
Hari ini cuaca di negara x sangat indah, mentari bersinar terang. Deon sudah tidak sabar untuk bermain di luar.
"Hera cepatlah!" Teriak Deon yang sedang menunggu Hera bersiap. Mereka akan pergi berjalan-jalan. Tuan Tama dan Defan juga akan ikut. Tapi mereka menyusul kemudian, karena Tuan Tama ada janji temu dengan salah seorang kolega bisnisnya.
"Baiklah, ayo!" Ajak Hera sembari mengulurkan tangannya untuk di gandeng Deon.
"Apa kau Hera?" Tanya Deon. Dia terpana akan kecantikan ibu sambungnya ini. Meski terlihat simpel dan sederhana, namun tak mengurangi kecantikannya.
"Tentu saja ini saya Tuan muda. Memangnya siapa lagi?" Tanya Hera bingung.
"Hera, kau benar-benar bukan seorang bidadari?"
"Tentu saja bukan Tuan muda. Mana ada bidadari yang jadi pelayan?" Hera merasa gemas melihat tingkah Tuan mudanya itu.
"Sudahlah, lupakan saja. Ayo kita pergi!" Tiba-tibadi dalam otaknya terbersit sebuah niat jahat.
Pasangan beda generasi Deon dan Hera berjalan bergandengan tangan. Sangat jelas terlihat raut kebahagiaan di wajah mereka. Jika Hera merasa senang karena akhirnya bisa menghirup udara bebas di luar mansion mewah Tuan Tama. Lain halnya dengan Deon. Bocah tampan itu tengah bahagia dengan rencana licik yang terbersit di otak kecilnya.
Deon membawa Hera menuju sebuah pusat perbelanjaan yang tak terlalu jauh dari hotel tempat mereka menginap. Mereka keluar masuk butik untuk berbelanja. Bukan Hera, melainkan Deon. Bocah itu selalu membeli apapun yang dirasanya bagus dan cocok untuk Hera. Jika Hera menolak, maka Deon akan membeli semua benda yang ada di sana yang sesuai dengan ukuran tubuh Hera.
"Hera, apa kau lelah? Bagaimana kalau kita mencari restoran untuk makan sekaligus beristirahat?" Tanya Deon.
"Tentu saja Tuan muda." Hera setuju dengan saran Deon. Karena sejujurnya dia pun sudah cukup lelah. Beruntung semua belanjaan yang di beli Deon sudah di bawa salah seorang pengawal yang bertugas menjaga mereka.
Setelah sampai di sebuah restoran yang sangat mewah, Deon memesan beberapa menu untuk nya dan juga Hera. Karena gadis itu tidak tau harus memesan apa. Dia belum pernah memakan makanan restoran mewah seperti ini sebelumnya. Dia terbiasa dengan masakan rumah yang sederhana.
"Aku akan ke toilet sebentar." Ucap Deon sembari turun dari tempat duduk nya.
"Saya akan mengantar Anda Tuan muda." Kata Hera menawarkan diri.
"Tidak perlu. Kau tunggulah di sini! Sebentar lagi makanan kita sampai. Aku hanya sebentar." Deon telah berlalu meninggalkan Hera yang kebingungan di tempat duduknya.
"Apa tidak apa-apa membiarkannya pergi sendirian?" Hera bertanya-tanya dalam hati. Dia khawatir akan terjadi sesuatu pada Deon. Dan jika itu sampai terjadi, Tuan Tama pasti tidak akan mengampuninya.
"Permisi." Pelayan datang membawa pesanan Deon, dan menghidangkannya di atas meja. Hera terkejut melihat banyaknya makanan yang di pesan Tuan mudanya itu.
"Siapa yang akan menghabiskan semua makanan ini?" Gumam Hera pelan.
"Tentu saja kita. Siapa lagi?" Ujar Deon mengagetkan Hera.
"Kita?"
__ADS_1
"Sudahlah. Ayo kita makan! Aku sudah lapar."
Hera menawarkan diri untuk menyuapi Deon, tapi bocah itu menolak dengan alasan dia sudah cukup besar untuk makan sendiri. Lalu yang kemarin-kemarin itu apa? Dia bahkan masih di suapi saat mereka sarapan di dalam pesawat. Dan sekarang dia mengaku telah cukup besar. Sungguh luar biasa.
"Hera ini enak, cobalah!"
"Makan yang ini juga!"
"Kau harus merasakan yang ini."
Hera kewalahan, beberapa makanan telah bertumpuk di piringnya. Dan Deon memaksanya untuk menghabiskan semua itu.
"Boleh aku bergabung? Semua meja di sini sudah penuh." Ucap seseorang yang tiba-tiba saja menghampiri meja mereka.
Deon melihat sekeliling, dan memang benar bahwa semua meja telah terisi penuh.
"Tentu saja. Silahkan duduk!" Ucap Deon mempersilahkan pria asing itu duduk.
"Nama ku Zack, siapa namamu?" Tanya pria tersebut kepada Hera. (Anggap aja mereka pakai bahasa Inggris ya gaessss)
"Hera." Jawab Hera singkat.
"Terima kasih."
Obrolan mereka masih berlanjut hingga semua hidangan habis. Ternyata Zack juga orang Indonesia, namun dia sudah lama menetap di negara X. Banyak hal yang mereka bahas, bahkan sesekali mereka juga tampak saling melempar tawa. Bagi yang tidak tau, akan menilai mereka sebagai sebuah keluarga kecil yang sangat harmonis dan bahagia.
***
Sementara di tempat lain, Tuan Tama tengah mati-matian menahan emosi agar tidak meluap. Beberapa pesan yang di terimanya membuat hatinya tidak tenang.
"Tidak bisa. Aku harus segera pergi dari sini."
Tuan Tama di paksa oleh koleganya untuk makan siang bersama. Karena itulah dia jadi terlambat menghampiri Deon dan Hera. Dan sekarang dia menyesali keputusannya untuk datang menemui koleganya tersebut. Harusnya dia memerintahkan Defan saja untuk menemui orang itu.
Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu Tuan Tama pun datang. Pertemuan mereka telah berakhir. Dia langsung berangkat menemui anak dan istrinya.
"Dalam lima menit kita sudah harus sampai di tempat mereka."
"Ha?" Defan terkejut mendengar perintah tak masuk akal Tuan Tama.
"Kau tidak mendengar apa yang ku katakan?"
__ADS_1
"Baik Tuan." Daripada berdebat, lebih baik di turuti saja.
"Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi." Defan berdoa dalam hati.
Meski telah melaju dengan kecepatan tinggi, Tuan Tama masih saja memarahinya.
"Kenapa kau membawa mobil seperti siput? Apa kau tidak tau bagaimana cara mengemudi?"
"Cepatlah bodoh!"
"Kenapa kau lama sekali Defan?"
"Aku akan membunuhmu jika kau sampai terlambat."
Disepanjang perjalanan Tuan Tama tak ada henti-hentinya memaki Defan. Ingin rasanya Defan balik meneriaki atasannya itu. Tapi tidak mungkin. Dia tidak seberani itu.
Begitu sampai di depan restoran tempat Deon dan Hera berada, Tuan Tama langsung melompat turun meski kendaraannya masih terus melaju untuk mencari parkiran. Dia sudah tidak sabar segera bertemu anak dan istrinya.
Dari kejauhan Tuan Tama mendengar Deon bicara pada orang asing.
"Paman, apa menurutmu Hera cantik?"
"Sangat cantik."
"Apa kau menyukainya?"
"Siapapun yang melihatnya akan jatuh hati."
"Apa kau mau menikahinya?" Hera benar-benar merasa malu sekarang.
"Jika nona Hera tidak keberatan, dan Tuan muda mengizinkan, kenapa tidak?"
"Bagaimana menurut mu Hera?"
"Tidak." Teriak Tuan Tama. Dia menolak mentah-mentah keinginan anaknya itu.
Semua mata kini tertuju pada ayah satu anak tersebut. Respon Tuan Tama cukup mengejutkan bagi Hera, namun tidak begitu bagi beberapa orang.
"Dia tidak bisa menikah dengan orang lain lagi. Karena dia sudah menikah saat ini." Ujar Tuan Tama. Sorot matanya menunjukkan permusuhan yang nyata pada laki-laki yang telah berani menggoda wanita yang sudah di nikahinya terlebih dahulu.
"Apa Anda suaminya?"
__ADS_1