
Hari-hari yang di jalani Hera terasa lebih berwarna semenjak dia menjadi pengasuh anak kecil berusia lima tahun tersebut. Deon benar-benar bisa membuatnya bahagia. Dia bahkan lupa bagaimana terluka nya dia saat pertama kali di bawa ke tempat ini. Lebih dari itu, Hera bahkan lupa pada suaminya, Adhitama Dharmendra.
Tuan Tama sudah hampir tiga bulan tidak pernah pulang ke mansion. Tempat tinggal Deon bersama semua pelayan yang di pekerjakan ayahnya. Seperti nya dia begitu sibuk belakangan ini.
Tuan Tama memutuskan tetap berada di negara K untuk mengusut tuntas kasus sabotase data perusahaan yang membuat perusahaannya di negara tersebut sempat failed. Beruntung semua nya bisa di kembalikan seperti sedia kala.
Meski begitu hingga saat ini data tentang orang yang menyabotase data perusahaan nya tak kunjung di dapatkan. Tuan Tama bahkan sampai membayar ratusan hacker yang katanya terbaik untuk bisa mengetahui data penyusup tersebut. Namun hasilnya nihil.
"Apa mungkin mereka orang yang sama?" Gumamnya pelan.
Jika diteliti baik-baik, mereka memiliki kesamaan. Yaitu sama-sama tidak terlacak oleh anggota nya. Dan yang mereka lakukan hanyalah mempermainkan emosinya saja. Mereka menyabotase data perusahaan dan membuat perusahaan failed. Tapi saat dia sampai di negara ini, semuanya bisa di kembalikan ke posisi semula dengan mudah. Bahkan para investor yang semula menarik sahamnya, kembali menanamkan sahamnya lagi, bahkan dengan jumlah yang lebih tinggi. Itu artinya mereka hanya menginginkan kedatangan Tuan Tama. Tapi untuk apa? Mereka bahkan tak bertemu sama sekali.
Tuan Tama tak lagi gencar melakukan pencarian terhadap musuh yang baru-baru ini mengusiknya. Biarlah semua terjadi sebagaimana mestinya. Kalaupun mereka ingin datang dan mengusiknya lagi, terserah. Tuan Tama tak ingin dibuat pusing lagi oleh orang-orang misterius itu. Bukan berarti dia mengaku kalah. Tentu saja dia masih berusaha untuk membuat pertahanan baru yang jauh lebih kuat, untuk melindungi dirinya, Deon, dan semua aset-asetnya. Dan jika mereka melakukan penyerangan, dia akan menerima nya dengan senang hati.
Meskipun dalam tiga bulan ini dia bisa mengembalikan keadaan perusahaannya di negara K seperti sedia kala. Bukan berarti hidupnya bisa tenang. Selalu ada saja yang berusaha mengusiknya, namun tak terlalu merugikan dirinya.
"Tuan, ada undangan untuk Anda." Ucap Defan sambil menyodorkan sebuah undangan.
Tuan Tama menatap heran kertas undangan di tangannya. Siapa yang mengiriminya undangan seperti ini? Kertas hitam dengan tinta emas. Tak ada nama dan alamat pasti pengirim nya. Hanya ada inisial "B_S".
__ADS_1
"Siapa yang mengirimkan undangan ini?" Tanya Tuan Tama.
"Saya juga tidak tau Tuan. Begitu saya sampai undangan itu sudah ada di meja saya." Ujar Defan menjelaskan.
"Cari tau siapa pengirimnya!" Perintah Tuan Tama.
"Baik Tuan."
Defan langsung pamit undur diri setelah menyerahkan undangan pada Tuan Tama. Dia bergegas mencari tau siapa pengirim undangan tersebut, sesuai perintah yang Tuan Tama berikan.
To: Adhitama Dharmendra
Kami mengundang kelompok mafia ELANG MERAH untuk menghadiri acara pertemuan persahabatan sesama kelompok mafia.
B_S
Tuan Tama tersenyum sinis membaca tulisan yang tertera di undangan tersebut. Sejak kapan ada acara pertemuan persahabatan antara sesama mafia? Yang ada mereka saling menjatuhkan agar bisa dapat status yang lebih tinggi dan di takuti oleh kelompok lainnya. Memang ada beberapa kelompok yang saling bekerja sama, namun pasti ada keuntungan di balik itu semua.
"Tuan." Defan datang melaporkan informasi tentang undangan yang di serahkan nya pada Tuan Tama tadi.
__ADS_1
"Bagaimana?"
"Tidak ada yang datang mengantar kan undangan dalam satu Minggu ini Tuan. Dan juga, tidak ada tamu yang datang mencari Anda beberapa hari ini."
"Lalu darimana datangnya undangannya ini?"
"Saya sudah memeriksa CCTV, tapi tidak ada orang lain yang datang ke lantai ini."
"Petugas kebersihan?"
"Saya juga sudah memeriksa nya Tuan. Mereka tidak terlibat sama sekali."
Tuan Tama hanya bisa menghela nafas malas mendengar laporan asistennya tersebut. Lagi. Mereka berulah lagi. Sebenarnya apa yang mereka inginkan? Mereka selalu mengusik ketenangan nya. Tuan Tama lebih memilih untuk berperang daripada harus main kucing-kucingan seperti ini.
"Abaikan saja, dan perketat penjagaan! Jangan sampai ada penyusup lagi." Perintah Tuan Tama.
"Baik Tuan."
Sedangkan di tempat lain seseorang tengah tersenyum sinis menatap layar ponselnya.
__ADS_1
"Berani sekali kau mengabaikan ku. Dasar sombong."