang di lihat nya hanyalah tipuan Tuan Tama.
Sudut bibir mungil Deon tersungging senyuman yang menandakan bahwa dia telah muak mendengar ocehan penuh kebohongan dari wanita tua di hadapannya. Jujur saja ada ketakutan dalam hati Bu Laksmi melihat ekspresi Deon saat ini. Tapi dia harus bisa meyakinkan Deon bahwa Tuan Tama lah yang bersalah dalam hal ini.
"Berhentilah membuka mulut kotor mu itu. Kau bilang video ini dibuat oleh ayahku? Bahkan dia sendiri tidak tahu bahwa aku memiliki nya. Lalu bagaimana dia akan membuatnya? Jawab!"
Sudah tidak ada lagi raut wajah bocah tampan yang lucu dan menggemaskan, seperti yang biasa dilihat Bu Laksmi selama ini. Terlihat jelas raut kebencian di wajah mungilnya. Bahkan wajah nya lebih menakutkan dari pada Tuan Tama saat tengah marah.
Bu Laksmi sudah kehabisan kata-kata. Dia sudah tidak bisa mengelak lagi. Apalagi untuk kabur dari hukuman Deon, itu sangat mustahil. Biarlah, sepertinya pasrah adalah jalan satu-satunya yang di milikinya saat ini.
Bu Laksmi yang terpojok hanya bisa memejamkan matanya bersiap menanti malaikat maut menjemputnya. Mungkin memang sudah waktunya untuk berpulang. Meski tak rela, tapi dia harus menerima nya. Inilah balasan dari perbuatannya selama ini.
Deon sudah bersiap dengan pistolnya. Mengarahkan nya pada wanita tua yang seharusnya menyayanginya, namun malah berusaha membunuhnya. Sangat menyakitkan bukan? Dengan segala amarah yang bergejolak di hati dan pikirannya, Deon pun melepaskan tembakannya. Dan..... DOR
__ADS_1