
Hera keluar dari kamar mandi untuk kedua kalinya. Kali ini dia bukan mandi melainkan mengganti pakaiannya. Beruntung semua pakaiannya sudah di ganti menjadi baju panjang dan celana panjang sesuai saran dokter Jeremy waktu itu. Jadi kali ini pakaiannya sangat sopan dan tidak akan mengganggu penglihatan siapa pun.
"Aaaaa." Hera terkejut melihat Tuan Tama yang tiba-tiba sudah ada di dalam kamarnya. Mendadak kenangan pelecehan yang di alaminya dulu muncul kembali di ingatannya.
Tuan Tama melihat Hera yang ketakutan pun memutuskan untuk duduk.
"Apa kau akan mengabulkan keinginan Deon?" Tanya Tuan Tama.
"Ke-keinginan yang mana Tuan?" Tanya Hera sambil terbata-bata. Dia tidak mengerti maksud Tuan Tama.
"Kau sungguh ingin bercerai?"
Hera menatap wajah tampan pria yang telah menikahinya beberapa bulan yang lalu. Seorang penguasa yang telah membeli kehidupan nya, dan membawanya bertemu seorang malaikat kecil yang sangat menggemaskan. Hera tidak tau apakah dia harus bersedih atau justru bersyukur.
"Kau ingin bercerai?" Tuan Tama mengulangi pertanyaannya karena tak kunjung mendapat jawaban dari Hera.
"Itu.... Bagaimana caranya saya mengajukan perceraian, jika berumahtangga saja tidak pernah?" Hera menunduk sedih menyembunyikan kesedihannya. Mengingat nasib malang yang selalu mengikutinya kemanapun.
Tuan Tama tersentak mendengar jawaban Hera. Apalagi sekarang gadis cantik itu tengah bersedih. Ada keinginan dalam dirinya yang menginginkan untuk mendekap gadis malang tersebut. Namun itu pasti akan menakuti nya lagi. Dan Tuan Tama tidak ingin itu terjadi.
"Apa yang kau inginkan?"
"Tidak ada. Saya hanya ingin menjalani kehidupan saat ini dengan tenang. Hingga akhirnya nanti saya harus pergi dari dunia ini."
Hera bukan menyerah. Namun dia lelah untuk berharap. Semua harapannya selalu direnggut paksa oleh keadaan. Akhirnya dia hanya akan menjalani apapun yang diperintahkan padanya.
"Tidurlah!"
__ADS_1
Tuan Tama berjalan pergi meninggalkan kamar Hera. Namun sebelum benar-benar pergi, Tuan Tama sempat berpesan.
"Bersiaplah untuk liburan! Sampaikan pesan itu kepada Deon!" Perintahnya.
"Baik Tuan."
Hera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia baru berani bergerak setelah Tuan Tama pergi dari kamarnya.
"Memangnya aku bisa meminta cerai? Astaga, kenapa tidak kutanyakan saja tadi padanya?" Hera merutuki kebodohannya sendiri.
"Tidak akan ada yang berubah. Sudahlah, lebih baik aku tidur. Besok aku harus mempersiapkan Tuan muda untuk liburannya. Aahhh... Pasti menyenangkan sekali."
***
Keesokan harinya, Hera bangun lebih awal dari biasanya. Pukul lima pagi dia sudah ke kamar Deon untuk menyiapkan segala keperluan nya untuk liburan nanti.
"Hera, kaukah itu?"
"Tuan muda, maaf membangunkan Anda." Hera merasa bersalah karena telah mengganggu tidur Deon. Padahal dia sudah berusaha untuk melakukannya sepelan mungkin. Tapi Deon memang sangat sensitif terhadap suara. Mungkin itu bawaan. Entahlah.
"Apa yang kau lakukan? Untuk apa koper itu?" Tanya Deon bingung.
"Tuan Tama bilang bahwa Tuan muda akan berlibur dengannya. Jadi saya mempersiapkan segala keperluan Anda selama liburan nanti." Terang Hera menjawab rasa penasaran Deon.
"Liburan? Daddy tidak bilang apapun padaku."
"Semalam Tuan Tama berpesan kepada saya untuk menyampaikan kepada Tuan muda."
__ADS_1
"Baiklah."
Deon kembali memejamkan matanya, dia masih mengantuk.
"Aku akan tidur sebentar lagi." Deon berkata dengan mata yang masih tertutup.
"Silahkan Tuan muda!"
Deon kembali melanjutkan tidurnya dan bangun pukul 6 pagi seperti biasa. Hera dengan cekatan mengurus segala keperluan Tuan mudanya itu.
Setelah selesai bersiap, mereka pun turun untuk sarapan. Namun mereka tak mendapati apapun di sana. Tak ada Tuan Tama yang biasa menunggu putranya untuk sarapan. Bahkan meja makan itupun kosong. Apa mereka sudah sangat terlambat untuk sarapan?
"Tuan muda, bisakah kita berangkat sekarang?" Tanya Defan yang tiba-tiba muncul untuk menjemput Deon.
"Mana Daddy?"
"Tuan sudah berangkat lebih dulu ke bandara." Jawab Defan.
"Baiklah, ayo!" Ajak Deon kepada Hera.
"Saya akan menunggu di sini saja Tuan muda." Jawab Hera canggung. Tidak mungkin Tuan Tama mengizinkannya untuk ikut liburan. Ini hanya liburan antara ayah dan anak, majikannya.
"Nona, Anda juga diminta untuk ikut!"
Hera terkejut mendengar penuturan Defan. Ikut? Liburan dengan kedua majikannya? Benarkah?
"Ini perintah langsung dari Tuan Tama." Ucap Defan kemudian.
__ADS_1