MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
17. LEMAH TAK BERDAYA


__ADS_3

Pagi ini Langit menangis pilu. Seakan mengerti derita seorang gadis muda yang tak kunjung berkesudahan. Entah kenapa Yang Maha Kuasa masih terus mengirimkan duka dan air mata padanya? Padahal dia tak meminta banyak untuk hidupnya. Dia hanya ingin menjalani hari-hari nya dengan tenang. Tanpa ada yang mengusik dan mengganggu nya. Itu saja.


Sepasang mata mungil mulai terbuka, menatap segala keindahan yang tercurah untuk nya. Tapi sepertinya dia telah kehilangan sesuatu. Tak ada binar bahagia di matanya.


"Selamat pagi Tuan muda. Anda sudah merasa lebih baik?" Tanya seorang pelayan padanya


"Siapa kau?"


" Saya Dela Tuan muda. Saya yang akan membantu mengurus keperluan Anda mulai sekarang."


"Dimana Hera?"


" Dia sudah tidak bekerja di sini lagi Tuan muda."


Deon sangat tidak senang mendengarnya. Dia harus bertanya pada ayahnya. Deon langsung bangun, dan pergi mencari keberadaan ayahnya.


"Tuan muda, Anda mau kemana?" Tanya Dela. Tapi Deon tak memperdulikan nya. Dia terus melangkah menuju ruang kerja Tuan Tama. Dia harus membuat perhitungan dengan ayahnya karena telah memisahkan nya dari Hera.


"Dimana Hera?"


"Kembalilah ke kamar mu, kau masih harus beristirahat!" Titah Tuan Tama pada putranya.


"Aku tanya dimana Hera? Apa yang Daddy lakukan pada nya?"


"Dia yang sudah membuatmu terluka. Dia tidak pantas ada di sekitar mu." Ujar Tuan Tama.

__ADS_1


"Jadi dimana dia sekarang?"


"Aku sudah mengusirnya."


"Aku mau dia kembali."


" Tidak akan."


Tuan Tama heran. Apa yang sudah dilakukan Hera pada putranya ini. Sudah jelas-jelas dia terluka karena wanita itu, lalu untuk apa lagi Deon ingin kembali bersama wanita jahanam itu? Begitulah anggapan Tuan Tama.


"Kalau begitu akan ku temukan sendiri." Putus Deon. Dia merasa tidak tenang. Pasti ayahnya telah melakukan hal yang tidak baik pada wanita cantik nya. Dia hanya bisa berharap Hera akan mampu bertahan sampai dia bisa menemukan keberadaan nya.


Hari ini Deon tak ingin di layani siapapun. Bahkan dia mengusir Dela, pelayan baru yang ditugaskan mengurus segala keperluan nya. Dia hanya ingin Hera seorang.


Saat ini Deon sedang berada di kamarnya. Dia sengaja mencuci pintu agar tidak ada yang masuk dan mengganggunya. Jari-jari mungilnya tengah sibuk menari-nari di atas tablet. Entah apa yang tengah di kerjakan nya.


Saat jam makan malam, Tuan Tama mendatangi kamar putranya. Dia yakin Deon akan menolak untuk makan lagi. Pasti dia tengah merajuk karena di pisahkan dari pelayan kesayangan nya. Dan Tuan Tama mengerti itu. Tapi dia tidak mungkin membiarkan putranya bersama wanita itu lagi, setelah kejadian kemarin.


Tuan Tama meminta Bu Laksmi membuka kamar Deon dengan menggunakan kunci cadangan. Begitu sampai di dalam, Tuan Tama tak menemukan keberadaan putranya. Hampir saja dia memerintahkan semua orang untuk mencari Deon, jika saja anak kecil itu tak segera keluar dari kamar mandi.


"Apa yang kau lakukan di kamar ku?" Deon kembali bersikap dingin pada ayahnya. Tentu saja karena dia marah.


"Kau melewatkan makan siang mu."


"Aku tidak lapar."

__ADS_1


"Sekarang kau harus makan."


Deon menatap deretan makanan yang berjejer rapi di atas meja. Sebenarnya dia sangat malas makan bersama pria di depannya ini. Tapi dia juga membutuhkan tenaga yang cukup untuk bisa membawa Hera kembali. Akhirnya pasangan ayah dan anak itu makan dalam diam di kamar Deon.


Tepat pukul sepuluh malam, Tuan Tama keluar bersama Defan. Bukan untuk menghadiri pertemuan bisnis. Melainkan bertemu penjahat yang sudah melukai buah hatinya, Hera. Sebelum pergi, Tuan Tama memastikan bahwa Deon telah tertidur. Dia tidak mau, anaknya mengikuti nya bertemu Hera.


Sampai di lokasi, Hera tak sadarkan diri dengan tangan yang di ikat di atas kepala. Kakinya dibiarkan menggantung, agar dia semakin kesakitan. Begitu perintah Tuan Tama.


"Bangunkan dia!" Perintah Tuan Tama sambil duduk di sebuah sofa yang tersedia khusus untuk nya di sana.


Defan langsung menyiram tubuh Hera dengan seember air dingin untuk membuat wanita itu terbangun. Sukses, kini Hera tengah gelagapan karna terkejut, sembari menahan dingin. Hera sungguh tak berdaya lagi sekarang. Tubuhnya lemah, dia kelaparan, wajah cantiknya sudah babak belur di pukul Tuan Tama.


"Sepertinya tidur mu nyenyak di sini." Sindir Tuan Tama.


"Kau sudah menyerah?" Tuan Tama tersenyum sinis melihat Hera yang tak berdaya.


"Siapa yang menyuruh mu meracuni putra ku?"


Hera tak punya tenaga untuk menjawab. Dia hanya mampu menggeleng lemah. Dan itu berhasil membuat emosi Tuan Tama kembali meledak.


"Kau masih tidak mau bicara?" Plakkk... Tamparan Tuan Tama kembali mendarat di wajah Hera yang sudah membengkak. Bahkan kini Tuan Tama mencengkram dagunya dengan kuat. Rasanya sangat sakit, tapi dia tidak mampu untuk menghindar apalagi melawan.


"Cambuk dia!" Tuan Tama lelah bermain-main. Sudah cukup dia memberikan kesempatan pada wanita itu untuk mengakui kesalahannya. Tapi dia sangat keras kepala dan tetap memilih bungkam.


Defan berjalan mendekat ke arah Hera sambil membawa cambuk di tangannya. Hera menutup matanya pasrah. Biarlah jika dia harus berakhir sekarang di sini. Dia tidak menyesal sama sekali mengenal Deon. Kebahagiaan yang Deon hadirkan di hidupnya sangat berarti. Anggaplah ini ucapan terima kasih nya karena sudah di pertemukan dengan anak kecil yang telah berhasil mencuri hatinya itu.

__ADS_1


Belum sempat cambuk itu menyentuh tubuh lemah tak berdaya Hera, tiba-tiba....Dor...


__ADS_2