MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
25. MASAKAN SPESIAL


__ADS_3

Hari ini Tuan Tama pulang lebih awal dari biasanya. Dia hanya bekerja setengah hari di kantor, lalu membawa sisa pekerjaan nya pulang. Pikiran nya tak tenang. Selalu terbayang bagaimana nikmatnya nasi goreng spesial sarapan Deon tadi pagi.


Hari masih menunjukkan pukul dua siang. Masih lama untuk makan malam. Tapi perutnya sudah sangat kelaparan. Dia tidak makan siang sama sekali. Hanya karena seporsi nasi goreng yang di masak oleh seorang pelayan. Bukankah itu terlalu berlebihan? Tapi nyatanya Tuan Tama memang tersiksa karena menginginkan nya.


Aromanya seakan menarik alam bawah sadar Tuan Tama, memaksa dirinya untuk terus memikirkan makanan yang di masak oleh pengasuh Deon tersebut. Dia sudah mencoba memakan makanan yang lain, tapi penampakan makanan itu terus menari-nari di ingatannya.


Tidak bisa. Tuan Tama akan memerintahkan wanita itu untuk membuat kan untuk nya juga sebagai makan malam. Atau dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak malam ini.


Saat ini Tuan Tama tengah melanjutkan pekerjaannya. Dia terpaksa membawa pekerjaan nya pulang karena merasa kesal karena tak mendapatkan nasi goreng seperti buatan Hera. Meski telah mencari ke semua tempat yang menjual nasi goreng, nyatanya tak ada yang seperti buatan Hera.


Tuan Tama sudah tidak sabar untuk segera makan malam. Dia sudah memerintahkan Hera untuk memasak makan malam hari ini. Tentu saja bukan dia sendiri yang menyampaikan perintah tersebut kepada Hera, melainkan orang lain, yaitu Bu Laksmi, kepala pelayan di rumahnya.


"Suruh wanita itu yang memasak makan malam! Dia terlalu santai untuk seorang pelayan. Dan aku ingin ada nasi goreng juga. Sampaikan juga itu padanya!"


Saat ini matahari mulai beranjak meninggalkan singgasana nya, berjalan untuk menenggelamkan diri, untuk kemudian digantikan sang rembulan. Tuan Tama sudah bersiap untuk turun. Sebentar lagi waktunya makan malam. Dia benar-benar sudah tidak sabar.


Membayangkan nasi goreng spesial buatan Hera ada di hadapannya, dan siap untuk di santap. Hhhmm.... Sungguh nikmat sekali. Tuan Tama bahkan sampai senyum-senyum sendiri membayangkan hal tersebut.


"Tuan, makan malam sudah siap." Ujar salah seorang pelayan memberitahu.


Tuan Tama bergegas turun, tapi tetap dengan gaya elegan nya. Tidak mungkin dia memperlihatkan pada semua orang bahwa dia sudah tidak sabar memakan makanan yang di buat oleh Hera. Itu sangat memalukan dan menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang majikan.


Saat ini Tuan Tama sudah berada di meja makan, menunggu kedatangan sang putra untuk makan malam bersama. Matanya bergerak liar ke sana kemari, seperti mencari sesuatu.


"Kau mencari ini?" Tanya Deon muncul sambil membawa sepiring nasi goreng seperti yang tadi pagi di makannya.


Ketahuan lagi. Tuan Tama mencoba bersikap biasa saja, seolah menyangkal tuduhan yg di layangkan Deon padanya. Karena tak mendapat jawaban dari ayahnya, Deon menyimpulkan bahwa tuduhannya tadi salah.


"Bukan ya? Ya sudah kalau begitu."


Deon meminta Hera untuk menyuapinya kembali nasi goreng spesial buatan ibu sambung yang menjadi pengasuh suruhan ayahnya itu.

__ADS_1


"Hhhmm.... Enaknya."


Sepertinya anak kecil itu benar-benar sengaja menguji iman ayahnya. Lihat saja sekarang wajah Tuan Tama memerah menahan kesal di hatinya. Bukankah tadi dia sudah memesan di buatkan nasi goreng juga? Lalu sekarang dimana porsi untuk nya? Padahal dia sudah membayangkan bagaimana enaknya makanan yang tengah di nikmati putranya tersebut.


"Hera, sepertinya aku ingin makan ini setiap hari pagi, siang, malam." Ucap Deon sambil tersenyum manja pada pengasuhnya itu.


Lihatlah bagaimana bertingkah nya anak kecil ini. Ingin rasanya Tuan Tama memutilasi nya sekarang juga. Benar-benar sangat menyebalkan.


"Kau yakin tidak ingin mencicipi nya Dad? Ini sangat enak asal kau tau."


"Pelayan." Tuan Tama berteriak meluapkan emosi nya. Sepertinya Deon sengaja mengompori nya. Tidak mungkin dia memarahi putranya kan?


"Iya Tuan." Bu Laksmi datang menghadap Tuannya.


"Siapa yang memasak makanan ini? Mana pesanan ku?" Dengan penuh emosi Tuan Tama bertanya pada Kepala pelayan rumahnya.


"Itu semua masakan Nona Hera Tuan."


" Lalu pesanan ku mana? Apa kau tidak menyampaikannya?"


"Tapi apa? Jangan bertele-tele. Jawab!"


"Aku melarang nya." Ucap Deon menjawab rasa penasaran ayahnya.


"Kenapa kau melarangnya? Dia itu juga pelayan. Jadi tidak ada salahnya jika dia ikut memasak." Tuan Tama meluapkan kekesalan di hatinya.


"Dia sudah memasak makan malam, Dad. Apa kau tidak lihat semua hidangan di depan mu?" Tanya Deon tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Masih ada satu menu lagi yang belum di masak nya."


"Apa?"

__ADS_1


"Tanyakan sendiri padanya! Bukankah dia sudah diberitahu sebelumnya?"


"Apa kau sudah memasak semua yang di perintahkan Daddy?" Tanya Deon dengan lembut pada Hera.


"Sudah Tuan muda." Jawab Hera sambil terus menunduk. Dia sangat takut dengan kemarahan Tuan Tama.


"Jangan takut, ada aku. Ok?" Deon memberi kekuatan kepada wanita cantik kesayangannya.


"Kau dengar? Dia sudah memasak semua yang kau inginkan."


"Belum."


"Apa yang belum ada di sini?"


"Nasi goreng."


Ups... Tuan Tama keceplosan. Ketahuan kan kalau dia juga menginginkan nasi goreng yang sedang di makan Deon.


"Ini nasi goreng." Ucap Deon sambil menunjuk piring nya yang berisi nasi goreng buatan Hera.


Tuan Tama tidak mengatakan apapun lagi. Dia khawatir akan keceplosan lagi nanti nya.


"Jika kau mau, aku akan membaginya untuk mu. Tapi untuk memasak khusus hanya untuk mu, aku tidak mengizinkan nya. Dia hanya boleh membuatkan makanan spesial ini untuk ku saja." Terang Deon pada ayahnya.


Sudahlah.Tuan Tama akhirnya memutuskan untuk memakan menu lainnya saja. Bukan kah semua itu juga masakan Hera. Pasti rasanya juga sama-sama enak.


Sambil menahan kesal pada putranya yang sangat posesif terhadap pengasuhnya, Tuan Tama menikmati makan malam dengan menu yang berbeda dengan Deon. Baru satu suapan yang masuk kedalam mulutnya, namun suasana hatinya telah berubah lagi.


Enak. Ingin sekali Tuan Tama menyuarakan kata sakti itu. Tapi tak mungkin. Dia harus tetap berwibawa di depan putranya, apalagi di sana masih ada Hera.


Sambil tersenyum-senyum, Tuan Tama menikmati makan malam yang indah ini. Dia terlalu bersemangat memakan makanannya. Bahkan dia terlihat seperti orang yang tidak makan selama berhari-hari. Entah karena memang sudah sangat kelaparan, atau karena kenikmatan masakan yang di masak Hera.

__ADS_1


"Apa kau kerasukan? Kau seperti tidak makan berhari-hari." Tanya Deon. Dia terkejut melihat cara makan ayahnya. Sangat tidak berwibawa, berbeda dengan biasanya.


Namun Tuan Tama tidak menghiraukan ucapan putranya. Dia sangat menikmati makanannya. Benar kata Deon, masakan Hera memang sangat enak.


__ADS_2