
Seminggu sudah Deon mengurung Hera di kamar nya. Dan selama seminggu ini juga, Deon merawat Hera dengan penuh kasih sayang. Sebenarnya Hera sudah sehat semenjak dua hari yang lalu , namun Deon masih tak mengizinkan gadis itu untuk meninggalkan kamarnya.
Semua aktivitas mereka lakukan di kamar Deon. Makan, belajar, dan bermain. Untuk pakaian Hera, Deon meminta pelayan untuk mengantarkan ke kamar nya. Sedangkan untuk semua latihan, Deon sudah menghentikan nya untuk sementara agar dia bisa fokus menjaga Hera. Deon tak mengizinkan siapa pun menemui Hera secara langsung, apalagi ayahnya, Tuan Tama. Seperti nya Deon masih dendam pada ayahnya itu.
Sudah berulang kali Hera meminta kepada Deon agar di izinkan untuk kembali ke kamarnya dan kembali beraktivitas seperti biasa. Namun Deon selalu beralasan takut Hera terluka lagi, sembari menampilkan tampang sedih berlinang air mata. Tentu saja Hera tak sanggup menolak keinginan Tuan kecilnya kalau sudah begitu.
Namun pagi ini akhirnya Deon mengalah. Dia mengizinkan Hera untuk kembali beraktivitas seperti sebelumnya, dengan syarat Hera harus selalu dalam jangkauan penglihatannya. Tentu saja Hera merasa sangat bahagia. Dia merasa tidak enak hati pada pelayan yang lain, karena Deon memperlakukan nya seperti seorang nyonya rumah, padahal dia hanya pelayan biasa. Begitu pikirnya.
Mungkin Hera telah melupakan status awal saat dia sampai di rumah mewah ini. Pernikahan yang merenggut masa depan nya telah terlupakan begitu saja. Di gantikan dengan semangat kebahagiaan yang di dapatkan nya dari Deon, Tuan muda kecilnya.
"Pegang tangan ku!" Perintah Deon pada Hera.
"Ada apa? Apa tangan Anda sakit?" Tanya Hera khawatir.
"Kau mau keluar kan? Jadi pegang tangan ku, agar tidak ada yang menyakitimu lagi nanti."
"Itu tidak perlu Tuan muda. Saya sudah merasa aman meski Anda berjalan di depan saya." Ujar Hera sambil tersenyum.
"Pegang tangan ku atau kau tidak akan pernah keluar dari kamar ini selamanya." Ancam Deon kemudian. Anak kecil ini sangat pandai mengancam. Entah siapa yang mengajari nya.
"Baiklah." Hera lebih memilih untuk mengalah, daripada tidak bisa keluar.
__ADS_1
Mereka pun turun ke lantai satu untuk sarapan sambil bergandengan tangan. Dan tentu saja hal itu tak luput dari pandangan mata seseorang. Bukankah mereka pasangan yang serasi? Andai Deon benar-benar anak kandung Hera, dia pasti akan sangat bahagia.
Sesampainya di meja makan, mereka langsung di sambut oleh Tuan Tama. Kerutan di kening Tuan Tama terlihat jelas. Sudah seminggu mereka tidak pernah keluar kamar. Dan sekarang mereka turun sambil bergandengan tangan. Apa telah terjadi sesuatu pada mereka? Pikiran Tuan Tama jadi melayang kemana-mana. Ah tidak mungkin, Deon kan masih lima tahun, mana mengerti dia urusan orang dewasa. Mungkin Deon tidak mengerti tapi bagaimana dengan wanita itu? Pasti dia mengajari Deon yang bukan-bukan.
Tuan Tama asyik sendiri dengan pemikiran bodohnya. Matanya menatap Deon dan Hera bergantian, entah apa maksud dari tatapannya itu.
"Kenapa kau menatapku begitu?" Tanya Deon curiga.
"Apa telah terjadi sesuatu?"
"Seperti?"
"Sudahlah, lupakan!"
"Apa kau sudah menemukan orang yang meracuni ku?" Tanya Deon pada ayahnya.
"Perempuan itu bilang pelayan mu yang telah menyuruh nya." Jawab Tuan Tama sambil melirik tajam pada Hera.
"Ternyata dia setia juga. Kau sudah menyelidiki nya?"
"Sedang dalam penyelidikan."
__ADS_1
"Lambat." Gumam Deon, tapi masih bisa didengar Tuan Tama dengan jelas.
"Kau meremehkan ku?" Tanya Tuan Tama geram.
Tuan Tama langsung menghentikan sarapannya mendengar Deon yang meremehkan nya. Anak kecil itu sudah menghinanya. Jika itu orang lain, pasti saat ini Tuan Tama sudah menghabisi nya. Beruntung Deon adalah putra kesayangannya.
"Apa kau butuh bantuan ku untuk menyelidiki nya?" Tanya Deon dengan senyum sinis nya.
Tuan Tama tidak menjawab. Dia langsung berlalu begitu saja. Deon sangat menyebalkan. Bisa-bisanya bocah ingusan itu menghina ayahnya sendiri.
"Jika kau takut, kita bisa kembali ke kamar sekarang." Tanya Deon sambil menggenggam tangan Hera yang gemetaran.
Deon melihat Hera yang ketakutan saat bertemu ayahnya. Karena itu lah dia membuat ayahnya kesal dan pergi dari ruang makan tersebut.
"Tidak apa-apa, di sini saja." Ujar Hera mencoba menguatkan hati nya.
Jujur saja dia masih merasa trauma berhadapan dengan Tuan Tama. Rasa sakit saat Tuan Tama menampar nya waktu itu masih jelas di ingatan nya. Bukan nya dia dendam, tapi Tuan Tama sungguh sosok yang amat sangat menakutkan bagi Hera.
"Kau yakin?"
"Hm." Hera mengangguk dengan pasti. Tidak apa-apa, lagi pula Tuan Tama sudah pergi.
__ADS_1
Meski hari ini Deon telah mengizinkan Hera untuk kembali beraktivitas seperti biasa, namun Deon masih tidak mau mengikuti pelatihan yang biasa menjadi aktivitas rutin nya. Hari ini dia hanya ingin berjalan-jalan bersama Hera, meskipun hanya di sekitar pekarangan mansion. Dan jadilah mereka berkencan untuk yang kedua kalinya.