MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
37. PERHATIAN KECIL


__ADS_3

Mentari telah mulai menampakkan dirinya kembali, pertanda hari baru telah dimulai. Hera tersadar dari pingsannya. Dia menatap langit-langit.


"Apakah aku sudah mati?" Ucap Hera dalam hati.


"Kau sudah bangun?" Tuan Tama yang awalnya duduk di sofa, berjalan menghampiri Hera.


Suara itu... Ya, tidak salah lagi. Suara itu milik laki-laki yang telah melecehkan nya.


"Apa yang dilakukannya di sini? Apakah dia juga sudah mati?" Sepertinya Hera sangat meyakini bahwa dia telah tiada.


Hera berusaha bangun, namun seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Tuan Tama yang melihat Hera kesulitan untuk bangun pun datang membantunya. Hera terlalu fokus pada pria tampan di hadapannya, sampai dia lupa apa yang sudah dilakukan laki-laki itu padanya. Dia bahkan tidak menyadari bahwa Deon tengah tertidur di sampingnya.


Semalam ayah dan anak itu tidak tidur di kamar mereka masing-masing. Mereka sama-sama bersikeras akan tetap berada di kamar Hera sampai gadis cantik itu tersadar dari pingsannya. Tak ada dari mereka yang mau mengalah sedikit pun. Sama-sama keras kepala.


Awalnya Deon tidur sambil duduk di samping tempat tidur Hera. Namun karena merasa kasihan melihat putranya, Tuan Tama pun memindahkan nya ke atas tempat tidur bersama Hera. Biarlah dia mengalah kali ini.


"Apa yang Anda lakukan di sini?" Tanya Hera heran. Tidak mungkin Tuan Tama mengikutinya sampai ke akhirat kan?


"Maksud mu?" Tanya Tuan Tama tidak mengerti.


"Apa benar yang dikatakan Jeremy? Dia tidak ingin bertemu dengan ku?" Tuan Tama bermonolog dengan pikirannya.

__ADS_1


"Apa Anda sengaja datang ke akhirat untuk menghukum ku?" Karena hanya fokus menatap wajah tampan Tuan Tama, dia sampai tak sadar keadaan sekelilingnya. Jadi dia masih larut dalam pemikirannya sendiri.


"Akhirat? Kau pikir ini akhirat?" Tuan Tama terkejut dengan pemikiran gadis yang semalam di selamatkan nya ini. Dia sampai geleng-geleng kepala tak habis pikir.


"Memangnya bukan?" Hera menatap sekelilingnya. Ini adalah kamarnya, dan ada Deon juga yang tengah tidur di sampingnya. Itu artinya dia belum mati. Dia kembali ke istananya Tuan Tama lagi.


"Kau sudah sadar sekarang?" Tuan Tama tersenyum sinis menatap wajah Hera yang sedang kebingungan.


"Itu artinya aku kembali ke tempat ini lagi?" Tiba-tiba raut wajah Hera berubah sedih.


"Anda mau apa?" Tanya Hera curiga. Dia masih ingat pelecehan yang di lakukan Tuan Tama padanya.


Tuan Tama tak menjawab, dia duduk di samping Hera. Kemudian meraih mangkok berisi bubur yang tadi di antarkan pelayan. Laki-laki tampan yang menjabat sebagai ketua mafia terkuat di dunia tersebut tiba-tiba menjadi sangat perhatian.


Hera hanya menatap Tuan Tama. Dia merasa curiga dengan perhatian yang di tunjukkan oleh orang yang telah melecehkan nya itu.


"Ini hanya bubur biasa, tidak ada racun di dalamnya."


Sesungguhnya Hera merasa lebih takut pada Tuan Tama dari pada racun yang di campurkan pada makanannya.


"Saya sendiri saja."

__ADS_1


"Bagaimana kau akan melakukan nya? Tangan mu sedang di infus. Jangan membantah, buka mulutmu!"


Hera masih belum mau membuka mulutnya, entah apalagi yang dipikirkan wanita cantik itu sekarang.


"Tenanglah! Aku tidak akan melakukan apapun pada mu. Setelah kau selesai makan dan minum obat, aku akan segera pergi."


Meskipun tak percaya seutuhnya, Hera tetap menurut. Dia hanya berharap semoga keputusan nya kali ini tidak salah lagi.


Tuan Tama dengan telaten menyuapi Hera yang sedang sakit. Memang sudah seharusnya, karena gadis itu sakit juga karena dirinya.


"Kenapa kau keluar? Kau ingin pergi dari sini?" Tanya Tuan Tama di sela-sela kegiatannya menyuapi Hera.


"Itu...." Hera bingung bagaimana mengatakannya. Apa dia harus bilang takut di lecehkan lagi? Tapi Tuan Tama sudah membeli dirinya dengan sangat mahal dari ayahnya. Laki-laki itu bahkan berhak atas hidup dan matinya, yang seharusnya itu menjadi hak pribadi Hera.


"Karena aku?"


Hera menatap Tuan Tama yang juga sedang menatapnya. Hanya sekilas, kemudian dia kembali menunduk. Rasanya meskipun tampan, Tuan Tama tetap saja menakutkan bagi Hera.


Hera tak menjawab, namun Tuan Tama mengerti bahwa alasan Hera pergi memanglah dirinya. Dia tak bersuara lagi. Hanya menyuapi sampai buburnya habis, dan memastikan Hera minum obat. Kemudian dia berlalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Hera menatap kepergian Tuan Tama dengan perasaan yang campur aduk. Dia bingung harus bagaimana. Tuan Tama berhak atas dirinya. Selain karena Tuan Tama yang sudah membelinya, Tuan Tama juga adalah suaminya yang Sah dimata hukum dan agama. Sebagai seorang istri, tentu saja sudah menjadi tanggung jawabnya untuk melayani suaminya.

__ADS_1


Tapi yang dilakukan Tuan Tama padanya, sungguh Hera belum siap menerimanya. Diantara mereka tidak ada cinta sedikitpun. Mungkin belum. Karena tidak ada yang tau apa yang akan terjadi nanti. Tapi mungkinkah rasa cinta itu hadir di antara mereka? Rasanya sangat mustahil.


__ADS_2